Deadline!
Setelah berminggu-minggu aku tidak memposting apapun di blog ini, aku berniat untuk menuliskan sesuatu mengenai topik yang lebih menyenangkan dan baru. Tapi, aku tak memiliki topik apapun selain deretan deadline tugas di belakangku yang makin hari terasa makin dekat.
Aku sedang tenggelam dalam tugas-tugas perkuliahan. Dan untuk mengisi blog ini dengan topik yang baru aku akan mengingat-ingat sejenak kejadian yang menarik yang bisa kutuliskan di sini.
Oh, benar. Aku akan bercerita mengenai teman.
Sebelumnya aku ingin menyebutkan tiga orang teman yang akhir-akhir ini cukup dekat denganku dan sering menghabiskan waktu bersama.
Jadi, sebenarnya aku sudah bertemu dengan mereka sejak awal masuk kelas ketika masih mahasiswa baru dulu di tahun 2014. Itu adalah saat-saat dimana aku dan semua orang di kelas masih bertampang polos, masih sering ribut hanya karena ada tambahan satu tugas (sekarang masih sering ribut juga, sih, perkara tugas), masih pada takut bolos dan datang terlambat ke kelas, dan masih ... pokoknya masih jadi mahasiswa yang lebih tertib dan takut deadline, lah.
Sekarang? Nggak begitu juga, sih. Sudah mahasiswa tua juga soalnya. Dikejar deadline sudah jadi makanan sehari-hari.
Aku masih ingat betul di hari pertama aku masuk kelas, waktu itu hari Senin dan mata kuliah pertama dalah Dasar-dasar Arkeologi, dan aku duduk di baris pertama paling pinggir. Di belakangku, duduk di sebuah kursi di dekat tembok, ada seorang perempuan yang pendiam. Dia diam saja di situ. Sibuk dengan ponselnya. Rambut panjangnya tergerai. Aku menoleh-noleh sejenak ke arah lain dan mendapati rata-rata orang di dalam kelas ini memang saling diam karena, well, we're new students in there without knowing each other before.
Awalnya aku ragu, tetapi kemudian aku mengulurkan tangan untuk mengajak perempuan di belakangku bersalaman. Kusebutkan namaku dan ia menyebutkan namanya. "Putri," katanya perlahan. Dan barangkali karena malu ia melanjutkan kesibukannya lagi. Aku dicuekin.
Wait a secon. Ini kenapa ceritanya seperti aku yang sedang melakukan PDKT?
Whatever-lah. Lanjut.
Nah, itu awalnya aku kenal dengan Putri. Salah satu teman dekatku saat ini.
Ada dua orang lagi yang aku bahkan tidak ingat kapan dan bagaimana aku pertama kali kenal dengan mereka. Namanya Dhita dan Tita. Dan mereka tidak kembar. Terlalu jauh kemiripan antara keduanya untuk disebut kembar.
Ketiga orang ini, seingatku menjadi teman dekat sejak .......
Tunggu dulu biar kuingat-ingat.
(Ya, Tuhan. Cuaca di sini panas sekali!)
Oh, kalau tidak salah sejak semester tiga atau semester empat awal yang lalu. Awalnya aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku menjadi akrab dengan mereka. Karena sebenarnya aku juga akrab dengan semua teman di kelasku. Meski aku cenderung menutup diri di awal-awal semester yang lalu karena aku memang butuh waktu lebih lama untuk membuka diri. Kemudian aku menyadari bahwa faktor yang mendorong kami bisa lebih akrab adalah adanya kesediaan dari masing-masing kami semua untuk memahami satu sama lain, mendengarkan keluh kesah masing-masing, memberikan solusi atau nasehat yang dibutuhkan, dan saling membantu satu sama lain.
Kurasa, memang seperti itulah seharusnya teman itu.
Sebenarnya tidak hanya dengan mereka bertiga saja. Tetapi juga dengan semua orang di kelas, aku mencoba akrab dan berteman dengan semuanya. Namun, memang keakraban dengan seseorang itu didorong oleh beberapa hal. Beberapa di antaranya yang paling jelas adalah faktor kenyamanan dan persamaan prinsip. Bukan berarti aku tidak nyaman dengan teman-temanku yang lain. Aku nyaman dengan mereka semua dan mereka semua juga menerimaku apa adanya. Tapi, untuk membagi hal-hal tertentu bukankah kita cenderung melakukannya pada orang-orang yang paling kita percaya dan yang paling nyaman?
Aku tidak pernah menceritakan beberapa hal mengenai diriku dan mengenai apa yang membuatku terkadang galau berlarut-larut dengan sembarang orang. Bagiku tidak semua orang harus tahu. Tapi, ketika aku sudah nyaman dan percaya dengan seseorang aku akan membicarakan banyak hal yang ingin kubicarakan dan kuungkapkan.
Kembali ke perkara 'teman' tadi. Sejauh ini, mereka adalah teman-teman yang baik. Aku tidak bisa membaca bagaimana perasaan setiap orang dan penilaian mereka terhadapku yang sebenarnya. Aku tidak tahu bagaimana mereka selama ini menerimaku atau bagaimana perasaan mereka ketika berteman denganku. Bagiku, sejauh mereka bersikap baik padaku dan memberikan pengaruh positif aku akan menerima mereka. Lagipula untuk apa kita berteman dengan seseorang yang hanya memberikan pengaruh negatif kepada diri sendiri? Tidak baik untuk moral sendiri, bukan?
Aku cukup sering tahu bagaimana dalam satu kelompok yang terlihat begitu dekat, menyebut diri mereka sendiri adalah teman bagi yang lain, tetapi kemudian pertemanan mereka goyah hanya karena masalah sepele atau karena suatu hal yang menurutku cukup kekanakan. Aku juga cukup sering melihat seseorang yang mendaulat dirinya sebagai teman dari orang lain tetapi rupanya ia berteman hanya untuk memanfaatkan orang lain itu. Aku juga sering mendengar ada seseorang yang membicarakan keburukan temannya di belakang temannya sendiri. Aku juga cukup sering tahu ada seseorang yang meninggalkan teman lamanya hanya karena lebih nyaman atau lebih beruntung jika berteman dengan orang baru.
Hal-hal seperti itu sering terjadi di lingkungan sosial kita. Dan terkadang kita bisa melihatanya sendiri secara jelas. Sementara orang yang dirugikan oleh seseorang yang mengatakan pada orang tersebut bahwa ia temannya, tidak merasa terugikan sama sekali.
Aku juga pernah bertemu seseorang yang mau-maunya saja bertahan untuk
dimanfaatkan hanya karena takut kehilangan seseorang sebagai temannya.
Padahal orang-orang semacam itu tidak bisa disebut teman. Mereka bukan golongan orang-orang yang bisa kalian akrabi, bukan golongan orang-orang yang menjadi tempat kalian berkeluh kesah, bukan pula golongan orang-orang yang menerima kebaikanmu secara berlebihan. Mereka hanyalah seseorang yang kehadirannya cukup kau sadari dan seseorang yang sebaiknya cukup kau kenal saja. Tapi untuk menjadi teman? Menurutku, seorang teman bukanlah orang yang mau memanfaatkan orang lain demi kepentingannya apalagi sampai membicarakan keburukanmu di belakangmu.
Aku sudah beberapa kali mengatakan rasa syukur karena telah dipertemukan dengan orang-orang yang tulus menerimaku. Orang-orang yang layak kusebut sebagai teman. Aku pernah berteman dengan seseorang yang ternyata hanya memanfaatkanku saja, dengan seseorang yang memusuhiku hanya karena hal sepele, atau dengan seseorang yang membicarakan keburukanku di belakangku. Aku mengambil pelajaran dari itu semua. Dan hal tersebut membuatku cukup selektif dalam memilih manakah orang yang bisa kupercayai dan kusebut teman dan manakah yang tidak.
Well, kurasa itulah catatanku mengenai teman. Lain kali aku ingin membahas beberapa hal mengenai semua temanku di kelas dimana aku menghabiskan waktu hampir tiga tahun bersama mereka. Apa saja kelakukan gila, pengalaman menyenangkan, perilaku aneh orang-orang yang memang freak, atau hal-hal lainnya.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca catatanku ini. Akan kuusahakan untuk membuat catatan baru tanpa jeda yang cukup lama.
I love you all!
The Introvert Thinker adalah blog yang berisi tulisan-tulisan seputar opini dan diary dari penulisnya yang memang introvert. Akan ada beberapa tulisan yang muncul dari telur-telur ide yang kebetulan terlintas dan ingin dituliskan oleh pemilik blog ini. Apapun itu. Yang paling penting, blog ini adalah media untuk pemiliknya memposting tulisan-tulisannya yang memang ingin dibaca banyak orang, sesedehana apapun tulisannya. Enjoy reading :)
Rabu, 19 Oktober 2016
Senin, 29 Agustus 2016
Seorang Introvert dan Perbedaan di Luar Sana Bagian 2
Sudah berlalu dua minggu sejak terakhir aku menulis catatan di sini. Setelah aku melihat lagi beberapa catatanku, ternyata aku sudah membuat catatan yang cukup banyak sejak aku membuat blog ini hampir setengah tahun yang lalu. Bagiku ini adalah sebuah pencapaian besar ketika aku bisa konsisten menulis, kemudian mengunggahnya di internet, dimana kesempatan agar catatanku dibaca banyak orang lebih memotivasiku untuk terus membuat catatan.
Awalnya, aku
cenderung tertarik untuk menulis kisah-kisah fiksi dimana hampir 90%-nya adalah
fiksi bergenre romansa. Kisah-kisah itu kemudian kuunggah dalam akun
wattpad-ku. Namun hingga saat ini catatan-catatan itu tak memiliki kemajuan.
Rupanya suasana hati yang mudah bosan belum sepenuhnya hilang dari dalam diriku.
Itu sebabnya aku berpikir bahwa menulis catatan-catatan random dengan topik
yang berubah-ubah dan sesuai suasana hati semacam ini barangkali lebih cocok
untuk kutekuni.
Tapi tidak
menutup kemungkinan bahwa aku akan menyelesaikan semua kisah-kisah fiksi yang
masih berupa draft yang terabaikan. Aku merasa memiliki tanggung jawab untuk
menuntaskannya. Jadi, untuk kalian yang sempat membaca kisah-kisah fiksi
karangan Warapam di Wattpad barangkali bisa sedikit memaklumiku. Hahaha…
Oke. Kali
ini, sesuai judulnya, aku ingin membahas tentang pengalamanku tinggal dengan
seorang teman yang memiliki banyak perbedaan denganku, khususnya dari segi
etnis dan religi.
Aku pernah
menyebutkan di catatanku yang lama tentang perbedaan di luar sana dimana aku
cukup tertarik dengan budaya-budaya di luar sana yang berbeda dengan budayaku
sendiri. Kali ini, di saat aku memasuki hari-hari menjadi seorang mahasiswa,
rupanya kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang multietnis terbuka
begitu saja.
Secara garis
besar catatan ini akan berisi tentang beberapa hal yang berkaitan
dengan temanku yang berbeda etnis denganku. Bukan bermaksud untuk rasis, tapi
justru sebaliknya, hal ini membuatku senang. Karena aku menemukan hal-hal baru
dan aku merasa bahwa aku tinggal di sebuah dunia yang besar, dengan ragam
penduduk dan etnis yang besar dan unik pula, dan aku terdorong untuk
mengetahuinya satu demi satu.
Tapi mungkin
aku akan menggunakan nama samaran di dalam catatan ini karena aku secara resmi
tidak meminta izin darinya untuk menuliskan beberapa hal tentangnya di sini.
Lagipula … mungkin ia tidak akan setuju karena sebenarnya ia orang yang agak tertutup.
Meski sebenarnya ketika aku sudah mengenalnya dengan begitu baik ia tidak
benar-benar setertutup ‘itu’.
Jadi, temanku
ini bernama (sebut saja) April. Dia berasal dari sebuah daerah di Manggarai
Timur, Flores. Awal aku mengenalnya aku sudah begitu excited karena … siapa
pula yang tidak excited bertemu dengan teman baru dari daerah yang berbeda?
Selain itu, aku seperti biasa selalu dipenuhi rasa ingin tahu tentang segala
sesuatu yang berhubungan dengan budayanya serta kehidupan masyarakat tempatnya
tinggal. Sebenarnya, bukan cuma aku saja yang ingin tahu tentang hal tersebut.
Beberapa temanku juga merasa ingin tahu, dan April akan dengan senang hati
menjelaskan.
Satu hal yang
aku kagumi dari dia adalah meski dia berasal dari daerah yang secara kultur
berbeda dengan aku dan teman-temanku, serta memiliki jarak tempuh yang cukup
jauh, dia begitu bangga dengan daerah dan budayanya. Kami, bisa dibilang hampir
tiap malam, berbicara mengenai beberapa hal mengenai daerahnya. Dan ia dengan
dipenuhi semangat akan dengan senang hati mengisahkan beberapa hal mengenai
daerah tempat tinggalnya. Sesekali kami akan tertawa bersama ketika saling
berbincang.
Secara fisik,
April memang berbeda denganku. Tentu saja karena secara etnis kami berbeda. Dan
baik aku maupun dia cukup nyaman dengan perbedaan ini.
Secara kultur
kami juga memiliki perbedaan dan kisahnya sendiri-sendiri. Banyak hal yang aku
tahu mengenai lingkungan tempatnya berasal dari kisahnya sendiri. Bagaimana
karakter orang-orang di kampungnya, bagaimana hidup masyarakat di sana,
bagaimana mata pencahariannya, dan keunikan-keunikan lain yang belum pernah
kubayangkan.
Semakin ia
sering bercerita mengenai kampungnya, mengenai keluarga, dan masyarakat di
sekitar tempat tinggalnya, semakin aku ingin mengunjungi daerah tempatnya
tinggal. Semakin ia bercerita banyak hal denganku mengenai tradisi, kehidupan
sosial, dan budaya daerahnya membuatku semakin ingin tahu.
April
menunjukkan karakter masyarakat dari daerahnya dengan cara yang unik dan
menyenangkan. Seperti yang kita ketahui bahwa karakter orang-orang dari
Indonesia bagian timur mayoritas adalah orang yang tegas. Hal ini terlihat
tentang bagaimana guru-guru dan orang tua di daerah tempat tinggal April juga
memiliki karakter tegas.
Di sisi lain,
April juga menunjukkan bagaimana kehidupan bermasyarakat di kampungnya terasa
begitu menarik ketika ia bercerita bagaimana ketika ia pulang kampung setelah
satu tahun menghabiskan waktunya sebagai mahasiswa di Jawa. April bercerita
bahwa untuk sampai ke kampungnya ia harus menaiki minibus selama sekitar 8 jam
dari bandara di Labuan Bajo. Itupun minibusnya hanya bisa mengantarnya sampai ke gerbang
kampung. Untuk sampai ke tempat tinggalnya ia masih harus berjalan kaki
beberapa menit. Satu hal yang sangat unik adalah ketika ia bercerita bahwa
ketika ia pulang, tetangga-tetangganya satu kampung akan menjemputnya dan membawakan
beberapa tas dan kopernya. Rasa kekeluargaan dan kehangatan bisa begitu jelas
kubayangkan.
Dari
kisah-kisah April aku selalu membayangkan bahwa lingkungan tempatnya tinggal
pasti menyenangkan. Dengan orang-orang di sekitarnya yang masih memegang teguh
kekeluargaan, orang-orang yang ramah, dan masih saling membantu sama lain.
Tinggal
dengan April selama satu tahun di atap yang sama, tidur di tempat yang sama,
serta berbagi banyak hal membuatku cukup nyaman. Selain perbedaan etnis, kami
juga berbeda secara religi. Aku seorang muslim, dan ia Katolik. Sebagai
sama-sama anak rantau yang jauh dari rumah masing-masing, kami cukup sering
saling mengingatkan untuk melakukan ibadah. Kami juga cukup menghormati satu
sama lain. Dan tiap malam ketika akan beranjak tidur, ketika aku sedang
melakukan sembahyang Sholat Isya’ menghadap ke barat, ia melakukan sembahyang
tepat di sampingku menghadap ke timur. Ia juga cukup sering bertanya, “Kamu
nggak sholat?” dan pertanyaan itu secara tidak langsung telah mengingatkanku
untuk tidak lupa melakukan ibadah.
Barangkali
kesamaan di antara kami adalah rasa ingin tahu antara satu sama lain. Kami
cukup sering membicarakan banyak hal terkait budaya, tradisi, dan mungkin agama
antara satu sama lain. Dan sejauh yang kami tahu kami cukup menikmatinya. Bukan
untuk mencari mana yang lebih baik, tapi untuk merasakan bahwa perbedaan di
dunia ini banyak dan perbedaan itu rupanya membuat kami saling menghargai satu
sama lain. Begitulah pertemanan kami berlangsung hingga saat ini.
Karena kami
sama-sama mengambil jurusan sejarah di kelas yang sama, kami tentunya belajar
banyak hal di lingkup sejarah. Aku merasa bahwa belajar sejarah benar-benar
membuat kita bisa melihat banyak aspek dari dimensi waktu dan tempat yang
berbeda-beda. Belajar sejarah membuat perbedaan kami seolah-olah terdobrak.
Sebagai seorang beretnis Jawa yang belajar sejarah, aku melihat banyak sekali
budaya-budaya dan etnis-etnis yang menarik untuk dipelajari. Aku tertarik untuk
mempelajari segala budaya yang ada di Indonesia dan dunia. Sebagai seorang
Muslim yang belajar sejarah, aku juga paham bagaimana perkembangan agama-agama
lain baik di Indonesia dan dunia, entah itu kepercayaan animisme-dinamisme dan agama-agama
lain.
Barangkali
rasa ingin tahu April mengenai perbedaan di dunia ini bisa sama besarnya
denganku. Ketika aku banyak mendapat informasi darinya, ia tak kalah ingin tahu
juga. Aku dan temanku pernah membantunya belajar Bahasa Jawa dan ia cukup
antusias. Dan beberapa kali ia banyak bertanya tentang tradisi, budaya, dan
agamaku. Sama dengannya yang selalu antusias untuk menjelaskan, akupun juga
selalu antusias. Kami sama-sama antusias untuk mendapat informasi-informasi
baru.
Satu hal yang
membuatku cukup tersentuh adalah ketika ia mengambil Sejarah Islam sebagai mata
kuliah pilihannya semester ini. Aku yakin ia tidak sedang melakukan
perbandingan dengan agamanya sendiri. Semata-mata adalah karena rasa ingin
tahunya dan itu ditunjukkan bagaimana ia dengan gigih memahami mata kuliah ini.
Berteman
dengan April tidak hanya membuatku lebih menghargai perbedaan. Tetapi juga
membuatku terdorong untuk memahami lebih banyak lagi perbedaan. Mendapat
informasi-informasi yang baru. Mengeksplor banyak daerah untuk bertemu
orang-orang baru, memahami tradisi dan budaya baru, serta belajar bahasa baru. Aku
tidak melihat bagaimana perbedaan kami kelak akan menjauhkan kami. Aku justru
melihat bahwa perbedaan kami tidak akan menimbulkan masalah apapun karena kami
cukup menghargai satu sama lain. Dan menghargai satu sama lain adalah kunci
utama untuk tinggal di dunia yang penuh aneka ragam hal dari berbagai aspek. Karena bagaimanapun juga aku sadar bahwa aku tinggal di dunia yang begitu besar dimana aku hanyalah setitik noktah yang tidak sengaja berada di dalamnya.
Sabtu, 13 Agustus 2016
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kisah Disney's Princess?
Menjadi seorang
putri barangkali adalah cita-cita seluruh anak perempuan di dunia. Dengan
gaun-gaun yang indah, rambut panjang, keinginan yang selalu terpenuhi, dan
dicintai. Tapi setelah beberapa hal yang kusebut tadi, sepertinya menjadi
seorang Princess bukan hanya cita-cita seorang anak perempuan. Hampir semua
perempuan ingin menjadi Princess.
Dan mungkin salah
satunya adalah aku.
Ini konyol, memang.
Aku tahu. Makanya ketika aku memahami dari segi manapun aku tidak cocok hidup
sebagai Princess, obsesiku kubantingsetirkan menjadi seorang penggemar
Princess.
Usiaku 20 tahun dan
dalam beberapa bulan yang tidak akan lama akan bertambah satu tahun lagi.
Tetapi menjadi dewasa rupanya tidak menghalangiku untuk menyukai beberapa hal
yang sebenarnya dibuat untuk anak-anak.
Di usiaku yang
sedewasa ini aku baru menyadari bahwa rupanya aku begitu tertarik dengan Disney’s
Princess. Hanya saja jika kurasakan lebih dalam lagi barangkali alasanku
tertarik akan jauh berbeda dengan alasan anak-anak menyukai Disney’s Princess.
Sebelum membahas
mengenai Disney’s Princess, aku ingin mengatakan bahwa catatan ini sebagai
wujud tidak sabarku menanti film Disney terbaru yang memunculkan tokoh Princess
yang baru! Hooray!
Jadi begini,
teman-teman. Aku memang tidak tumbuh menjadi perempuan yang sejak kecil
dicekoki mainan-mainan perempuan apalagi kisah tentang Disney’s Princess. Sama
sekali tidak begitu. Justru sebaliknya, masa kecilku lebih diisi dengan
kisah-kisah Kancil, film Tom & Jerry, Power Rangers, Saras 008, dan Winnie
the Pooh. Tidak ada unsur ‘princess’ nya sama sekali.
Tetapi ketika aku
sudah cukup remaja untuk menonton film apapun yang kusukai, entah kenapa justru
aku tertarik dengan kisah-kisah Princess ini. Ketertarikanku pertama kali
kutujukan pada film Tinkerbell khususnya sosok Silvermist—Peri air
bergaun biru dan berambut panjang berwarna biru gelap seperti perairan dalam. Dan
aku menyukai Silvermist semata-mata karena karakternya yang terlihat lebih
anggun dan tidak begitu kekanak-kanakan.
Kemudian satu per
satu film Disney mencuri minatku. Aku masih ingat betul beberapa cerita Disney’s
Princess. Mulai dari Disney’s Princess yang lebih tua seperti Cinderella (seingatku
setting tokoh ini berasal dari Jerman), Snow White, Ariel, Belle (dilihat dari
gaya berdandannya mungkin Princess ini berasal dari Prancis), Jasmine (Arabian
Princess), Aurora (Sleeping Beauty), Megara (Greece Princess), Jane, Esmeralda
(aku tidak paham dengan kisah putri Gypsi yang satu ini karena memang belum
menontonnya), dan Pocahontas (Princess Indian yang menjadi salah satu
favoritku). Beberapa yang lain adalah Mulan (Princess Tiongkok), Alice in
Wonderland (Fantasy Princess), Rapunzel, Tiana (African-American Princess),
Thumbelina, Merida (Scotland Princess), dan Anna serta Elsa dari film Frozen.
Aku rasa film-film
Disney’s Princess secara garis besar tidak hanya berkisah tentang cinta seorang
Putri dan Pangeran. Tetapi ada juga kisah mengenai kesabaran dan keyakinan. Semua
Disney’s Princess aku yakin memiliki pesan mengenai bagaimana harus memiliki
keyakinan dan kesabaran dalam memiliki sebuah harapan maupun keinginan.
Seiring
berkembangnya waktu, aku melihat bahwa Disney memunculkan tokoh-tokoh Princess
yang memiliki karakter baru di mana karakter-karakter ini semakin kuat. Jalan
cerita yang dibuat pun menurutku tidak klise dan tidak begitu melodrama. Tidak
hanya mengenai kesabaran dan keyakinan tetapi juga keteguhan hati, keberanian,
kepercayaan diri, kasih sayang, dan pengorbanan. Barangkali, menurutku,
karakter yang mulai ditonjolkan di film-film Disney’s Princess belakangan ini
adalah keberanian dan keteguhan hati.
Coba bandingkan film
Cinderella dari tahun 1970-an dengan film Rapunzel (2010). Kedua kisahnya
barangkali memiliki kisah yang sama antara seorang putri yang jatuh cinta
dengan pangeran. Tetapi kisah Rapunzel jauh berbeda dengan Cinderella. Bukan
hanya karakter pemeran utama prianya yang bukan dari kalangan bangsawan seperti
di film Cinderella, tetapi aku merasakan jalan cerita Rapunzel, meskipun tidak
semellow Cinderella, rupanya lebih menantang dan lebih menghibur.
Selain itu, seiring
berkembangnya waktu, Disney’s Princess tidak lagi digambarkan sebagai seorang
Princess yang seolah begitu rapuh, anggun berlebihan, dan terlalu ‘penurut’
dalam artian begitu mudah disakiti tokoh antagonis. Disney’s Princess yang baru
seperti Merida, Anna, dan Rapunzel lebih berani dan menyukai tantangan. Tingkah
lakunya jelas tidak seanggun Cinderella, Snow White, Aurora, Ariel, atau Belle,
tetapi justru ini yang menurutku begitu menarik. Meski beberapa Disney’s
Princess yang lebih tua semacam Pocahontas dan Mulan juga sudah menunjukkan
bahwa seorang putri tidak cukup hanya berbekal keanggunan bahkan tidak perlu
begitu rapuh.
Barangkali anak-anak
akan lebih menyukai sosok Disney’s Princess yang sangat cantik, anggun, dan
memiliki kisah romansa yang menyentuh dengan seorang Pangeran. Tetapi dalam
pandangan perempuan dewasa usia 20 tahun sepertiku, aku memiliki Princess-princess
favorit sendiri. Aku akan mengurutkannya sesuai yang paling tua:
POCAHONTAS
Aku tidak ingat kapan
film tentang Pocahontas ini dibuat, yang jelas dilihat dari grafisnya film ini
sudah terbilang cukup tua. Pocahontas merupakan putri seorang kepala suku
Indian bernama Powhattan. Di mana dalam filmnya dikisahkan bahwa ia jatuh cinta
dengan seorang tentara kulit putih bernama John Smith. John Smith dan
pasukannya berlayar ke tanah Indian untuk menaklukan tanah tersebut, tetapi ia
jatuh cinta dengan Pocahontas. Konflik yang terjadi adalah ketika kehadiran
John Smith ditentang oleh anggota-anggota suku Pocahontas, dan kisah cinta
segitiga antara John Smith-Pocahontas-dan tunangan Pocahontas sendiri. Namun di
akhir ceritanya, Pocahontas berhasil meredam konflik antara dua belah pihak
sehingga peperangan berhasil dihindari.
Alasanku menyukai
Pocahontas mungkin karena secara etnis, dia adalah Princess yang unik karena
berasal dari lingkungan yang bisa disebut masih tradisional, dibandingkan
Princess-princess yang lain. Karakternya yang terlihat kekar dan kuat juga
begitu menarik. Rambut hitam panjangnya yang indah selalu terlihat tertiup
angin dan memberi kesan bahwa ia adalah perempuan suku Indian yang tangguh.
Tetapi sebenarnya
lebih dari itu semua, aku tertarik dengan kisah Pocahontas karena rupanya kisah
ini berasal dari kisah nyata. Hanya saja kisahnya tidak semenarik dalam film.
Suku Pocahontas pada akhirnya kalah berperang dengan pasukan John Smith. Ayah
Pocahontas, Powhattan, dan tunangannya terbunuh. Sedangkan Pocahontas sendiri
dibawa ke Inggris oleh John Smith sebagai seorang tawanan dalam kondisi depresi
berat. Hidup Pocahontas tak seindah dalam film. Pada kenyataannya, ia disiksa
dan memiliki seorang anak hasil hubungan yang dipaksakan. Di ahir hidupnya, ia
meninggal karena suatu penyakit.
MULAN
Princess dari
daratan China ini kisah hidupnya lebih menantang dari Princess-princess yang
lain. Kisahnya dimulai pada masa Dinasti Han, dimana pada saat itu muncul
sebuah perintah bahwa setiap keluarga diwajibkan mengirimkan satu anggota
keluarga laki-laki untuk ikut berperang. Sayangnya di keluarga Fa, yaitu
keluarga Mulan, satu-satunya laki-laki adalah ayah Mulan yang sudah tua dan
sakit-sakitan. Demi menyelamatkan ayahnya, Mulan menyamar menjadi seorang
laki-laki dan bergabung dengan pasukan Jendral Zhang menggantikan ayahnya. Ia
turut bergabung dalam peperangan dan memiliki sebuah kisah yang cukup heroik.
Mulan membuatku
tertarik karena pengorbanan dan keberaniannya. Barangkali ia satu-satunya
Princess yang menyamar sebagai seorang laki-laki dan terjun ke medan perang
dengan mempertaruhkan nyawanya. Aku berpikir bahwa gelar Princess-nya didapat
karena keberaniannya, karena bagaimanapun juga ia tidak berasal dari golongan
bangsawan, dibandingkan dengan Princess-princess yang lain. Sebagai sosok
perempuan tomboy yang pemberani dan tangguh, karakter Mulan cukup menginspirasiku.
MERIDA
Aku melihat sosok
Merida sebagai karakter yang lebih muda dari Pocahontas dan Mulan. Bukan hanya
dilihat dari tahun produksinya (2012), tetapi jika dilihat dari sosoknya yang
digambarkan secara usia ia memang terlihat lebih muda. Apalagi rambut keriting
panjang merahnya yang khas benar-benar mencuri perhatian.
Merida merupakan
seorang putri dari Scotland tepatnya dari keluarga Danbroch. Sejak kecil ia
tertarik dengan busur dan panah, dan ketika remaja ia begitu ahli menggunakan
keduanya. Ia biasa menunggangi kudanya yang bersurai indah bernama Angus ke
dalam hutan untuk berlatih memanah. Kemampuannya dalam memanah cukup tinggi
karena selain ia bisa memanah sambil menunggang kuda, ia bisa memanah dengan
tepat. Dalam kisahnya, ia dipaksa menikah oleh ibunya, Ratu Eleanor, tetapi
Merida menolak. Ia jelas belum tertarik untuk menikah dan begitu bosan ketika
ibunya mengajarkan segala hal tentang bagaimana menjadi seorang putri yang anggun
dan lemah lembut. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan karakternya. Pada
akhirnya, Merida berhasil meyakinkan ibunya bahwa apa yang menjadi keinginan
ibunya belum tentu apa yang menjadi keinginan Merida. Dan itu sebabnya mereka
perlu lebih memahami satu sama lain. Menurutku, kisah Merida dalam film Brave begitu
menarik dan ada beberapa adegan yang menegangkan.
Selain karena sifat
Merida yang membuatku tertarik: pemberani, berkeyakinan teguh, dan percaya
diri, aku juga tertarik ketika Merida menunggangi kudanya dan bagaimana ia
terlihat begitu mengagumkan ketika sedang memanah. Adegan favoritku dalam film
Brave ini adalah ketika Merida memanjat tebing seorang diri untuk mencapai air
terjun. Soundtrack film ini juga terdengar khas dan menarik. Barangkali memang ‘begitu’
lagu khas dari Scotland.
Itulah beberapa
karakter Disney’s Princess favoritku. Dan sepertinya akan bertambah satu lagi
dengan hadirnya Disney’s Princess yang baru dari Kepulauan Hawaii: MOANA.
Aku penasaran sekali
dengan ceritanya. Secara karakter, Moana jelas menarik dan tidak jauh berbeda
dengan karakter Merida, Mulan, Pocahontas, dan Rapunzel. Bukan hanya karena
pengisi suara salah satu tokohnya adalah Dwayne Johnson, tetapi aku yakin cerita
Moana pasti akan ada banyak kejutan dan tak kalah menarik dengan cerita Disney’s
Princess yang lain.
Sebagai penutup dari
catatan ini aku memiliki sebuah opini. Menurutku, tidak ada salahnya anak-anak
menggemari karakter-karakter tersebut dan filmnya. Keduanya memiliki pesan dan
pelajaran positif yang bisa ditarik. Disney’s Princess tidak semata-mata
mengajak anak-anak untuk bermimpi menjadi seorang putri cantik yang anggun dan
bertemu dengan seorang Pangeran, tetapi lebih dari itu. Kisahnya yang
menginspirasi bisa mengajarkan anak-anak untuk lebih berani bercita-cita,
tangguh, percaya diri, rela berkorban, dan senantiasa menyebarkan kasih sayang.
Selain itu, kisah Disney’s Princess selalu memberi harapan baru bahwa segala
hal itu mungkin. Segala hal itu penuh keajaiban, dan jika kita yakin, apapun
keinginan kita pasti terjadi.
Sekian catatan
tentang Disney’s Princess kali ini. Terima kasih sudah menyempatkan membaca
blog-ku. Sampai jumpa di catatan-catatan selanjutnya~~
Selasa, 02 Agustus 2016
Paradoks
Aku sedang membaca
sebuah novel ketika tiba-tiba pikiranku beranjak ke seseorang yang sangat aku
kenal. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit memikirkan orang tersebut aku
memutuskan untuk merinci apa saja yang akan aku tuliskan tentangnya di sini. Bukan
hanya semata-mata aku ingin menulis, tetapi aku merasa orang ini ingin
dimengerti oleh orang lain secara keseluruhan. Baik dari pola pikirnya dan
perbuatannya.
Oleh sebab itu
sekarang aku sedang berada di kamarku, seperti biasa ditemani dengan beberapa playlist lagu dan suasana yang mendukung
untuk mulai menulis. Cuaca sedang begitu dingin dan aroma basah mengantarkan
sisa-sisa hujan sejak tadi pagi. Adik laki-lakiku sedang berada di sampingku
sekarang. Sama bosannya denganku, hanya saja ia praktis tidak tahu akan
melakukan apa selain mendengarkan musik dari ponsel barunya dan memainkan
pistol-pistolan milik adik sepupuku dengan kedua tangannya.
Aku sudah mencatat
apa-apa saja yang ingin kutuliskan tentang seseorang ini dalam ingatanku secara
acak. Jadi, untuk mempersingkat tulisan aku akan memulai dari perkenalan.
Aku sudah mengenal
orang ini begitu baik. Sebaik aku mengenal diriku sendiri. Barangkali karena
aku telah mengenalnya selama hampir seumur hidupku. Dan seperti yang telah
kujelaskan tadi, ada banyak hal yang sebenarnya ingin disampaikan olehnya namun
tak ada sesuatu yang menghalangi keinginannya itu. Kini, aku yang akan
memberikan kesempatan ini untuknya.
Dia ingin
dimengerti. Atau mungkin sebenarnya banyak orang yang sudah mengerti
tentangnya. Namun karena ia tipikal orang yang kerap kali memikirkan hal-hal
yang remeh, ia selalu menebak-nebak bagaimana cara orang lain mengerti dirinya.
Misalnya, seperti apa dirinya di mata orang lain? Seperti apa orang lain
memandang caranya berpikir dan bertindak?
Jika aku
memosisikan diriku sebagai orang lain itu, aku akan melihatnya sebagai sosok
yang misterius sekaligus bersahaja dan memiliki sebuah karisma. Aku tahu betul
bagaimana orang lain terkadang bisa begitu mengambil jarak dengannya hanya
karena rasa sungkan. Padahal dia tak melakukan sesuatu yang memunculkan rasa
sungkan pada orang lain. Meski orang lain melihatnya sebagai orang yang ceria,
bersemangat, dan hangat karena ia mudah sekali mengumbar senyum, tawa, dan
berupaya untuk menjadi ramah, terkadang ia juga menjadi sosok yang penuh
misteri dilihat dari bagaimana ketika ia diam untuk berpikir dan menilai
sesuatu. Di sisi lain, ia bisa menjadi seseorang yang tegas dan keras kepala
jika memiliki suatu pendapat ataupun keinginan. Bagiku, ini seperti semacam paradoks.
Mungkin hal-hal semacam inilah yang membuat orang lain seolah kesulitan untuk
menebak isi hatinya yang, menurutku, memang terkadang mudah berubah.
Aku paham bagaimana
sulitnya memahami seseorang seperti dia. Dan ternyata ia juga mempertimbangkan
kesulitan tersebut. Sejauh yang kutahu, ia menikmati kemisteriusan dan karisma
yang terpancar dari dalam dirinya. Oleh karena itu terkadang ia tak ambil
pusing ketika berinteraksi dengan orang lain, meski terkadang ia juga—seperti yang
kusebutkan baru saja—mencemaskan hal-hal remeh seperti bagaimana orang lain
memandang dirinya. Ia mencemaskan jika orang lain ternyata memandangnya sebagai
sosok yang tidak menyenangkan karena sikap misteriusnya yang memberikan kesan
berjarak dan keinginannya untuk ‘dilihat’ orang lain secara detil.
Untuk dekat
dengannya memang susah. Maksudku, dekat dalam artian sebagai orang yang
dipercaya. Dimana dia bisa berbagi suka duka maupun pengalaman apapun kepada
orang tersebut. Ia tak membuka hati semudah itu karena ia terbiasa berhati-hati
dan menimbang-nimbang segalanya. Apakah orang ini layak dipercaya? Apakah ia
nyaman jika bersama orang tersebut? Ia menimbang-nimbangnya. Lagi-lagi ini merupakan
paradoks mengingat ia begitu ingin ‘dilihat’ orang lain secara detil.
Berbicara mengenai ‘dilihat
orang lain secara detil’, maksudku adalah ia memiliki keinginan untuk dikenal
oleh banyak orang. Bukan lagi seputar bagaimana pola pikirnya. Tapi tentang
siapa dirinya dan apa yang telah ia capai. Kurasa karena ia memiliki visi yang
begitu jelas dan panjang sekaligus seseorang yang memiliki cita-cita yang
tinggi. Kerap kurasakan ia selalu ingin menonjolkan sesuatu dari dalam dirinya.
Aku merasa hal itu memang tidak baik. Dan rupanya ia memahami itu karena
setelah ia melakukan sesuatu yang bermaksud untuk menonjolkan sesuatu dari
dalam dirinya tersebut—meski tak dilakukannya secara terang-terangan--ia kerap
memikirkan pandangan orang lain terhadap apa yang telah ia lakukan tersebut.
Apakah orang lain telah secara jelas menangkap maksudnya untuk ‘pamer’? Ataukah
sebaliknya, orang lain merasa memakluminya karena melihat apa yang telah ia
lakukan adalah hal yang wajar dan tidak terlalu terus terang.
Selain itu, dia
adalah orang yang paham apa yang ingin dia lakukan dan apa yang tidak.
Sepanjang yang kutahu, ketika ia memiliki sesuatu untuk dilakukan dan sepanjang
ia merasa hal tersebut pantas dilakukan, ia akan melakukannya dengan segera dan
tanpa beban. Tetapi ketika ia tidak ingin melakukan sesuatu dan merasa bahwa
tidak perlu melakukannya ia jelas tidak akan bergerak. Ia sangat tegas dalam
hal tidak melanggar aturan dan paham betul apa yang ingin dia lakukan dan apa
yang tidak. Kurasa ini berhubungan dengan sifat keras kepalanya dan sedikit
egois. Tetapi memiliki tekad adalah poin plus miliknya.
Meski terkadang ia
memiliki keragu-raguan yang besar akan masa depannya sendiri, tapi ia selalu
percaya bahwa apapun yang dia cita-citakan akan tercapai. Ia memiliki keyakinan
yang kuat bahwa impiannya akan tercapai entah bagaimana cara Tuhan membuat pola
nasibnya di masa depan. Ia percaya bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan untuknya
adalah takdir yang indah dan yang paling ia butuhkan.
Dalam menghadapi
masalah, ia cenderung kalut di awal. Tetapi kemudian dia akan menenangkan
dirinya dan memilah-milah jalan keluar sekaligus memikirkan dampak ke depannya.
Untuk selanjutnya, ia akan mengambil sebuah keputusan yang tegas. Bukan hanya
karena ia tipikal seseorang yang tidak menyukai konflik maupun masalah apapun,
tetapi karena ia tak menyukai ketidakjelasan. Baginya, segala sesuatu harus
direncanakan dengan matang ditata baik-baik. Begitu pula dengan jalan keluar
suatu masalah. Selain harus dipikirkan matang-matang juga harus secara tegas
diambil untuk mencegah masalah tersebut berlarut-larut.
Menurutku, yang
paling menarik darinya adalah kepekaan hatinya dan ketulusan hatinya ketika
menyayangi seseorang. Ia mudah sekali tersentuh dan mudah berempati. Kurasa
sifat tersebutlah yang membuatnya terkadang merasa lemah. Karena ia cenderung
tidak menyukai konflik, ia biasanya membuat sebuah keadaan dimana dia ingin
selalu merangkul banyak orang dan menjadi sosok yang menenangkan. Ia tipikal
orang yang akan kalian temui berada di sudut jalan termenung memandangi seorang
pedagang kaki lima tua renta dengan perasaan iba menggelayuti hatinya. Mungkin,
ia tak akan turun langsung membantu pedagang tersebut. Tetapi baginya melakukan
kebaikan secara diam-diam tanpa diketahui orang lain adalah hal yang paling
ingin dilakukannya. Itu sebabnya meski ia merasa begitu kasihan dengan pedagang
tersebut ia tak akan tergerak langsung untuk menolongnya. Ia tidak ingin orang
lain melihat aksinya karena itu akan mengganggunya. Sekalipun ia pernah
melakukan aksi kemanusiaan di pinggir jalan di mana ada banyak orang, ia
melakukannya dengan cepat-cepat. Seperti ketika ia pernah memberikan makanan
kepada dua orang pengemis. Ia meletakkan makanannya begitu saja sambil
mengatakan, “Ini untuk bapak,” kemudian buru-buru pergi dengan kepala
tertunduk. Ia tak ingin orang lain melihatnya.
Selain kepekaan
hati terhadap orang lain, ia juga termasuk orang yang begitu tulus menyayangi.
Aku pernah melihatnya begitu menyayangi seseorang. Ia menerima semua kekurangan
orang tersebut, dan meski aku melihatnya sendiri ia beberapa kali ia
dikecewakan, ia masih tetap menyayangi orang tersebut. Dan ketika hubungannya
dengan orang tersebut tak bisa dijalankan lebih jauh lagi, aku dengan jelas
melihat betapa ia tersiksa. Ia adalah sosok yang menyayangi seseorang dengan
begitu tulus dan dalam. Kurasa karena kedalam rasa sayangnya itulah yang
membuatnya terluka begitu parah.
Aku memahami
bagaimana ia bisa begiu menyayangi seseorang. Sebenarnya, seperti yang pernah
kukatakan, ia tidak pernah membuka pintu hatinya begitu saja untuk orang lain.
Karena ia perlu melakukan beberapa seleksi kriteria untuk orang tersebut mendapat
tempat di hatinya. Dan karena ketika ia memberikan tempat tersebut pada
seseorang yang terpilih, akan susah baginya untuk mengganti orang tersebut
dengan orang lain di tempat yang sama. Aku menyebutnya sebagai sosok yang tidak
mudah jatuh cinta karena sekali ia jatuh cinta maka tidak akan mudah pula
baginya untuk melepaskan.
Aku berharap ia tak
akan lagi salah menempatkan seseorang di hatinya. Aku tidak bisa berpikir akan
sesakit apa lagikah dia ketika ia salah dalam menempatkan seseorang. Kali ini
semoga ia bisa menemukan seseorang yang pantas, yang layak untuk segala
ketulusan dan kasih sayangnya. Untuknya, aku meyakini satu hal bahwa ia akan
bertemu dengan seseorang yang akan membuat hidupnya jauh lebih bahagia.
Ini adalah paragraf
terakhirku di catatan ini. Rasanya lega bisa menulisan sesuatu yang tak pernah
sempat ia tuliskan. Aku merasa menjadi seseorang yang mewakilinya. Semoga ia
senantiasa bahagia dan menjadi seseorang yang lebih baik. Dan semoga apapun
yang ia cita-citakan bisa tercapai. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)




