Sabtu, 16 Juli 2016

Tentang Musik dan Pelarian

Kebutuhanku untuk menulis sangat mendesak. Seperti biasa ada hal yang ingin kutulis tetapi aku bingung apa yang harus kutulis. Padahal aku memiliki satu tugas  membuat sebuah cerpen untuk  pameran sastra. Deadline-nya akhir bulan ini dan aku belum menyusunnya!

Aku baru saja mau menulis paragraf pertama inti dari catatan ini tapi tiba-tiba listrik mati. Suasana gelap gulita. Dan berbekal kebiasaan mengetik sejak lama aku akhirnya membuat kalimat ini dalam kegelapan tanpa melihat keyboard.

Oh, baru saja listrik menyala lagi.

Astaga. Mati lagi.

Tunggu dulu. Sepertinya tegangan listrik ingin bermain petak umpet denganku karena baru saja listrik menyala lagi.

Dengan ditemani seorang adik laki-laki dimana tinggiku hanya mencapai pundaknya, aku akan memulai tulisan baru ini dengan topik mengenai …

Baiklah. Biar aku pikirkan dulu.

Oh, benar! Topik mengenai musik.

Sebenarnya, aku bukan tipikal yang paham tentang musik. Sejauh yang aku tahu sebagai orang awam aku hanya mengenal ada tujuh tangga nada dan beberapa jenis musik. Istilah-istilah lain mengenai musik? Aku buta sama sekali. Selebihnya aku hanyalah penikmat musik. Musik apa saja asalkan sesuai suasana hatiku dan enak kudengarkan.

Seingatku semenjak aku baru mengetahui bahwa ponsel pertamaku dulu bisa digunakan untuk mendengarkan radio menggunak earphone aku selalu mendengarakan musik kapanpun dan dimanapun. Khususnya ketika akan menjelang tidur. Bahkan sebagai penikmat lagu-lagu mancanegara khususnya western aku masih ingat betul lagu western apa yang pertama kali kudengarkan melalui earphone: The Day You Went Away dari M2m. Jauh sebelum itu ketika aku masih balita seingatku aku mendengar lagu-lagu Westlife pertama kali dan hingga saat ini aku masih menjadi penggemar grup vokal dari Irlandia itu.

Bagiku, musik dan lagu adalah dua hal yang sama dimana dengan mendengarkannya semua moodku bisa membaik, atau bahkan memburuk. Tidak diragukan lagi bahwa musik memang mampu membawa suasana hati pendengarnya ke manapun sesuai dengan musik apa yang didengarkan. Bahkan aku percaya bahwa tidak hanya musik yang mempengaruhi suasana hatimu. Terkadang suasana hatimulah yang mempengaruhi musik atau lagu yang kaudengarkan.

Pernahkah kalian merasa sedang menggalau, kemudian mendengarkan lagu sendirian dengan earphone di kedua telinga kalian, dan tanpa sengaja lagu-lagu yang kalian dengarkan beralih ke judul lain yang sesuai dengan suasana hati kalian? Pengalihan judul ini tidak hanya sekali, tetapi hingga beberapa kali. Padahal kalian sudah men-set pemutar musik kalian untuk secara otomatis memutar lagu secara acak. Tapi entah kenapa ketika kalian berusaha untuk menghindari lagu-lagu galau karena tidak ingin memperburuk suasana hati, justru lagu itu dengan sesuka hatinya beralih dari satu lagu galau ke lagu galau lain. Dan jika sudah seperti itu tak ada hal lain yang bisa kalian lakukan selain menikmati lagu galau itu. Karena … yah, karena kalian memang tidak bisa menyangkal suasana hati kalian sendiri.

Atau mungkin selain sebagai makhluk sosial, manusia juga termasuk makhluk yang gemar melakukan drama? Ketika sedang menggalau dan tanpa sengaja mendengarkan lagu galau, mereka justru akan menumpahkan kegalauan mereka seluas-luasnya hingga puas.

Barangkali memang benar begitu.

Musik bagi seorang introvert sepertiku adalah sebuah alat pelarian dari lingkungan yang tidak kusukai. Ketika aku sedang berada di tengah-tengah suasana yang tidak membuatku nyaman, atau dikelilingi seseorang yang mengganggu privasiku, aku cukup mengeluarkan sebuah ponsel berisi ratusan lagu dan sebuah earphone kemudian mendengarkan musik. Aku pun masuk ke duniaku sendiri.

Aku memang pernah menyatakan di catatanku sebelumnya mengenai  ‘dunia sendiri’ ini. Bahwa ketika planet lain masih sedang diteliti apakah bisa dihuni manusia atau tidak, jangan coba-coba untuk membuat dan hidup di planetmu sendiri. Tapi sebagai seorang introvert kurasa memiliki dunia sendiri terkadang memang tidak bisa dihindari.

Ajaibnya, musik tidak hanya mengirimku ke duniaku sendiri di saat-saat yang paling kubutuhkan, tetapi musik juga membantuku berhubungan dengan orang lain. Terutama orang-orang yang memiliki genre musik yang sama denganku. Dan karena genre musik dan lagu-lagu yang kudengarkan cukup umum hal ini semakin memudahkanku berbagi minat dengan orang lain. Tidak masalah bagiku memutar sebuah lagu di kelas dengan bantuan speaker karena aku dan teman-temanku menikmati musik yang sama.

Untukmu yang mungkin sedang merasa gelisah dan suntuk kusarankan untuk mencari tempat setenang mungkin. Bawa daftar-daftar lagumu yang siap diputar entah itu di ponsel, laptop, i-pod, atau apapun. Jangan lupa earphone. Pergilah ke tempat yang tenang dimana tidak ada seorangpun bisa mengusikmu, pasang earphone ke telinga, dan dengarkan musik. Musik yang bisa mengubah suasana hatimu menjadi lebih baik. Dengarkan dan nikmati. Pejamkan matamu dan biarkan nada demi nada mengalir dari telinga ke otakmu hingga mungkin ke seluruh tubuhmu. Nanti ketika kau membuka mata, kupastikan segala hal akan terasa berbeda.

Musik membantumu menemukan sebuah inspirasi. Sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu sendiri. Sebuah titik terang. Musik juga membantumu barang sejenak melarikan diri dari berbagai persoalan yang bisa membuat otakmu terasa penuh dan ingin meledak.

Ketika kau mendengarkan musik, jangan tahan dirimu. Berdendanglah ketika kau ingin berdendang mengikuti alunan musik. Gerakkan tubuhmu ketika kau ingin semakin terhanyut ke dalam baris demi baris lirik dan dentuman sensasi yang muncul. Tak perlu ditahan. Sepanjang kau tak melakukannya secara berlebihan di tengah-tengah kerumunan jangan takut untuk melakukannya.

Dengarkan musikmu!

Terberkatilah seseorang yang memiliki bakat untuk bermain alat musik atau memiliki suara indah. Mereka dapat menciptakan pelarian masalah mereka sendiri. Dan untukmu yang terberkati dengan bakat lain selain bakat musik tak perlu khawatir karena musik dapat dinikmati dengan berbagai cara. Bahkan cara termustahilpun sekalian. Sepanjang kau menemukan caranya sendiri.
***

Apakah catatanku barusan cukup terlihat sebagai salah satu pelarian juga?

Jujur saja bahwa sebelumnya aku tak memiliki topik apapun untuk kutuliskan selain curahan hati mengenai masalah yang lama yang belum juga kuselesaikan. Tapi kemudian ketika aku membuka Ms.Word dengan beberapa lagu yang kuputar di laptop-ku aku langsung banting setir untuk membuat catatan lain dengan topik yang baru. Akhirnya~ Inilah catatanku.

Aku tahu seharusnya aku jujur dalam menulis. Menulis apapun itu. Tapi seperti yang kukatakan bahwa musik membantu kita untuk menemukan titik terang dari berbagai permasalahan, aku pun mendapatkan titik terangku sendiri untuk tidak membuat tulisan galau yang terlampau banyak. Apalagi tulisan yang kubagikan ke seluruh orang di dunia ini melalui blog. Setidaknya aku harus membuat catatan yang bisa kugunakan untuk berbagi hal-hal yang menggembirakan. Bukan hanya hal-hal galau terus menerus.


Di ujung catatan ini aku akan mengedit beberapa kata yang salah ketik sambil berpikir judul apa yang akan kugunakan. Jadi, sebagai penutup, kuucapkan terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca catatan ini. Kebutuhkan untuk menuli cukup tersalurkan hari ini. Sampai jumpa di catatan selanjutnya~

Sabtu, 02 Juli 2016

Sebuah Kotak dan Perasaan Lama

Malam hari. Waktu yang tepat untuk menulis dan mencurahkan semua isi hati.

Sebenarnya, aku tak pernah berniat untuk menuliskan hal-hal yang menyedihkan di sini. Atau setidaknya hal-hal yang berisi curahan hati yang terlalu mengharu biru. Tapi, kupastikan bahwa tulisan ini tidak akan berisi hal-hal yang cengeng dimana kalian akan menghabiskan waktu kalian untuk membacanya di dalam kamar dengan berbagai buntalan tisu bekas pakai. Tulisan ini tidak akan menjadi seperti ‘itu’.

Sejak awal kuputuskan bahwa blog ini untuk sementara akan berisi tulisan-tulisan semacam diary. Beberapa hal yang kurasakan dan kupikirkan kutuliskan di sini. Aku sempat berpikir seperti who am I sampai aku menuliskan berbagai hal yang agak sedikit pribadi di blog untuk dibaca banyak orang. I’m not a superstar with a lot of fans. But, I think sebagai seseorang yang mengabdikan diri untuk menulis di waktu-waktu senggangnya aku bebas menulis apapun dan dimanapun.

Jadi, untuk kalian yang—barangkali—entah bagaimana menemukan blog-ku ini kemudian sempat membaca beberapa catatanku, kuucapkan banyak terima kasih atas waktu yang kalian luangkan. Aku juga sedang berusaha untuk mendapatkan banyak pengalaman yang menyenangkan untuk kutulis dan kubagikan di catatan ini. Doakan aku untuk terus konsisten menulis.

Aku akan mulai tulisan ini dengan sebuah keluhan yang sempat kuungkapkan beberapa kali pada diriku sendiri. Tahun ini adalah tahun yang berat untukku. Dan juga untuk orang-orang di sekitarku. Aku tak akan mengulasnya lebih jauh karena inti dari catatanku ini bukanlah tentang hal tersebut. Ada banyak hal yang perlu kami korbankan. Khususnya waktu, tenaga, dan mungkin uang.

Itu tadi keluhanku.

Teriring doa untuk nenekku yang sedang sakit, semoga lekas sembuh. Mungkin memang tidak bisa lagi sesehat dulu, tapi harapanku dan semua anggota keluarga yang menyayanginya adalah agar nenek bisa lebih sehat dan bisa berkumpul lagi dengan kami. Kami rindu senyum beliau, kelembutan dan kesabaran beliau, dan bagaimana beliau selalu hadir di tengah-tengah kami.

Aamiin.

Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa catatan ini tidak akan membahas tentang keluhanku lebih jauh. Aku ingin bercerita tentang bagaimana aku tadi mengikuti buka bersama dengan satu angkatan SMA. Salah satu acara di SMA yang jarang kuikuti karena ada beberapa alasan.

Pernahkah kalian merasakan berada di sebuah lingkungan dimana kalian sebenarnya ingin membaur ke dalamnya, berada dalam suasana yang menyenangkan bagi kalian, tetapi entah mengapa ada sebuah jurang yang menghalangi kalian untuk melakukannya? Jurang itu bisa berupa suatu lingkungan yang ternyata berisi orang-orang yang terkotak-kotak. Atau bisa sebuah ketidakcocokan yang menjadikan kalian tidak bisa menemukan sebuah hal yang ‘klik’ untuk menjadi modal kalian membaur dengan orang-orang yang terkotak-kotak itu.

Mengenang sekilas kehidupanku di SMA memang tidak begitu benar-benar berkesan. Tapi tidak juga begitu membosankan. Semuanya terasa seimbang. Hanya saja aku memang tidak begitu membaur dengan teman-temanku yang lain di SMA. Faktornya ya karena dua jurnag yang kusebutkan tadi.

Namun, bukan berarti aku tak memiliki teman dekat di SMA. Setidaknya ada empat teman dekatku di SMA dimana aku lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka. Sebuah kondisi yang terkotak-kotak itu mau tak mau akhirnya mendorongku untuk membuat kotak sendiri dan menempatinya bersama keempat teman dekatku yang memutuskan untuk berada di kotak yang sama denganku. Barangkali lebih karena faktor kecocokan. Tapi, hingga saat ini aku tak menyangka bahwa ketidakcocokan kotakku dengan kotak mereka bisa begitu besar. Hingga kami tak memiliki kesempatan untuk mencoba kotak-kotak mereka. Kotak mereka diset dengan sedemikian rupa hingga hanya muat dihuni oleh anggota-anggota mereka sendiri. Dan akhirnya, begitu pula dengan kotak yang kutempati.

Kondisi itu tak berubah hingga kami lulus dan akhirnya mengadakan acara buka bersama hari ini.

Setidaknya, kotak yang mereka dan aku tempati bukanlah sebuah kotak padat. Kubayangkan kotak-kotak itu adalah sebuah kotak dengan rongga-rongga di setiap sisinya. Rongga yang cukup bagi kami untuk mengulurkan tangan bersalaman dan tersenyum dan sedikit berbasa-basi. Kotak kami dan mereka hanya muat sebatas itu. Dan itu yang kami lakukan tadi.

Awalnya, aku memutuskan untuk tidak jadi ikut acara ini karena kupikir tidak akan ada perubahan dengan zamanku SMA dulu. Dan memang benar. Rongga kotak itu tak sedikitpun melebar. Tak cukup lebar untuk membuat penghuninya menyambangi orang lain di kotak yang lain.

Ketika aku mengetahui kedua teman dekatku memutuskan untuk datang, aku pun menyanggupi. Kupikir tidak enak juga dengan orang-orang di lain kotak yang sering membuat acara dan mengundang semua orang, termasuk aku, tetapi aku tak pernah datang. Akhirnya kuputuskan untuk datang dengan berbagai spekulasi memenuhi kepalaku. Spekulasi tentang orang-orang yang sama, suasana yang sama, dan bagaimana kotak itu masih ada di sana.

Begitu aku dan kedua teman dekatku memasuki gerbang menuju ke tempat acara, melihat bagaimana situasi sekitar, secara spontan kami memutuskan untuk tetap bertiga dan tidak terpencar terlalu jauh. Karena masing-masing dari kami tidak akan nyaman berada dalam kotak lain yang penuh dan tidak bisa menampung orang lain. Kami bergandengan tangan dan menyatakan sebuah tekad “Don’t let us be separated” di mana kami bagaimanapun jangan sampai berpencar terlalu jauh. Well, kami lebih nyaman tetap bertiga karena ketidakcocokan kami dengan yang lain terlalu besar.

Bukan berarti kami hanya berdiri di sudut ruangan dan berbincang bertiga saja. Kami tetap bersama dan berbincang dengan lainnya. Bersalaman, saling bertukar sapa, dan tersenyum. Tapi, apa yang kurasakan adalah hal itu hanyalah sebuah formalitas karena memang sudah lama tak jumpa. Padahal dulu ketika masih sama-sama di sekolah yang sama, kami dan mereka tak betul-betul dekat.

Seperti biasa kami menciptakan zona nyaman kami sendiri. Sejauh mungkin dari keramaian dengan suasana gerah menjadi dalih. Kami selalu menunggu giliran belakang untuk bergerak dengan rasa nyaman kami sendiri. Dan ketika salah satu temanku menghilang dengan sekotak makanan, tinggal aku dan satu temanku yang lain. Kami berdua memutuskan untuk menempati sebuah ruangan kosong di belakang yang cukup luas untuk kami berdua.

Suasana yang seperti ini yang menggangguku. Sebenarnya aku tidak ingin suasana semacam ini tercipta. Tetapi, adalah sebuah hal yang wajar dimana setiap orang akan berteman dengan orang yang sesuai dengan minat dan dengan orang yang menciptakan suasana nyaman dengan alasan yang sama. Aku hanya berusaha untuk bergabung dengan mereka. Dan aku tak tahu apakah ini hanya perasaanku saja, atau karena pengalaman buruk di masa lalu, setiap gerakanku terasa diawasi dan dinilai. Barangkali memang perasaanku saja.

Perasaan tidak nyaman sempat menyergapku. Hingga aku merasa tak enak makan. Rasa mual yang aneh sesekali menggelitik perutku. Dan rasa itu bertambah hebat ketika aku dan kedua temanku berjalan ke masjid untuk menunaikan ibadah, aku melihat seseorang yang saat ini masih membuat perasaanku tak menentu sedang berbincang dengan teman-temannya di beranda masjid.

Aku berhenti sejenak bersama kedua temanku. Kukatakan pada mereka perutku terasa mual dan aneh hanya karena melihat sosoknya dari belakang. Aku masih mengingat betul bagaimana rasanya bahkan hingga aku mengetik saat ini. Sesekali hidungku terasa pengar. Aku heran kenapa sensasinya bisa separah ini.

Aku berusaha untuk menghindari sosok itu. Karena hanya melihatnya dari belakang saja aku serasa kebas. Rasanya tak menentu. Ini benar-benar aneh dan aku sedang tidak mengarang-arang atau melebih-lebihkan.

Usai beribadah, aku berjalan keluar dari masjid, berbincang sebentar dengan teman lamaku yang lain, kemudian berpamitan. Aku menoleh sejenak untuk mencari sosok itu (Ya. Aku mencari sosok yang telah membuatku merasa tak menentu hanya dengan melihat punggungnya dari kejauhan). Aku bermaksud menghindarinya. Namun, ketika aku berjalan melewati lapangan basket, aku menemukannya sedang sibuk berfoto dengan teman-temannya.

Saat itulah aku merasa bersyukur memiliki tubuh yang pendek. Setidaknya, temanku yang tinggi yang berjalan di sebelahku bisa menutupiku. Meski aku tak yakin mengapa aku harus bersembunyi dari sosok itu seolah ia akan sengaja mencariku atau tak sengaja melihatku.

Perasaan semacam ini muncul karena aku dan sosok itu sudah tak pernah menjalin komunikasi selama beberapa bulan. Kami juga tak pernah bertemu sejak hampir satu tahun. Dan karena perasaan lama yang susah kutinggalkan di masa lalu, rasa mual dan aneh di perutku itu muncul.

Aku benar-benar berhadapan dengannya ketika aku dan kedua temanku mau tak mau harus ikut ajakan teman sekelas untuk berfoto bersama di dalam lapangan basket. Kami berjalan melewati pintu dari kawat dan besi di sisi lapangan. Sosok itu berdiri di sana dan mengobrol dengan teman-temannya. Ia melihat kami datang dan langsung menyerukan sebuah undangan untuk hadir ke rumahnya besok. Ia mengadakan acara buka bersama dan mungkin semacam perpisahan karena ia akan berangkat ke pulau lain untuk bekerja setelah hari raya Idul Fitri. Dengan cepat kukatakan, “Aku tidak bisa datang”, kemudian menyalaminya. Dan ketika ia menampilkan wajah pura-pura cemberutnya kepada kami (Tentu saja bukan hanya kepadaku) aku buru-buru masuk ke dalam lapangan hanya untuk membelakanginya. Aku tak bisa melihatnya terlalu lama tanpa menimbulkan rasa melankolis yang sebenarnya tak kusukai karena membuatku terkesan cengeng.

Aku esok tak bisa datang dengan sebuah alasan yang hanya bisa tersangkut di kepalaku sendiri tanpa bisa kuungkapkan. Tidak ada tenaga dan keberanian untuk mengungkapkan banyak hal selain penolakan untuk hadir. Esok aku ada acara sendiri yang sudah kurancang sejak lama. Sama sekali tidak mungkin kubatalkan. Lagi pula jika esok aku tak ada halangan pun aku barangkali memilih unuk tidak datang juga. Perasaan ini rumit. Dan aku hanya ingin menghindarinya selama mungkin hingga aku terbiasa.

Aku harus menghela napas sejenak. Catatan ini cukup mengurangi kadar oksigen yang masuk ke paru-paruku.

Aku akan mengakhiri catatan ini dengan banyak harapan. Harapan untuk kesehatan nenekku. Harapan untuk diriku sendiri agar menjadi lebih baik. Harapan untuk dunia yang lebih baik. Harapan untuk perasaan lama yang juga membaik. Dan harapan untuk sosok itu agar bisa berhasil dalam karirnya.

Ya, ampun. Bahkan hingga saat ini aku sama sekali tak bisa berhenti untuk mengharapkan dan mendoakan kebaikan bagi sosok itu.

Penunjuk halaman di Microsoft Word-ku sudah mencapai angka 5. Dan inilah akhir untuk catatanku malam ini. Semoga semua harapan yang kutuliskan terkabul. Aamiin.

Selamat malam.

Jumat, 17 Juni 2016

Cita-cita Berratus Tahun



Tulungagung,
17 Juni 2016

Sebuah pagi yang normal sejak kehidupanku tumbuh di sini seumur hidup. Meski dalam dua tahun terakhir ini aku mulai merantau ke kota lain sebagai seorang pelajar. Teriakan-teriakan adik sepupuku, kebutuhan ibuku untuk banyak berbicara dengan suara tinggi, dan suara-suara ribut lain semacam suara televisi atau peralatan memasak yang beradu satu sama lain. Kehidupan di rumah ini praktis tak pernah sunyi, bahkan sebelum memasuki waktu-waktu tidur di malam hari.

Aku bukan termasuk tipe orang yang tenang dalam keramaian. Di tengah-tengah segala keruwetan semacam kesalahan memasukkan bumbu dalam masakan, atau air mendidih yang terlalu lama karena kompor lupa dimatikan, atau tangisan anak-anak kecil yang banyak maunya. Aku tidak menyukai keramaian dan keruwetan semacam itu.

Aku merasa bahwa hidupku yang ideal adalah di tengah-tengah sebuah padang rumput luas di atas tebing yang menghadap laut. Dengan jarak dari kota yang tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak cukup dekat. Segerombolan domba atau kuda liar merumput di sudut-sudut padang yang luas, dengan punggung-punggung perbukitan menjadi latarnya. Suara yang kudengar hanyalah debur ombak puluhan meter di bawah tebing dan semilir angin dingin yang menepuk-nepuk pipiku. Dan di setiap sorenya aku akan duduk di teras rumahku, bercengkerama dengan seseorang, sambil menanti matahari terbenam melebarkan lari-larik cahaya oranye kemerahannya sepanjang horizon.

Tapi, meski rumah ini ributnya minta ampun, sampai terkadang aku ingin menikmati waktuku sejenak dengan diam-diam menyelinap keluar, tempat ini adalah satu-satunya hal yang membuatku rindu meski sejauh apa aku nantinya melancong. Tidak hanya tempat ini, tetapi juga orang-orangnya.

Sebenarnya, inti dari catatanku bukanlah tentang dimana aku lebih cocok untuk tinggal dan dalam suasana seperti apa. Paragraf-paragraf sebelumnya hanyalah suasana yang sedang kurasakan ketika aku mengetik catatan ini. Dan aku hanya sedang ingin menuliskannya.

Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan membahas tentang cita-cita.

Catatan ini adalah sequel dari catatan lamaku berjudul “Mimpi Berjuta Tahun” yang kuposting di Facebook dan Wattpad. Kalian bisa membacanya dengan meng-klik halaman ini https://www.wattpad.com/165286702-mimpi-berjuta-tahun.

Kali ini aku tidak menggunakan “Mimpi” sebagai awal judul. Aku sudah membuktikan bahwa itu hanyalah mimpi karena aku tak pernah terbangun dan mewujudkannya. Mimpi selamanya akan menjadi mimpi. Maka, aku menggunakan “Cita-cita” dalam judul ini. Karena menurutku untuk bercita-cita kita tidak perlu tertidur untuk menyusunnya. Sebuah tindakan yang terkadang kita lupa sudah tertidur beberapa jam, dan ketika bangun sudah banyak hal yang terlewat. Sebuah mimpi bahkan akan terhapus dari daya ingat otak kita beberapa menit setelah kita terbangun. Tapi, sebuah cita-cita tidak akan mudah terhapus dan terlewat begitu saja layaknya mimpi. Cita-cita itu lebih terasa … nyata. Sebuah angan-angan yang berbeda dengan mimpi yang seringkali abstrak dan acak.



Aku akan mulai masuk ke dalam inti catatan.

Pernahkah kalian memiliki sebuah keinginan, sebuah cita-cita besar, yang ketika kalian membayangkannya terwujud segala hal di sekitar kalian seolah menguap dan hanya menyisakan tubuh kalian, pikiran kalian, dan visual-visual khayalan kalian sendiri?

Pernahkah kalian memiliki sebuah cita-cita yang sebegitu besarnya hingga membuat diri kalian gentar dengan perasaan tak menentu karena bahkan cita-cita itu lebih besar dari nyali kalian untuk meraihnya?

Pernahkah kalian secara tidak sengaja menemui suatu hal yang mengingatkan kalian pada cita-cita besar kalian sehingga muncul perasaan tersentuh dan tekad kuat seolah cita-cita besar itu semakin mendorong kalian untuk mewujudkannya?

Perasaan semacam: “Ya Tuhan, aku sudah lama memiliki sebuah cita-cita besar yang semakin lama semakin membuatku sesak karena aku tak tahu apakah aku bisa mewujudkannya suatu saat nanti.”

Aku pernah merasakan ketiga-tiganya. Bahkan hingga sekarang.

Terkahir aku merasa merinding dan sesak adalah ketika aku melihat seorang temanku memasang foto sebuah tulisan “Fakultas Ilmu Budaya UGM” di DP BBM-nya. Ya, tulisan itu yang membuatku merinding dan sesak karena aku gagal mewujudkannya untuk menjadi bagian dari fakultas tersebut. Menurutku, itu adalah kehancuran pertamaku. Dan aku menuliskannya secara rinci di catatanku “Mimpi Berjuta Tahun”.

Tapi, percayalah, Kawan. Cita-citamu belum cukup tinggi jika belum membuatmu gentar.

Setelah mimpiku selama jutaan tahun itu hancur di hari pengumuman penerimaan mahasiswa baru, aku menata ulang kembali cita-citaku. Sebuah cita-cita ratusan tahun yang tak kusadari bersembunyi dalam diriku, menanti saat-saat yang tepat untuk muncul kembali dalam anganku. Cita-cita itu kemudian muncul lagi baru-baru ini ketika aku memasuki saat-saat menjadi mahasiswi S1 di universitas negeri lain selain UGM.

Mengapa aku menyebutnya sebagai “Cita-cita Berratus Tahun”? Karena cita-cita besar ini umurnya lebih muda daripada “Mimpi Berjuta Tahun”ku. Cita-cita ini muncul ketika aku memasuki masa-masa SMA, sedangkan mimpi itu muncul sejak aku duduk di bangku SD.

Cita-cita ini sempat tersembunyi ke celah paling dalam di ingatanku ketika aku memasuki masa-masa harus berusaha keras untuk mewujudkan “Mimpi Berjuta Tahun”ku. Bahkan ketika mimpi itu luruh, hancur berkeping-keping, meleleh bagai mentega, sempat ada perasaan takut dalam diriku untuk memunculkan kembali cita-cita yang diam-diam masih kusembunyikan dalam diriku. Karena saat itu kuberpikir bahwa mimpi yang seharusnya lebih mudah terwujud saja gagal kuwujudkan, apalagi cita-cita yang—bagiku—cukup gila ini.

Hanya saja, perkara mudah tidaknya sebuah cita-cita itu terwujud berasal dari tekad diri sendiri dan ridho Allah. Aku baru menyadarinya belakangan.

Cita-citaku ini cukup gila. Cukup gila untuk ukuran seseorang yang belum memahami sejauh mana kemampuanku untuk mewujudkannya, butuh seberapa besar upaya dan pengorbanan, serta butuh waktu seberapa lama.

“Cita-cita Berratus Tahun” yang muncul kembali setelah sekian lama kuendapkan dalam angan-anganku sendiri adalah untuk mendapatkan beasiswa S2 ke Eropa.

Bukankah itu cukup gila jika dibandingkan dengan “Mimpi Berjuta Tahun”ku melanjutkan sekolah S1 di UGM?

Cita-cita gila itu muncul ketika seorang dosen muda mengajar di kelasku untuk pertama kali di tahun lalu. Ia adalah lulusan salah satu universitas di Sunderland, UK. Dosen muda ini sangat cerdas dan menyenangkan. Dan karena latar belakang pendidikannyalah, secara diam-diam cita-citaku yang sengaja kusembunyikan itu muncul lagi perlahan-lahan.

Di sisi lain, munculnya cita-cita ini adalah hasil kegalauanku karena gagal mewujudkan mimpiku. Aku sempat merasa kesal karena mimpiku itu gagal kuwujudkan. Jadi, aku bertekad untuk memiliki cita-cita yang lebih tinggi dan akan mati-matian kukejar hingga dapat.

Apakah semudah itu?

Tidak. Sesekali perasaan ragu dan takut itu muncul dalam diriku. Terkadang aku mengingatkan diriku sendiri, “Kamu terlalu banyak omong kosong, Wara. Bercita-citalah sesuai kemampuanmu.” Dan bukankah aku pernah mengatakan di catatanku sebelumnya bahwa aku “Cukup belajar untuk tidak mengharapkan sesuatu yang tak bisa kuukur dengan kemampuanku sendiri?”

Tapi percayalah. Cita-citaku untuk bisa ke Eropa semakin hari semakin mendesakku. Aku sempat menepis desakan itu dan hanya bisa berangan-angan tentang keajaiban dari Tuhan yang entah bagaimana caranya akan mengantarku begitu saja ke sana.

Kemudian aku tersadar bahwa Tuhan tidak akan menurunkan keajaibannya padaku jika aku tidak berusaha sendiri. Bagaimana Tuhan akan menuntunku jika aku bahkan tak berani melangkah sedikitpun?

Aku pun memutuskan untuk tidak begitu muluk-muluk dalam berharap. Aku memang tidak mau mengharapkan sesuatu yang tak bisa kuukur dengan kemampuanku sendiri. Aku cukup belajar dari kesalahanku yang pernah terlalu berambisi dan idealis.

Namun bukan berarti aku mengubur cita-citaku itu dalam-dalam lagi.

Tak pernah aku berniat menghancurkan cita-citaku bahkan sebelum aku bertempur mengejarnya. Aku akan tetap membiarkannya menggantung sejengkal dari ujung hidungku agar aku tahu kemana aku harus mengejarnya. Cita-cita ini masih mengikutiku dimanapun dan kapanpun, dan perasaan bimbang itu juga masih menghantuiku.

Aku sedang mempersiapkan segala hal untuk mengejar cita-citaku ini. Tetapi, aku juga tidak terlalu tinggi mengharapkannya. Karena semakin tinggi kau berharap, kenyataan buruknya akan menghajarmu dan menginjakmu ke tanah. Persis seperti yang pernah kurasakan. Aku tak mau perasaan hancur itu hadir lagi dalam hidupku.

Aku hanya berpikir bahwa, jika cita-cita ini semakin mendesakku dan menghantuiku itu artinya aku memang ditakdirkan untuk mewujudkannya entah dengan cara apa dan bagaimana Tuhan nanti membantuku. Untuk itu aku percaya dengan cita-citaku. Yang kulakukan hanyalah berusaha mempertahankan kepercayaanku tersebut dengan berusaha dan berdoa. Sedikit saja keyakinanku goyah, cita-cita ini akan luruh bahkan sebelum aku mengecup hasil akhir upayaku.

https://www.wattpad.com/165286702-mimpi-berjuta-tahun


Sebagai penutup catatan ini aku ingin menyampaikan bahwa satu-satunya kekuatanku untuk mempertahankan keyakinanku pada cita-citaku adalah kedua orang tuaku. Orang tua yang membesarkanku sebagai seorang perempuan yang berani bercita-cita tinggi. Aku sekarang paham mengapa aku harus tetap menjadi seseorang yang berani mempertahankan cita-cita besar yang gila ini. Karena aku tidak mewujudkannya untuk diriku sendiri, tetapi lebih dari itu, untuk kedua orang tuaku yang telah meniupkan keberanian pada diriku untuk bercita-cita. Sebuah cita-cita besar yang melebihi nyaliku sendiri.

Dengan diiringi sebuah lagu lama yang kuputar berkali-kali, dan getaran audionya yang semakin menganggu, aku akhiri catatanku ini. Semoga catatan ini bisa membuat kalian lebih berani menata ulang cita-cita lama kalian dan mempercayai cita-cita besar kalian sendiri. Karena aku juga percaya bahwa dalam hidup, keberanian yang pertama kali perlu diajarkan adalah keberanian untuk memiliki cita-cita. Selamat pagi dan sampai jumpa di catatan-catatanku selanjutnya J

Kamis, 09 Juni 2016

Do the Best & Let God Do the Rest

Selamat datang kembali di diary blog-ku. Untuk catatan kali ini aku sedang tidak ada ide untuk membahas beberapa opiniku. Suasana juga sedang tidak begitu gloomy, hujan juga tidak turun malam ini, jadi aku sedang tidak ingin menuliskan hal-hal yang galau.

Tapi, tunggu dulu. Biar kupikir-pikir lagi. Aku tidak yakin bahwa apa yang akan kutuliskan kali ini bukan sebuah kegalauan.

Well, actually aku sedang tidak galau. Aku hanya sedang ingin menulis dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin kutulis. Meski barangkali kalian tidak ingin tahu, tetapi siapa tahu jika apa yang kutulisan di sini pernah atau sedang kalian rasakan juga.

Tetapi sebelumnya kalian perlu tahu bahwa aku akan butuh waktu untuk memposting catatan ini. Bukan hanya karena jaringan internet untuk meng-upload file tidak begitu mendukung. Lebih karena aku agak sedikit ragu untuk mem-posting tulisan yang sedikit membahas tentang  Jodoh.

Yap. Catatanku malam ini akan menyinggung tentang jodoh.

So, bagi kalian para jomblo silahkan pasang wajah serius, baca catatan ini baik-baik, coba resapi apa yang sedang kalian baca, dan jika bersedia silahkan tinggalkan komentar di kolom di bawah catatan ini. Lebih baik lagi jika kalian membaca dengan ditemani segelas cokelat hangat dan sedang meringkuk di atas sofa empuk dengan kaki tergantung di lengan sofa.

Sudah berada dalam posisi yang nyaman untuk membaca? Baiklah. Mari kita mulai.

Aku akan mulai masuk ke inti catatan dengan memberitahu kalian bahwa sebenarnya catatan ini menetas dari hasil beberapa kali aku mendapat nasehat, pancingan obrolan, dan pertanyaan seputar calon pendamping masa depan.

Firstly, I would like to say Oh my gosh Im still 20!

(Baru saja typo mengetik 20 menjadi 33 -_- )

Believe me Im still 20 years old like I ever said on my previous notes.

Sebenarnya, obrolan colongan dan celetukan-celetukan iseng mengenai calon pendamping masa depan ini sudah berlangsung sejak lama. Awalnya memang hanya celetukan-celetukan iseng seperti ketika sedang menonton televisi dengan Ibu, kemudian ada aktor ganteng yang berkarisma, celetukan iseng itu muncul. Jodoh kamu tuh harusnya ganteng kayak gitu! kata Ibu. Atau Menantu ideal bukan, Bu? tanyaku dengan senyum jahil dan melirik Ibuku.

Tapi sejauh itu kami hanya bercanda. Tidak benar-benar serius memikirkan tentang calon pendampingku atau calon menantu ibuku. Memang benar sesekali ibuku bercanda minta menantu bule lah apa lah tapi itu hanya sebatas bercandaan. Karena menurutku umurku baru 20 tahun dan ada hal lain yang lebih penting untuk kupikirkan selain mengenai calon pendamping.

Hhh Dari tadi ngomongin calon pendamping terlalu aneh nggak, sih? Bagaimana kalau kita sebut, secara frontal, calon suami? Tapi, kok, rasanya geli ya sudah ngomongin calon suami di umur segini? Hahaha.

Pikiran-pikiran tidak serius mengenai calon suami tadi itu kemudian mulai menggelitikku ketika kemarin, ketika aku menemani Tante yang kupanggil Momi ke luar kota, Momi mengajakku membahas mengenai umur berapakah aku SEHARUSNYA sudah menikah?

Pembahasan mengenai umur menikah ini muncul setelah kami membahas tentang kehendak Tuhan dan tentang Jodoh mah emang nggak bisa dikira-kira. Tahu-tahu klik gitu aja. Aku sendiri lupa bagaimana ceritanya sampai kami membahas tentang jodoh waktu itu. Yang jelas, obrolan pertama kali topiknya bukan itu. Obrolan kami mengalir begitu saja dengan topik yang berganti-ganti hanya untuk membunuh kesunyian di perjalanan.

Jadi, kurang lebih pembicaraan kami kemarin semacam ini:

Momi: Makanya, Mbak, mulai sekarang itu semuanya harus ditata.

Aku: Semuanya? Apanya, Mom?

Momi: Ya, masa depanmu. Seenggaknya kamu umur 25 itu harus sudah menikah. Yah, 23 tahun juga sudah boleh, sih. Idealnya segitu.

Aku: (Tersedak es teh sisa takjil buka puasa) 25 tahun? Mom, aku umur segitu sudah jadi apa? 23 tahun apa lagi. Baru setahun lulus kuliah itu mah. Syukur-syukur kalau lulus kuliah langsung dapat kerjaan.

Momi: Lha, terus kamu mau menikah umur berapa?

Aku: Ya  27 tahun lah maksimal. Kan aku juga banyak tanggungan buat sekolah lagi, karir, biayain adek-adek.

Momi: 27?! Heh, itu terlalu tua! 25 tahun aja bagi Momi udah terlalu tua. Kalau kamu umur 27 baru menikah kamu mau punya anak umur berapa?

Aku: Hahaha  Mom, kok jadi ngomongi pernikahan sekarang, sih? Pacar juga lagi belum ada.

Momi: Ngomongnya jangan gitu, Mbak. Ya kamu berdoa dong mulai sekarang biar dikasih jodoh yang sesuai, dilancarkan semua usahanya, diberi kesuksesan. Gitu. Kalau kamu udah dapat jodoh sebelum umur 25 tahun ya nggak apa-apa, kan?

Obrolan itu berakhir ketika aku mengangguk mengiyakan ucapan Momi.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir nasehat Momi emang bener juga. Kita tidak bisa menetapkan semua hal dalam hidup termasuk mau umur berapa kita menikah, mau jodoh yang seperti apa, dan mau sukses yang seperti apa. Semuanya ketentuan Tuhan dan kita, sebagai manusia, hanya bisa merencanakan dan berdoa untuk mendapat yang terbaik. Terbaik versi Tuhan pasti lebih baik dari terbaik versinya kita.

Aku terbiasa memberi target dalam hidupku. Dan setiap targetku biasanya kupatok dengan usia. Seperti umur berapa aku harus lulus kuliah, umur berapa aku harus bekerja, umur berapa aku harus menikmati masa-masa menjadi seorang perempuan lajang yang sukses, umur berapa aku harus menikah, sampai umur berapa aku punya anak.

Tidak hanya target usia. Aku juga memiliki target tentang apa yang harus aku capai di masaku menjadi seorang perempuan lajang yang sukses. Misalnya, travelling ke Eropa. Atau target tentang apa yang harus aku lakukan setelah lulus kuliah, yaitu menjadi relawan pendidikan di daerah terpencil di Indonesia.

Dan semua itu hanya target. Hanya target.

Aku butuh target untuk menuntun diriku sendiri melangkah dari satu tahapan ke tahapan yang lain. Dan setiap targetku harus jelas. Tidak boleh samar-samar. Target yang jelas membantuku lebih mantab mengambil keputusan. Misalnya, targetku dalam waktu dekat ini adalah menjadi relawan. Maka secara mantab keputusan yang kuambil adalah berusaha sebaik mungkin agar menjadi lulusan yang mumpuni sehingga keinginanku tercapai.

Aku tidak suka berjalan tanpa rencana karena aku cenderung sedia payung sebelum hujan. Setiap target yang kumiliki merupakan sebuah rencana yang sudah kupikirkan matang-matang apa resikonya dan apa yang harus kupersiapkan untuk menghadapi resiko tersebut. Bagiku, berjalan tanpa rencana sama saja seperti menyeberang jalan raya tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa kendaraan yang akan lewat. Aku tidak bisa dan tidak terbiasa jatuh ke dalam resiko tanpa ada persiapan sama sekali.

Kembali ke masalah jodoh dan umur pernikahan tadi.

Aku memilih umur 25 tahun sebagai umur minimal pernikahan dan umur 27 tahun sebagai umur maksimal pun ada alasannya. Umur 25 tahun memang umur ideal untuk menikah baik secara biologis dan psikologis. Itu sebabnya aku memilihnya sebagai umur minimal. Selain itu karena dalam waktu 5 tahun mulai dari sekarang aku memiliki target lain yang menurutku sangat penting. Yaitu melanjutkan sekolah untuk gelar Master, mengejar karir, dan membiayai adik-adikku sekolah untuk membantu meringankan beban orang tua. Sedangkan alasanku memilih umur 27 tahun sebagai umur maksimal adalah karena aku berpikir bahwa di usiaku yang ke-27 tahun nanti aku berusaha mencapai dinamika hidup yang lebih stabil dimana karirku stabil, tanggungjawabku sebagi anak sulung sudah kulaksanakan setidaknya setengah jalan, dan aku sudah benar-benar puas merayakan masa-masa lajangku sebagai perempuan yang sukses.

Tapi sekali lagi, aku sebagai manusia hanya bisa merencanakan. Kehendak dan kendali tetap di tangan Tuhan. Bisa saja target-target yang kutata rapi dan rinci tadi ditukar oleh Tuhan dengan kehendaknya yang lebih baik. Dan kemungkinan semacam itulah yang kumaksud dengan sebuah resiko yang sudah kupersiapkan payungnya. Yaitu persiapan mental.

Sudah bukan waktunya lagi bagiku terlalu besar dalam memiliki ambisi yang ketika ambisi itu diubah Tuhan ke jalan lain aku akan merasa gagal dan menangisinya. Ini waktuku untuk membuka mata dan pemikiranku ke hal yang lebih luas lagi, seluas rahmat yang telah Tuhan persiapkan untukku.

Nasehat Momi sedikit banyak membuatku mempertimbangkan targetku mengenai usia. Barangkali menurutku umur 20 tahun terlalu muda untuk memikirkan tentang seorang calon pendamping. Tapi, aku menangkap inti dari obrolanku dengan Momi sebenarnya adalah di usiaku yang 20 tahun ini aku jangan hanya terfokus mengejar cita-cita dan karir, tapi juga harus fokus ke semua hal yang menyangkut masa depanku. Masa depanku tidak hanya seputar menjadi seorang relawan, wanita karir yang sukses, seorang kakak yang mampu menyekolahkan adik-adiknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi, atau seorang anak yang berbakti pada orang tua. Tapi ada yang lebih penting dari itu yang akan kualami sekali seumur hidup dimana kebahagiaanku akan terasa semakin sempurna, yaitu ketika aku menemukan seseorang yang selalu mendukungku dan memahami segala cita-citaku. Seseorang yang akan menemaniku di sisa-sisa umurku. Seseorang yang akan melengkapi segala kebahagiaan yang kuperoleh selama ini. Dan seseorang semacam itu yang seharusnya juga kupikirkan mulai dari sekarang.

Hanya saja, aku tidak akan terlalu mati-matian mencari seseorang yang semacam itu tadi. Menurutku, untuk mendapatkan seseorang yang semacam itu aku harus lebih memantaskan diri. Menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan. Aku yakin semakin baik dan menyenangkan kepribadian diri kita, akan semakin baik juga seseorang yang diberikan Tuhan pada kita.

Aku tidak akan terlalu mencari. Karena terkadang apa yang kita cari tidak bisa kita temukan, sedangkan apa yang kita diamkan dalam doa akan datang dengan sendirinya. Aku juga tidak akan terlalu memikirkan semua targetku karena semakin kupikirkan semakin membuatku pusing sendiri dengan berbagai kemungkinannya. Malah nantinya tidak akan menjadi kejutan yang manis. Biar saja semua diatur oleh Tuhan. Fokuslah untuk berusaha sebaik mungkin and let God do the rest (