Selasa, 14 Februari 2017

Cita-cita yang Realistis (?)



Halo! Selamat datang kembali di blog yang semakin ke sini rasanya semakin jarang ku update ini.

Tiba-tiba saja lagu yang sedang kudengarkan mengantarkan mood-ku untuk menulis sesuatu malam ini. Sepertinya, aku akan menuliskan suatu opini yang berkaitan dengan pilihan hidup seseorang. Pilihan hidup yang kumaksud lebih mengarah ke bagaimana kita sebagai manusia dianugerahi sesuatu yang sangat berharga oleh Tuhan, begitu berharganya hingga bisa memengaruhi kita dalam menjalani kehidupan. Barangkali memang agak berlebihan, tapi sesuatu itu, karena satu dan lain hal sebut saja: CITA-CITA.

Aku memang pernah membahas tentang cita-cita, tentang bagaimana cita-cita yang begitu tingginya hingga membuatku gentar, tentang apakah aku tak yakin apakah cita-cita itu benar-benar akan aku realisasikan dengan usahaku sendiri.

Namun dalam tulisan kali ini, dalam deretan-deretan kata di otakku yang kuketikkan dengan cepat ini, aku ingin membahas mengenai cita-cita yang realistis.

Aku pernah beberapa kali mendengar ada orang lain yang mengatakan, “Punya cita-cita itu yang realistis dong!” atau setidaknya mereka mengungkapkan hal yang intinya sama hanya saja dengan kalimat lain. Atau bahkan aku pernah membaca beberapa artikel yang intinya itu sama: Bercita-citalah sesuai kemampuanmu. Intinya ya itu tadi: bercita-citalah yang realistis.

Tapi, cita-cita yang realistis itu seperti apa, sih? Apa benar cita-cita yang realistis itu adalah cita-cita yang sesuai dengan kemampuan kita? Kalau kita tidak mampu, berarti cita-cita itu tidak realistis?

Hey, Guys. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut aku ingin kalian tahu bahwa tidak ada larangan untuk bercita-cita setinggi mungkin, sekalipun itu menurutmu melampaui kemampuanmu. Tidak ada batasan untuk berangan-angan ingin menjadi apakah kalian. Tuhan mengaruniai kita kemampuan untuk berpikir dengan imajinasi-imajinasi yang tidak berbatas. Jadi, yang aku ingin kalian tahu adalah singkirkan dulu pikiran-pikiran kalian apakah kalian mampu atau tidak. Yang perlu kalian garisbawahi adalah tentukan dulu kalian bercita-cita ingin menjadi apa. Tentukan saja cita-cita sesuai dengan keinginanmu tanpa dibatasi oleh keragu-raguan tentang kemampuan kalian itu.

Oke. Jadi, menurut pendapatku sendiri cita-cita yang realistis itu memang cita-cita yang bisa kita raih dengan kemampuan kita sendiri. Cita-cita yang tidak hanya muncul atas dasar imajinasi saja. Cita-cita yang sesuai dengan kapasitas kita. Contoh yang paling menyedihkan adalah misalnya ada seseorang yang bercita-cita untuk menjadi seorang astronot tetapi ia terjebak di suatu keadaan dimana ia ternyata tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Cita-cita jadi astronot-nya apa kabar? Kapasitas kemampuannya untuk menjadi astronot tipis sekali. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada.

Contoh semacam itu, mau tidak mau, memang benar-benar terjadi di sekitar kita. Jangankan astronot. Cita-cita orang lain yang bagi kita saja cukup sederhana, tetapi bagi mereka tidak sesederhana itu. Semuanya ya karena itu tadi: kapasitas.

Jadi, apakah benar kita memang harus bercita-cita secara relistis? Yang sesuai dengan kemampuan kita?

Sebenarnya, tidak ada salahnya kita merenung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di paragraf sebelumnya, aku sudah menyuruh kalian untuk mencoba bercita-cita di luar batas kapasitas kalian bukan? Sekarang, aku ingin kalian tahu bahwa kalian tidak akan tahu sejauh mana batas kapasitas kalian jika kalian belum mencobanya. Sebelum kenyataan benar-benar menyatakan bahwa kapasitas kalian hanya cukup untuk memiliki cita-cita yang lebih realistis dari cita-citamu sebelumnya, tidak ada salahnya kita menguji batas kita sendiri. Toh, pada akhirnya kita akan tahu.

Lalu bagaimana jika ternyata cita-cita kita tidak realistis? Bagaimana jika cita-cita itu tidak sesuai dengan kapasitas kita?

Guys, aku percaya bahwa tidak ada cita-cita yang berada di luar batas kapasitas kita. Semuanya selalu berada dalam jangkauan kita. Hanya saja, Tuhan juga memiliki andil yang cukup besar perihal ini. Jika kalian sudah mati-matian berjuang untuk menguji batas kalian sendiri dan hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu, bukan berarti cita-citamu gagal. Bukan berarti cita-citamu tidak realistis. Cita-citamu cukup realistis, tetapi Tuhan pasti memiliki kehendak lain mengapa kalian harus menerima kenyataan bahwa serealistis apapun cita-citamu, tetapi kehendak Tuhan jauh lebih bermanfaat. Sekalipun kehendak Tuhan mungkin berlawanan dengan cita-citamu.

Bisa jadi cita-citamu realistis. Tetapi, tidak baik untuk kehidupanmu di masa yang akan datang. Sebaliknya, Tuhan selalu mampu mengarahkanmu ke pilihan lain yang lebih baik. Dan arahan Tuhan akan selalu menyertaimu di sela-sela usahamu merealisasikan cita-citamu itu. Tercapai tidaknya cita-citamu, setelah usaha yang begitu panjang, pada akhirnya akan mengantarkanmu pada keputusan Tuhan yang tidak akan pernah menempatkanmu di tempat yang salah.

Jadi, kesimpulannya adalah. Selama belum ada larangan untuk bercita-cita tinggi, cobalah untuk selalu memiliki target yang melampaui kemampuanmu. Setidaknya untuk menguji batasmu sendiri untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa sebenarnya kalian mampu untuk berusaha lebih. Cita-cita yang realistis tidak hanya seputar cita-cita yang sesuai dengan kapasitasmu, tetapi cita-cita yang dipilihkan Tuhan untukmu. Cita-cita terbaik yang akan disematkan Tuhan dalam angan-anganmu, yang kelak dengan usaha keras dan doamu akan menjadi kenyataan.

Tulisan ini mewakili keresahan yang selama ini selalu kurasakan. Aku memang mengalami sedikit masalah dengan pandangan tentang cita-cita yang realistis. Seolah aku merasa bahwa cita-citaku tidak realistis, tidak sesuai dengan kapasitasku. Tapi, aku mencoba untuk memotivasi diriku sendiri dengan membuat tulisan ini. Dan aku harap tulisan ini juga akan memotivasi kalian.

Aku berharap bahwa apapun cita-cita kalian semoga menjadi jalan yang terbaik yang bisa kalian usahakan untuk direalisasikan. Semoga Tuhan senantiasa membimbing kita ke arah yang lebih baik dan merestui pilihan-pilihan yang kita ambil.

Akhir kata untuk catatan malam ini, kuucapkan terima kasih atas waktu kalian. Sampai jumpa di catatan selanjutnya. Byeee~

Tentang Ayah - Ayahku Hebat



Di sinilah aku. Di sudut kamar, dengan sebuah laptop yang batrainya tinggal separuh, dan perasaan cemas yang mendera sejak pagi-pagi buta tadi.

Hari belum cukup malam. Tapi rasanya mataku sudah berat dan aku lelah. Kalau saja bukan karena aku sedang gelisah dan ingin menulis di sini, aku tidak akan menghabiskan sisa-sisa daya batrai laptopku untuk mengetik setidaknya satu atau dua halaman.

Ini tentang Ayahku.

Untuk mengetik tiga kata itu rasanya aku sudah ingin menangis lagi. Padahal bengkak kelopak mataku belum sembuh akibat menangis siang tadi.

Catatan ini kudedikasikan untuk Ayah. Untuk seorang Superman keluarga. Sosok pemimpin yang penuh kasih, penuh rasa ikhlas, dan pejuang yang tak pernah mengenal letih.

Melihat betapa aku sering—secara diam-diam—membanggakan Ayah di belakangnya, kurasa sudah banyak yang tahu bahwa aku begitu dekat dengannya. Ketika aku masih kecil aku begitu dekat dengan Ayah. Bukan berarti sekarang sudah tidak dekat. Kedekatan kami berbeda tergantung usia dan kedewasaan.

Aku ingin mengenalkan sosok seorang Ayah bagiku.

Ayah adalah seorang laki-laki yang penuh kasih. Rasa sayangnya untuk anak-anaknya begitu berlimpah. Ketika aku masih kecil, aku masih ingat betul bahwa Ayah sering membacakan dongeng untukku sebelum tidur. Dan ketika Ayah akan berangkat ke kantor Ayah juga selalu bertanya padaku, “Mau dibelikan apa?”

Saat itu, sebagai seorang anak permintaanku macam-macam. Dan hampir seluruhnya tentang makanan. Kalau bukan es krim, cokelat, atau keju.

Ayah tidak pernah melanggar janjinya. Ketika Ayah pulang dari kantor Ayah selalu membawakan pesananku. Ayah juga sering membawakan aku buku cerita dan malamnya ia akan membacakan dongeng dari buku itu untukku. Sesekali Ayah menggambarkan ilustrasi dongeng padaku. Aku masih ingat betul bagaimana cara Ayah menggambar pohon untukku di selembar kertas.

Terkadang Ayah juga memanjakanku dengan berbagai kaset-kaset VCD tentang Tom & Jerry, Saras 008, atau Winnie The Pooh. Pokoknya, masa kecilku begitu sempurna bukan hanya karena Ibu tetapi juga karena Ayah.

Begitu aku memiliki adik, Ayah juga menyayangi adik-adikku sama sepertiku. Bedanya, Ayah mulai jarang menanyakan pesanan kepada adik-adikku ketika akan berangkat ke kantor. Tapi bukan berarti Ayah pilih kasih. Ayah menyayangi kami dengan caranya sendiri.

Ketika aku beranjak dewasa, aku merasakan mulai jarang bercanda dengan Ayah. Kami jarang mengobrol dalam waktu yang lama seperti saat kami menghabiskan waktu menjelang tidur dengan sepenggal dongeng. Hingga sampai aku terkadang perlu memikirkan topik apa yang ingin kubicarakan dengan Ayah ketika kami sedang duduk berdua. Bahkan meski hanya duduk berdua dalam diam dengan Ayah, rasanya sudah begitu menenangkan.

Ketika aku dewasa, Ayah menghabiskan waktu bercandanya dengan adikku yang laki-laki. Kemudian ketika adik bungsuku yang perempuan lahir Ayah menghabiskan waktu bercanda dengannya. Hingga sekarang di usia Ayah yang sudah tak muda lagi.

Saat-saat Ayah bercanda dengan adik bungsuku adalah saat-saat yang aku dan adik laki-lakiku tunggu. Karena suasana yang hidup, cair, dan menyenangkan tidak hanya Ayah bagi dengan adik bungsuku saja. Tetapi juga dengan kami.

Ayah tidak pernah sedikitpun mengurangi rasa sayangnya pada aku dan adik-adikku. Sebaliknya, Ayah—sering kurasakan—menyayangi kami dengan bermacam cara.

Meskipun aku sudah bukan Daddy’s Little Girl lagi dan sudah beranjak dewasa, aku tahu Ayah selalu mendukung setiap cita-cita dan keinginanku. Meskipun Ayah, secara waktu harus berbagi dengan pekerjaan yang semakin menumpuk, aku tahu Ayah telah mempersiapkan segala hal untukku nanti di masa depan.

Ayah sendiri yang mengatakan, “Kamu tenang saja. Ayah sudah mempersiapkan banyak hal untuk masa depanmu nanti.”

Barangkali secara finansial, Ayah sudah tidak seperti dulu lagi. Karena harus berbagi dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang semakin banyak. Tapi bagiku itu tidak masalah. Ayah tidak pernah menyayangiku dengan memberikan materi yang berlimpah. Tapi rasa sayangnya padaku kurasakan benar-benar luar biasa.

Dengan adik laki-lakiku, Ayah juga sangat menyayanginya. Aku tahu ayah selalu membanggakan adik laki-lakiku yang setangguh Ayahku. Ayah membawanya bertemu dengan teman-temannya, mengenalkan adik laki-lakiku pada mereka, dan mengajak adikku melakukan hobi yang sama.

Dengan adik perempuanku, Ayah lebih sering menghabiskan waktu untuk menggodanya sampai adikku jengkel. Terkadang Ayah juga masih menemaninya tidur ketika adik perempuanku tak bisa tidur. Sering kulihat Ayah dan adik perempuanku bercanda dengan saling menggoda satu sama lain. Melihat itu rasanya Ayahku tak pernah menua.

Ayah adalah orang yang baik, Sangat baik. Ia tidak akan segan-segan membantu orang lain yang membutuhkan. Ayah bisa mengusahakan banyak hal hanya untuk meringankan beban orang lain. Dan karena itu pula banyak orang yang sangat menyegani dan menyayangi Ayah.

Ayah juga sosok pekerja keras. Darinya aku benar-benar tahu apa itu arti ‘maju terus pantang mundur’. Jika Ayah menghendaki sesuatu, ia akan berusaha dan mengejarnya sampai dapat. Selelah apapun Ayah, sesibuk apapun ia, Ayah selalu berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannnya sebaik mungkin. Dan tak jarang pula kerja kerasnya selalu membuahkan hasil yang membanggakan.

Tetapi, semakin tinggi pohon semakin kuat angin menggoyangkan dahannya.

Sebagai seseorang yang telah mendapatkan kesuksesan satu per satu, tak sedikit juga yang iri pada Ayah. Aku memang tidak pernah tahu atau mendengar secara langsung dari Ayah. Tapi aku jelas melihat bahwa Ayah kerap gelisah karena ada beberapa masalah yang menderanya. Aku tahu betul bahwa Ayah lelah, Ayah ingin sejenak beristirahat, tapi Ayah belum ingin memulainya. Ayah masih ingin berjuang. Meski perjuangannya kerap kali tak berjalan mulus.

Ada saja kendalanya. Ada saja orang yang berusaha menghalangi upaya baiknya.

Sempat aku berpikir, kurang menderita bagaimana Ayahku ini. Perjuangannya selalu kurasakan berdarah-darah, meski hasilnya tak pernah mengecewakan, tapi rintangan yang Ayah hadapi terlihat begitu besar. Begitu memberatkan langkahnya. Tiap langkah Ayah sepertinya terdapat halangan.

Tapi Ayahku hebat. Ayahku mampu bertahan dan berusaha melewati rintangan itu.

Aku bersyukur mempunyai ayah seperti Ayah. Aku bersyukur, seberapa banyak orang yang tidak menyukai Ayah, masih ada banyak orang yang menyayangi dan mendukungnya. Aku selalu menyayangi Ayah meski aku tahu sebesar apapun rasa sayangku aku tak pernah mengucapkannya secara langsung di depan Ayah. Aku memang pengecut. Hanya berani mengungkapkan permintaan maaf, terima kasih, dan rasa sayang melalui tulisan secara diam-diam.

Ayah, maaf jika aku masih belum bisa membuat Ayah bangga. Maaf belum bisa menjadi orang yang sukses untuk Ayah. Jaga kesehatan terus, ya, Ayah. Biar Ayah bisa memantau kerja keras anak-anak Ayah menjadi orang yang sukses untuk Ayah.

Terima kasih atas rasa sayang yang tak pernah luntur sedikitpun pada kami. Terima kasih atas kerja keras Ayah demi kami. Terima kasih atas nasihat dan dukungan Ayah. Ayah adalah seorang ayah yang berhasil di mata kami.

Tetap kuat, ya, Ayah. Jangan pernah menyerah. Ada kami yang selalu mendukung ayah. Kami siap menjaga Ayah karena kami semua sayang Ayah.

Tulungagung, 7 Juni 2016.

Sabtu, 07 Januari 2017

Menjadi Bria Sandoval

Sesuatu baru saja mengenai mataku. Rasanya dingin. Sesuatu itu kemudian meluncur turun dari atas kelopak mataku yang tertutup, terus turun hingga mengenai tulang pipiku. Kemudian samar-samar, kudengar suara sesuatu yang jatuh menyentuh tanah menetes dan terserap ke lapisannya perlahan-lahan.

Aku tak pernah tahu telingaku bisa sebegini pekanya.

Air itu menetes lagi. Kali ini kurasakan sesuatu memayungi kepalaku yang terbaring di atas ransel besar. Kubuka mataku perlahan dan samar-samar kulihat sesosok berkulit coklat sedang memamerkan giginya dengan begitu manis tepat di atas jidatku.

"Hey, bangun. Kau akan ketinggalan sesuatu yang menyenangkan lagi," kata laki-laki itu. Setidaknya aku tahu dia laki-laki dari tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa kecuali sebuah celana surfing. Kulitnya begitu coklat. Tato naga yang lebih mirip Nessie si monster Lochness terlihat jelas di lengan kanannya tepatnya di bagian yang diberkahi otot Latissimus Dorsi yang terbentuk sempurna. Bahkan lebih coklat dariku dengan rambut hitam sebahunya yang dibiarkan tergerai. Ia menenteng sebuah surfing board berwarna biru turquois.

Aku masih terbengong-bengong di tempatku berada ketika satu sosok lagi muncul. Kali ini perempuan. Rambut pirang panjangnya digelung tinggi-tinggi dan basah. Ia mengenakan pakaian renang yang menunjukkan bentuk tubuh rampingnya yang terlalu jelas.

"Kenapa, Rowan? Dia tidur siang lagi?" tanya perempuan itu sambil menumpangkan salah satu tangannya yang penuh gelang manik-manik ke atas kepala laki-laki yang dipanggilnya Rowan.

Tunggu dulu. Aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?

Perempuan berambut pirang dan berkulit sewarna cappuccino itu ikut-ikutan jongkok di hadapanku. Mata biru gelapnya begitu jelas terlihat sewarna laut Arktik.

"Kau yakin tidak berenang?" tanya perempuan itu lagi.

Aku hanya bisa berkedip-kedip.

Tahu-tahu laki-laki bernama Rowan mengangkat bahunya. "Yah, aku tidak akan memaksanya lagi saja," katanya yang kubalas dengan tatapan kosong. "Terakhir kali aku memaksamu kau hampir saja mutah di atas perahu Devon, ingat?" lanjutnya lagi.

"Susul saja kami jika kau tertarik. Oke?" Perempuan di hadapanku ini kemudian beranjak berdiri dan meraih surfingboard Rowan kemudian berlari pergi dengan disusul suara teriakan jengkel Rowan.

"Starling, kembalikan!"

Nama itu juga. Aku pernah tahu nama itu. Tapi di mana?

Seperginya mereka berdua aku hanya terpaku seperti orang bodoh. Rasanya beberapa menit yang lalu aku tidur di kamarku sendiri. Sekarang tahu-tahu, Tuhan memindahkanku di tempat lain yang sangat asing bagiku. Aku yakin betul kamarku tidak beratap kanopi pepohonan hijau yang rindang dengan daun-daunnya yang lebar. Dindingku juga bukan batang-batang pohon. Dan kasurku! Aku tidak mungkin tidur di atas kasur yang terbuat dari pasir putih yang begitu halus laksana tepung!

Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tidak lagi berada di dalam kamarku. Tetapi di sebuah pantai. Yang benar saja aku berangkat tidur di kamarku sendiri dan terbangun di sebuah pantai?!

Dan bajuku ... apa pula ini? Kemana perginya baju tidurku? Kenapa bantalku tiba-tiba juga berubah menjadi sebuah ransel besar begini?

Dengan terburu-buru aku berdiri. Kurasakan angin laut menerpa wajahku lebih keras. Helai-helai rambut pendekku terdorong ke belakang kepala dan bergerak-gerak menyentuh leher.

Aku menunduk dan mendapati celana pendekku berubah menjadi celana serut sebawah lutut berwarna coklat muda. Well, setidaknya bajuku masih sama.

TAPI AKU DIMANA?!

Kupicingkan mataku sebentar ke bibir pantai yang berjarak hampir seratus puluh meter dari tempatku berdiri dan kudapati laki-laki bernama Rowan dan perempuan bernama Starling baru saja beranjak dari air laut. Mereka duduk berdua menghadap bibir pantai. Sesekali mereka adu tinju dengan lengan satu sama lain.

Aku mulai berpikir. Mana mungkin aku terjebak di pantai dengan dua orang yang sedang berpacaran?

Aku berjalan perlahan dan sesekali menoleh ke belakang. Beberapa puluh meter di atas hutan kulihat sebuah tebing dengan beberapa rumah yang kutebak sebagai villa. Kemudian aku menoleh lagi ke depan dan tiba-tiba sudah berada di bibir pantai.

Air laut yang hangat menyentuh ujung-ujung jemariku. Aku terpaku lagi. Air laut ini terasa asing. Seolah aku pernah berkeliling ke banyak pantai saja. Tapi sesuatu di dalam kepalaku memberitahuku bahwa aku sedang berada di tempat yang sangat asing. Begitu pula air laut ini.

"Laut Karibia tidak cocok untuk surfing. Seharusnya kita membawa perlengkapan diving tadi," kata Rowan padaku. Ia tersenyum. Perempuan di sampingnya tersenyum.

Dan aku cemberut.

Cara kedua orang itu memandangku seolah kami sudah kenal dekat sejak lama.

"Tapi Devon bilang kita tidak bisa diving hari ini. Semua perlengkapan disewa oleh murid-murid menyelam Jack," kata Starling.

"Aku sedang ada di mana?" Pertanyaan itu meluncur dari mulutku dengan sekehendaknya saja.

Giliran Starling dan Rowan yang menatapku bengong.

"Kau baik-baik saja? Apa kepalamu kejatuhan buah kelapa ketika sedang tidur siang tadi?" tanya Rowan.

"Tidak ada pohon kelapa di tempatnya tidur tadi, Rowan," jawab Starling.

Rowan bangkit diikuti dengan Starling. Ia berjalan mendekatiku dan menempelkan telapak tangannya ke keningku seolah aku tiba-tiba terjangkit demam.

"Kita sedang di Belize, Bria."

Bria? Tanyaku dalam hati.

"Kau ke sini dengan adikku seminggu yang lalu dengan perahu dari Livingston untuk menghadiri Lobsterfest. Ingat?" tanya Starling sambil menunjuk Rowan. Oh, jadi dia adiknya? Pikirku lagi. Tapi, aku sama sekali tidak ingat.

"Livingston? Itu dimana? Dan Bria ... siapa Bria? Aku bukan Bria," jawabku mulai kesal.

"Dan ... Belize? Mana mungkin aku ada di Belize sekarang!" teriakku.

Starling dan Rowan saling pandang. Kemudian, awan hitam berarak begitu dekat ke arah kami. Dan sekonyong-konyong hujan turun dengan lebatnya hingga aku terjungkal.

Aku jatuh terduduk dengan mata terpejam menghindari hantaman butir-butir hujan yang keterlaluan lebatnya. Begitu aku terbuka, hujan itu tiba-tiba berhenti. Aku terdampar kembali di atas tempat tidurku. Tetes-tetes hujan kini berubah menjadi tetes es krim.

Es krim?

Aku mendongak. Dengan kepala masih dihiasi kebingungan, aku melihat sosok lain yang menggantikan Rowan. Adik sepupuku yang paling kecil bertengger di atas bantalku sambil menyodorkan es krim ....

Aku begitu terkejut hingga melompat bangun. Tangan kananku masih menggenggam buku yang kubaca: Wanderlove oleh Kirsten Hubbard.

Aku ternganga lagi. Sisa es krim milik adik sepupuku mengalir melewati jidatku hingga ke ujung hidung. Tapi aku masih terpaku seperti orang bodoh.

Benar juga. Rowan, Starling, dan Bria. Ketiga nama itu hanya ada di buku yang semalam kubaca.

Jadi aku tadi bermimpi?

Senin, 19 Desember 2016

Resolusi 2017: Menjadi Peri untuk Anak-anak di Daerah Konflik



Sebuah lagu mengalun perlahan di kedua telingaku. Semula aku tak yakin akan menulis lagi setelah vakum beberapa lama. Rasa bosan yang terlalu lama mengendap memang benar-benar menyebalkantapi bagiku, hal tersebut sekaligus memberikan warna baru pada zona nyaman yang maish belum mampu kutinggalkan sepenuhnya.

Jam tidur yang ideal seharusnya sudah lewat sejak hampir satu jam yang lalu. Tetapi, malam yang sepihanya ditemani suara kipas angin, musik, dan dinding kamar dengan coretan-coretan lama seputar negara mana saja yang ingin kukunjungiadalah waktu yang ideal untuk menulis.

Suasana yang tepat untuk menulis bagiku bukanlah di sebuah meja dengan secangkir kopi atau cokelat hangat. Tetapi di atas tempat tidurku sendiri, bersandar, dan dengan beberapa daftar lagu lama yang diputar secara acak. Lagu-lagu lama itu tak jarang memberiku sensasi yang berbeda ketika menulis. Tergantung jenis musik apa yang sedang kudengarkan.

Well, kurasa tiga paragraf pembuka di atas sudah cukup. Aku tidak akan menambahkan beberapa alasan klise seputar mengapa aku baru menulis lagi di sini setelah lewat dua bulan sejak terakhir kali aku memposting catatanku.

Tapi memang dua bulan belakangan ini banyak hal yang terjadi. Mulai dari tugas-tugas kuliah yang mulai rampung satu per satu, terkapar tidak berdaya karena sakit di tengah-tengah deadline dan menjelang ujian akhir semester, bercanda dan membicarakan hal yang biasa dengan teman yang menurutku itu-itu saja, sesekali pulang ke kampung halaman, terkadang dibuat kesal dengan beberapa hal yang terjadi sepanjang masa akhir perkuliahan semester ini, dan yang paling penting aku baru saja menyambut sepupu baru.

Kemudian tahu-tahu sekarang sudah berada di ujung 2016. Bulan Desember akan habis dalam hitungan hari dan aku bahkan sudah lupa resolusi apa yang kucanangkan setahun lalu tetapi sepertinya hanya terealisasi sepertiganya saja.

Bicara mengenai ujung tahun 2016, jika kurenungkan sekali lagi, ada begitu banyak hal yang sudah kulewati. Barangkali tidak akan muat kutuliskan satu per satu di halaman ini. Bukan karena aku gampang melupakan hal yang remeh-temeh ataupun pelupa, hanya saja aku merasa kejadian yang sudah berlangsung tahun ini kurang lebih sama lah dengan tahun sebelumnya. Mungkin hanya ada beberapa perbedaan sedikit yang menurutku tidak banyak membantuku berubah begitu jauh.

Berubah menjadi pribadi yang lebih baik memang benar-benar membutuhkan niat yang tak hanya seujung kuku.

Banyak hal yang kupikirkan malam ini mengenai apa saja yang telah kulakukan setahun ini. Kemajuan besar apakah yang sudah kulakukan. Kesalahan-kesalahan apakah yang sudah kuperbaiki.

Lupakan sejenak resolusi tahun 2017. Mari kita lakukan evaluasi terhadap apa yang telah terjadi selama satu tahun terakhir ini.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, tidak banyak yang berubah di tahun ini. Aku, ya, tetap menjadi seseorang yang selalu ingin keluar dari zona nyaman tapi masih saja terjebak dengan rutinitas-rutinitas yang sama. Seperti berjalan di atas treadmill. Kakiku melangkah tetapi … aku masih di situ-situ saja.

Aku tetap orang yang sama yang selalu ingin melihat dunia luar tanpa terhalang layar kaca dan koneksi internet dari wifi gratis. Tapi, barangkali memang bukan di tahun ini rezekiku untuk pergi ke tempat baru akan terlaksana.

Aku juga tetap menjadi seseorang biasa yang terkadang sibuk dengan pemikiranku sendiri, merajut kisah-kisah di dalam kepalaku tanpa kutuangkan dalam sebuah catatan, membuka draft-draft lama dan mengerutkan kening ketika aku membaca tulisanku sendiri sambil membatin ‘mengapa aku menulis seperti ini?’, mengkhayalkan tokoh fikisku sendiri yang kutulis dalam sebuah cerita, dan mengomentari film-film yang kutonton sendiri untuk kemudian mengatai sutradaranya yang menurutku tak becus hanya karena akhir ceritanya tak sesuai dengan harapanku.

Dan aku masih sama saja dengan pribadi setahun lalu yang mulai bosan dengan daftar lagu di ponselku sendiri tapi enggan menghapusnya dan menggantinya dengan lagu-lagu populer yang baru. Mengganti lagu-lagu lamaku semata-mata hanya akan membuatku lebih ingin mendengarkannya lagi dan lagi.

Sebentar. Aku perlu menghela napas karena aku sedang tidak mengerti dengan apa yang kutulis ini.

Oke. Jadi begini. Intinya, tidak banyak hal-hal yang mengejutkan yang kualami di tahun ini meski kuakui aku memang kadang pelupa jadi barangkali hal-hal yang mengejutkan itu memang ada tetapi aku tanpa sengaja melupakannya. Atau mungkin sebenarnya beberapa hal yang kulalui di tahun ini tidak monoton-monoton amat dan aku sedang berada di suasana yang sedang tertekan makanya aku merasa tidak ada yang istimewa di tahun ini, padahal sebenarnya ada?

Sepertinya aku perlu beberapa saat memikirkan hal-hal apakah yang kulupakan itu?


Oh, aku tahu!!

Kuliah Kerja Lapangan di Candi Kidal bersama teman-teman sekelas. Kurasa itu hal yang paling menarik yang kulalui di tahun ini.

Baiklah. Aku akan mulai menuliskannya di sini secara singkat dan jelas.

KKL itu dimulai ketika semester lalu aku mendapat matakuliah yang … yang dosennya sendiri mengatakan bahwa matakuliah ini adalah matakuliah yang susah dan paling ditakuti mahasiswa. Awal yang cukup mengesankan bagi mahasiswa yang baru memulai pertemuan kuliah pertama setelah Lobus Temporalsalah satu bagian otak yang paling bekerja keras ketika pemiliknya dijejali berbagai tugas kuliah dan dikejar deadlinediistirahatkan selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Kurang lebih kesan pertama mengenai matakuliah ini adalah jika tidak sungguh-sungguh dan tekun jangan harap akan lulus!

Setelah beberapa kelompok dari matakuliah ini membahas tema makalahnya sendiri-sendiri, agak sedikit kena bantai dosen, revisi sana-sini, pontang-panting mencari buku sumber, dan mata juling karena mengedit peta, KKL dimulai. Bagiku cukup menyenangkan karena setidaknya meski KKL itu dibayang-bayangi laporan berupa analisis (yang meskipun hanya dua lembar) sebagai tugas akhir, kami masih bisa menyebutnya sebagai ‘jalan-jalan terselubung’. Dan memang itulah yang kami lakukan.

Tapi lebih dari itu, aku benar-benar menikmatinya. Karena kegiatan turun ke lapangan, belajar di luar semacam KKL, dan matakuliah yang horror tapi menantang ini bahkan sudah kuimpikan sejak di bangku SD. Kecuali memang secara pribadi tagihan laporan sebagai tugas akhir, yang meskipun hanya dua lembar itu, tidak pernah kuimpikan sejak jauh-jauh hari.

Kurasa, kegiatan turun ke lapangan, mengukur situs, mendengar kisah-kisah sejarah, masuk halaman rumah orang lain, dan diserang lintah semacam itulah yang memberikan kesan positif padaku di tahun ini.

KKL itu berakhir dengan banyak kesan dan kenangan. Begitu pula semester 5 yang baru saja kulewati. Besar harapanku bahwa tahun ini akan berakhir demikian pula.

Meskipun aku belum juga melaksanakan secara maksimal resolusi yang aku sendiri lupa resolusiku di awal tahun ini kemarin apa, banyak hal yang bisa kusyukuri. Walapun menurutku tahun 2016 terlewati dengan begitu-begitu saja, ada sedikit konflik di sana-sini, dan resolusi yang berantakan setidaknya aku bersyukur bahwa sepanjang 2016 ini aku masih bersama dengan orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku: orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-temanku, dan barangkali orang lain di luar sana yang mengenalku meski aku sendiri tak kenal dengan mereka (Apa maksudku?).

Tapi, yah … aku memang tidak bisa menyebutkan bahwa 2016-ku 100% monoton. Tidak bisa begitu. Aku yakin setidaknya dari sekian banyak hal yang bisa kusyukuri, ke depannya hal tersebut akan bertambah lagi dan lagi.

Menjelang ahir tahun ini dan akhir catatan ini mari kita menyusun resolusi untuk tahun 2017.

Tunggu dulu biar kupikir resolusi apa yang ingin kurealisasikan untuk tahun 2017?


Aku butuh resolusi yang tidak standar-standar saja. Yang orang lain mungkin belum terpikirkan dan akan memberi kesan mendebarkan jika orang lain tahu apa resolusiku.

Resolusiku adalah … menjadi peri yang menaiki kuda poni dan menyebarkan kebahagiaan ke anak-anak di wilayah konflik dan negeriku sendiri.

Rabu, 19 Oktober 2016

Teman

Deadline!

Setelah berminggu-minggu aku tidak memposting apapun di blog ini, aku berniat untuk menuliskan sesuatu mengenai topik yang lebih menyenangkan dan baru. Tapi, aku tak memiliki topik apapun selain deretan deadline tugas di belakangku yang makin hari terasa makin dekat.

Aku sedang tenggelam dalam tugas-tugas perkuliahan. Dan untuk mengisi blog ini dengan topik yang baru aku akan mengingat-ingat sejenak kejadian yang menarik yang bisa kutuliskan di sini.

Oh, benar. Aku akan bercerita mengenai teman.

Sebelumnya aku ingin menyebutkan tiga orang teman yang akhir-akhir ini cukup dekat denganku dan sering menghabiskan waktu bersama.

Jadi, sebenarnya aku sudah bertemu dengan mereka sejak awal masuk kelas ketika masih mahasiswa baru dulu di tahun 2014. Itu adalah saat-saat dimana aku dan semua orang di kelas masih bertampang polos, masih sering ribut hanya karena ada tambahan satu tugas (sekarang masih sering ribut juga, sih, perkara tugas), masih pada takut bolos dan datang terlambat ke kelas, dan masih ... pokoknya masih jadi mahasiswa yang lebih tertib dan takut deadline, lah.

Sekarang? Nggak begitu juga, sih. Sudah mahasiswa tua juga soalnya. Dikejar deadline sudah jadi makanan sehari-hari.

Aku masih ingat betul di hari pertama aku masuk kelas, waktu itu hari Senin dan mata kuliah pertama dalah Dasar-dasar Arkeologi, dan aku duduk di baris pertama paling pinggir. Di belakangku, duduk di sebuah kursi di dekat tembok, ada seorang perempuan yang pendiam. Dia diam saja di situ. Sibuk dengan ponselnya. Rambut panjangnya tergerai. Aku menoleh-noleh sejenak ke arah lain dan mendapati rata-rata orang di dalam kelas ini memang saling diam karena, well, we're new students in there without knowing each other before.

Awalnya aku ragu, tetapi kemudian aku mengulurkan tangan untuk mengajak perempuan di belakangku bersalaman. Kusebutkan namaku dan ia menyebutkan namanya. "Putri," katanya perlahan. Dan barangkali karena malu ia melanjutkan kesibukannya lagi. Aku dicuekin.

Wait a secon. Ini kenapa ceritanya seperti aku yang sedang melakukan PDKT?

Whatever-lah. Lanjut.

Nah, itu awalnya aku kenal dengan Putri. Salah satu teman dekatku saat ini.

Ada dua orang lagi yang aku bahkan tidak ingat kapan  dan bagaimana aku pertama kali kenal dengan mereka. Namanya Dhita dan Tita. Dan mereka tidak kembar. Terlalu jauh kemiripan antara keduanya untuk disebut kembar.

Ketiga orang ini, seingatku menjadi teman dekat sejak .......

Tunggu dulu biar kuingat-ingat.

(Ya, Tuhan. Cuaca di sini panas sekali!)

Oh, kalau tidak salah sejak semester tiga atau semester empat awal yang lalu. Awalnya aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku menjadi akrab dengan mereka. Karena sebenarnya aku juga akrab dengan semua teman di kelasku. Meski aku cenderung menutup diri di awal-awal semester yang lalu karena aku memang butuh waktu lebih lama untuk membuka diri. Kemudian aku menyadari bahwa faktor yang mendorong kami bisa lebih akrab adalah adanya kesediaan dari masing-masing kami semua untuk memahami satu sama lain, mendengarkan keluh kesah masing-masing, memberikan solusi atau nasehat yang dibutuhkan, dan saling membantu satu sama lain.

Kurasa, memang seperti itulah seharusnya teman itu.

Sebenarnya tidak hanya dengan mereka bertiga saja. Tetapi juga dengan semua orang di kelas, aku mencoba akrab dan berteman dengan semuanya. Namun, memang keakraban dengan seseorang itu didorong oleh beberapa hal. Beberapa di antaranya yang paling jelas adalah faktor kenyamanan dan persamaan prinsip. Bukan berarti aku tidak nyaman dengan teman-temanku yang lain. Aku nyaman dengan mereka semua dan mereka semua juga menerimaku apa adanya. Tapi, untuk membagi hal-hal tertentu bukankah kita cenderung melakukannya pada orang-orang yang paling kita percaya dan yang paling nyaman?

Aku tidak pernah menceritakan beberapa hal mengenai diriku dan mengenai apa yang membuatku terkadang galau berlarut-larut dengan sembarang orang. Bagiku tidak semua orang harus tahu. Tapi, ketika aku sudah nyaman dan percaya dengan seseorang aku akan membicarakan banyak hal yang ingin kubicarakan dan kuungkapkan.

Kembali ke perkara 'teman' tadi. Sejauh ini, mereka adalah teman-teman yang baik. Aku tidak bisa membaca bagaimana perasaan setiap orang dan penilaian mereka terhadapku yang sebenarnya. Aku tidak tahu bagaimana mereka selama ini menerimaku atau bagaimana perasaan mereka ketika berteman denganku. Bagiku, sejauh mereka bersikap baik padaku dan memberikan pengaruh positif aku akan menerima mereka. Lagipula untuk apa kita berteman dengan seseorang yang hanya memberikan pengaruh negatif kepada diri sendiri? Tidak baik untuk moral sendiri, bukan?

Aku cukup sering tahu bagaimana dalam satu kelompok yang terlihat begitu dekat, menyebut diri mereka sendiri adalah teman bagi yang lain, tetapi kemudian pertemanan mereka goyah hanya karena masalah sepele atau karena suatu hal yang menurutku cukup kekanakan. Aku juga cukup sering melihat seseorang yang mendaulat dirinya sebagai teman dari orang lain tetapi rupanya ia berteman hanya untuk memanfaatkan orang lain itu. Aku juga sering mendengar ada seseorang yang membicarakan keburukan temannya di belakang temannya sendiri. Aku juga cukup sering tahu ada seseorang yang meninggalkan teman lamanya hanya karena lebih nyaman atau lebih beruntung jika berteman dengan orang baru.

Hal-hal seperti itu sering terjadi di lingkungan sosial kita. Dan terkadang kita bisa melihatanya sendiri secara jelas. Sementara orang yang dirugikan oleh seseorang yang mengatakan pada orang tersebut bahwa ia temannya, tidak merasa terugikan sama sekali.

Aku juga pernah bertemu seseorang yang mau-maunya saja bertahan untuk dimanfaatkan hanya karena takut kehilangan seseorang sebagai temannya.

Padahal orang-orang semacam itu tidak bisa disebut teman. Mereka bukan golongan orang-orang yang bisa kalian akrabi, bukan golongan orang-orang yang menjadi tempat kalian berkeluh kesah, bukan pula golongan orang-orang yang menerima kebaikanmu secara berlebihan. Mereka hanyalah seseorang yang kehadirannya cukup kau sadari dan seseorang yang sebaiknya cukup kau kenal saja. Tapi untuk menjadi teman? Menurutku, seorang teman bukanlah orang yang mau memanfaatkan orang lain demi kepentingannya apalagi sampai membicarakan keburukanmu di belakangmu.

Aku sudah beberapa kali mengatakan rasa syukur karena telah dipertemukan dengan orang-orang yang tulus menerimaku. Orang-orang yang layak kusebut sebagai teman. Aku pernah berteman dengan seseorang yang ternyata hanya memanfaatkanku saja, dengan seseorang yang memusuhiku hanya karena hal sepele, atau dengan seseorang yang membicarakan keburukanku di belakangku. Aku mengambil pelajaran dari itu semua. Dan hal tersebut membuatku cukup selektif dalam memilih manakah orang yang bisa kupercayai dan kusebut teman dan manakah yang tidak.

Well, kurasa itulah catatanku mengenai teman. Lain kali aku ingin membahas beberapa hal mengenai semua temanku di kelas dimana aku menghabiskan waktu hampir tiga tahun bersama mereka. Apa saja kelakukan gila, pengalaman menyenangkan, perilaku aneh orang-orang yang memang freak, atau hal-hal lainnya.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca catatanku ini. Akan kuusahakan untuk membuat catatan baru tanpa jeda yang cukup lama.

I love you all!