Jumat, 14 Mei 2021

When a Little Unicorn Being Afraid of a Rainbow

 Oneday, Tipsy the little unicorn was waking up in a cold misty morning. She opened her little blinking eyes, her heart full of hope. Will I meet another little unicorns outside? This morning is so cold, I think I can’t go far away to find another flowers, She thought.

 

Meanwhile, outside of  her house, there’s no one of her friends, nor another unicorn. She lived alone. She didn’t know where’s her mama or papa. All she knew was someday she opened her eyes and found she left alone.

 

Tipsy pushed all of her legs to stand up and walked into the door. She opened her door and all of she saw was a very wide meadows with some little white flowers. She didn’t meet any friends at all just like usual days.

 

Tipsy walked down into the meadows. This cold and mist just so familiar until the clouds moved into another way and the sun was shine so bright. It just a second, even Tipsy didn’t have a chance to enjoy the sun, the clouds getting dark again. “No, please, don’t rain,” Tipsy whispered.

 

Suddenly, the thunder shocked Tipsy out. It’s still the earlier of morning and thunder was so rumbling. Tipsy run back to her home, but before she reached out the door the light rain came with a little sun shine. Tipsy never met this weather and she stopped. She tried to understand the weather. “Are you try to play with me?” Tipsy asked into the light rain. The wind blows a little like it answered Tipsy’s question.

 

“Okay, let’s play. But don’t scare me,” she said. Tipsy walked around the meadows while light rain wet her out. She played alone without any one, any unicorns. She played with the rain happily just like meet a new friends. Sometimes she shook her little pony to waggle the wet, sometimes her legs nudged the little white flowers softly try to ask them to dance with her. Tipsy just made a friend with the meadows, light rain, and a little sun shine!

 

But, the light rain stopped. Slowly the clouds moved and showed something colourful and curved. Tipsy looked at that and thought, she felt like she knew what was that. Those colors … And those feelings. Something hurt appeared inside of her heart slowly. She knew the feelings! She knew the things! That rainbow … bring her parents go and left her alone. Tipsy so afraid and she cried. She didn’t want to meet the rainbow again because she knew she will left alone again, even no one around her right now.

 

Tipsy run away from the meadows to stay away from the rainbow. She run as fast as her little feet can bring her away from the rainbow, left loneliness behind her. Tipsy didn’t know where to go, the only thing she knew was she didn’t want to meet a rainbow anymore, she didn’t want rainbow brings all of she have … even she didn’t have anything at all.

 

Meanwhile, when Tipsy run away so far … She didn’t know that another unicorns come over the rainbow. They went down through the rainbow and called Tipsy. Turns out, when they went by the rainbow into another meadows, they forgot Tipsy … but now, they came back to pick up Tipsy. But, Tipsy already run away.

Sabtu, 23 Januari 2021

Seperempat Abad

Hai,

Sebuah lembaran putih berdebu yang telah lama merindukan huruf-huruf kecilku. Apa kabar? Apa kabar aku, apa kabar dunia hening dan kecilku?

Aku, seperti biasa, tidak akan memulai tulisan ini dengan diksi yang begitu-begitu saja, karena sesungguhnya ketika kuketikkan kalimat ini bukan jari dan isi kepalaku yang bergerak. Tapi, entah bagaimana, hatiku menuliskan ini semua.

Sesuatu yang seringkali kusimpan sendiri ingin menguar keluar. Tidak tahu apakah karena lagu yang sedang kuputar, atau menyadari kenyataan bahwa langkahku telah membawaku sejauh ini, mataku terasa panas.

Hei, Seperempat abadku.

Setiap tahun rasanya seperti memiliki sebuah hutang pada diriku sendiri, dan duniaku yang hening, tenang, serta kecil ini. Aku tahu ada sesuatu yang menunggu untuk dibuka kembali dan diisi dengan hal-hal baru. Kini, di pagi yang tersorot cahaya matahari seperempat abadku, kutuliskan kembali hal-hal yang selama ini ingin selalu kuingat dan kudengar dari orang lain.

You blessed.

Kamu diberkahi dengan banyak hal. Selalu ingat hal itu. Pekerjaan yang baik, tubuh yang sehat, orang-orang yang menyayangimu. Cukup banyak hal yang bisa mengisi dunia hening dan kecilmu. Kuharap dirimu akan selalu mengingat ini, entah sejauh mana tubuhmu mampu membawamu pergi atau setinggi apa pemikiranmu selama ini tentang hal-hal yang ingin kautuntut dari dirimu sendiri.

Berhentilah menuntut dirimu sendiri terlalu keras, berekspektasi yang terlampau tinggi tentang dirimu, atau mungkin terlalu keras mendorong dirimu memenuhi keinginan orang-orang di luar sana.

Atau, sebenarnya, tidak ada yang menuntutmu apa-apa selama ini?

Tidak ada. Tidak ada yang menuntutmu banyak hal. Kau sendiri yang menuntut dirimu sendiri.

Bahkan setiap pertanyaan dan kecemasanku bisa kujawab sendiri.

Seperempat abad selama ini kau telah cukup. Cukup menjadi dirimu dengan banyak hal yang memberkatimu. Hidup yang memang tidak selalu menyenangkan, tetapi kamu baik-baik saja dengan itu. Menangis di malam hari, mengingatnya sedikit keesokan harinya, dan baik-baik saja di kemudian hari karena lupa.

You loved.

"Segala hal yang ada di dekatmu, sekelilingmu, adalah hal-hal yang kau lihat dengan cinta. Kau orang yang penuh cinta dengan hati yang melihat segalanya dari sisi yang baik."

Sebuah kalimat yang selalu ingin kau dengar dan ingat untuk dirimu sendiri, agar tetap menjadi orang yang baik. Tidak banyak yang akan mengucapkan dan mengingatkan hal seperti ini untuk dirimu, kecuali dirimu sendiri.

Kau pernah berjalan sendiri ketika tak ada yang mau mengikuti langkahmu. Kau pernah menguat-nguatkan hatimu sendiri ketika sesuatu yang pernah menyokongmu mematahkan hatimu. Kau pernah menjadi satu-satunya orang yang percaya dengan dirimu sendiri, ketika orang lain terlalu sibuk mempertanyakanmu.

Kurasa masa-masa itu sudah berlalu. Sesekali mengalaminya kembali pun tak apa, kau akan ingat untuk segera baik-baik saja di kemudian hari.

Hari mungkin akan terasa begitu berat kau jalani, tetapi bahkan di seperempat abadmu kini, kau masih ingat bahwa masih banyak yang menyayangimu, yang mengingatkanmu akan hal-hal yang baik, dan membawamu keluar dari gelapnya ketidaktahuan.

You old.

Di seperempat abadmu ini, menjadi tua bukan satu-satunya hal yang bisa kau lihat dan rasakan. Tetapi duniamu yang hening dan kecil itu, melebar perlahan. Suara-suara baru bermunculan, satu per satu tirai tersingkap, dan kemudian kau sadari bahwa menjadi tua adalah perihal melihat dunia dengan jauh lebih luas dan terang.

Kau tak pernah sendiri atau merasa sendiri, dunia mu kini riuh. Bahkan di siang dan malammu pun kini terasa penuh.

Orang lain mungkin akan berkata, "Jangan menangis diam-diam lagi. Hatimu tidak bisa dipatahkan berkali-kali karena hal yang sama." Dan kurasakan bahwa itu benar. Diriku kini lebih utuh dan liat tak gampang patah.

Menjadi bertambah tua adalah hal yang mutlak bahkan cenderung riskan, bukan? Mengapa mutlak karena semua orang pasti akan menua, tetapi riskan karena tidak semuanya akan berhasil dengan tuntutan menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Ingat selalu bahwa, menjadi baik bukan untuk orang lain, tetapi untuk kedamaian dirimu sendiri. 

Menjadi bertambah tua juga merupakan perihal menerima. Menerima bahwa tak semua hal yang telah dan akan kau hadapi akan berjalan sesuai maumu. Menerima bahwa memang tak akan bisa menyenangkan semua orang. Menerima bahwa memang tidak mungkin membuat semua orang mencintaimu seperti layaknya kamu selalu melihat cinta di setiap masing-masing orang yang kau temui.

Seperempat abad adalah segala hal tentang menjadi lebih tua dengan lebih banyak cinta dan rahmat.

Selamat menjadi lebih tua, Aku. 

Terima kasih karena telah bertahan dan bertumbuh sejauh ini. Kau hebat, penuh dengan hal-hal baik yang akan kau bagi dengan orang di luar sana. Langkahmu akan lebih jauh dengan banyak kejutan yang akan diberikan Tuhan padamu.

Ingatlah untuk terus menjadi baik. Ingatlah untuk selalu menciptakan sendiri segala hal yang ingin kau dengar, kau ucap, kau lakukan ketika orang lain tak bisa lakukan untukmu. Ingatlah untuk selalu menjadi cukup dan haus bertumbuh.

Berbahagialah selalu ...


Sabtu, 24 Oktober 2020

JULI DAN MUSIM DINGIN BERKEPANJANGAN

Juli merenung. Terakhir ia hadir di tempat ini sudah berlangsug selama tujuh tahun lalu. Hanya itu yang ia ingat, selebihnya hanya sebuah ingatan samar-samar. Tentang bagaimana aroma di udara itu kini telah berubah. Tentang bagaimana perasaan ditemani itu hadir dalam samar-samar sebuah bayang sosok yang kian meredup hari demi hari.

 

Bangku coklat tua dari kayu ek terasa lebih dingin dari seharusnya. Ini bulan April, seharusnya cuaca tidak sedingin ini. Ia kemudian mencoba untuk meraih ke dalam dirinya sendiri, menerka-nerka mungkinkah rasa dingin itu sesungguhnya bersumber dari dirinya sendiri. Digoyangkan badannya ke depan dan belakang, kemudian direngkuhnya tubuhnya dengan kedua lengannya sendiri. Terasa baju wol hangat yang menyelubungi tubuhnya tidak mampu menahan rasa dingin yang ternyata bersumber dari dalam dirinya sendiri itu.

 

Pegunungan bersalju terasa tampak jauh di depan dan sekelilingnya, namun juga terasa dekat seolah mengepung tubuhnya yang mungil. Di kejauhan dilihatnya Philip, si kuda hitam besar, berlarian mendekati kawanannya, menggangu mereka yang sedang merumput. Kendati padang rumput itu begitu luas, dengan jumputan bunga-bunga Erica cinerea di sekitarnya, Philip tidak peduli. Ia mendekati kawanannya yang merasa terganggu karena didesak terus-terusan. Philip tidak mau sendirian.

 

Juli melihat Philip seperti melihat dirinya sendiri.

 

Langit seharusnya lebih cerah. Biru bersinar dengan gumpalan kapas lembut bergerak berarakan. Tetapi yang dilihat Juli kosong.

 

Ia kemudian mencoba melihat ke dalam dirinya sendiri. Mungkinkah yang kosong sesungguhnya adalah hatinya sendiri? Sedangkan langit itu, tetap seperti biasa, terbentang biru cerah di bulan April dan mulai keabuan menjelang akhir tahun.

 

Rambut Juli bergerak lembut, sesekali diterpa angin sedikit kuat. Juli membiarkan helaian gelombang rambutnya menyapu kening, pipi, dan setiap sudut wajahnya. Berharap bisa turut pula menyapu sisa-sisa dimana bagian wajahnya pernah disentuh dengan lembut oleh sepasang tangan yang kokoh.

 

Angin itu terasa dingin. Terasa ganjil di bulan April yang seharusnya hangat. Atau mungkin, itu hanya perasaan Juli saja karena telah begitu lama ia hidup dalam musim dingin.

 

Setiap waktu adalah ujung tahun bagi Juli. Cukup dingin dan membekukan. Bahkan tidak bisa dihangatkan cukup dengan segelas coklat atau perapian tua di rumah peninggalan kakek dan neneknya.

 

Sepatu boots Juli terasa ada yang menyenggol. Awalnya ia mengira disenggol kenyataan, bahwa semua hal di dunia ini berkawan. Baik Philip, tangkai-tangkai rumput, jumputan bunga Erica cinerea yang berkelompok, bahkan kawanan awan itu, kecuali Juli. Tetapi ketika Juli menunduk, dilihatnya Poppy menggoyangkan ekornya dengan menggigit sebuah bola baseball.

 

Mata Poppy hitam bulat bersinar-sinar. Terakhir Juli melihat sepasang mata itu juga telah berlalu selama tujuh tahun lalu. Sepasang mata hitam yang bisa menghangatkan akhir tahunnya yang berkepanjangan. Mata itu kini hanya bisa didapatkannya dari seekor anjing pudel berwarna putih.

Dipungutnya bola baseball itu dari mulut Poppy. Dilemparkannya jauh-jauh, berharap dirinya ikut terlempar dari tempat itu. Tempat itu, sama seperti tempat-tempat sebelumnya, tidak bisa menyembuhkan luka hatinya.

Minggu, 06 September 2020

Mimpi Berjuta Tahun (Sebuah catatan lama)

Bismillahirrahmanirrahim,

Hari ini, 27 Mei 2014, tepat pukul 12.35 adalah ujung ekor harapanku. Buah dari sedikit usaha, do'a, dan terlalu banyak harapan. Sekitar satu jam setelahnya aku baru menyadari bahwa harus mengubur dalam-dalam mimpiku.

Mimpi berjuta tahun. Menjadi mahasiswi Arkeologi di Universitas Gadjah Mada tepat setelah lulus SMA. Enam tahun sudah mimpi itu kusimpan rapat-rapat dalam anganku. Tiga tahun sudah aku berusaha meraihnya. Bertahun-tahun aku membayangkan mimpi itu jadi kenyataan. Aku meyakinkan diri bahwa menjadi Arkeolog adalah panggilan jiwa. Kedua orang tuaku bangga dengan pilihanku. Mereka mendukung. Bahkan mereka mengatakan pada beberapa orang bahwa aku ingin menjadi Arkeolog. Doa mereka tak pernah putus. Mereka bahkan meminta pada orang lain untuk mendoakanku agar mimpiku menjadi kenyataan. Aku begitu bangga pada mimpiku dan yakin bahwa mimpi itu akan segera menjadi kenyataan di waktu yang kuinginkan, yaitu setelah lulus SMA. Setiap kali orang bertanya "Mau kuliah di mana? Ambil jurusan apa?" dengan bangga kujawab "Di UGM jurusan Arkeologi" kemudian mengamini dalam hati sambil menerka-nerka apakah orang yang bertanya tersebut mengerti apa itu Arkeologi. Aku juga akan dengan sabar dan senang hati menjelaskan apa itu Arkeologi dan bagaimana karir masa depannya. Selain itu yang lebih ekstrim lagi, aku menulis di bio FB bahwa aku sedang belajar Arkeologi di UGM. Di twitter aku juga menuliskan "Arkeologi-FIB-UGM" di sebelah tulisan "Institute of Archaeology-UCL".

Awalnya kupikir apa yang kulakukan adalah sebuah keoptimisan yang akan mengantarku meraih mimpi. Aku berpikir setiap kali aku menjawab dengan lantang bahwa aku akan mendaftar Arkeologi di UGM itu adalah sebuah doa. Aku sama sekali tidak merasa sedang menyombongkan diri apalagi takabur. Aku melihatnya sebagai doa tanpa tau apakah orang yang mendengar jawabanku tersebut mengira aku sedang menyombong atau bagaimana.

Menjelang kelulusan SMA aku semakin mantab dengan pilihanku. Dengan mimpiku. Aku mendaftarkan diri pada SNMPTN dengan mengambil jurusan Arkeologi di UGM tentunya. Pilihan kedua kuisi Antropologi UGM. Setelahnya aku sama sekali tidak berminat untuk mengikuti tes tulis. Aku tidak mengambil intensif untuk persiapan SBMPTN. Karena aku yakin bahwa Tuhan akan menjadikanku mahasiswi Arkeologi di UGM. Meski aku tau bahwa UGM adalah universitas ternama dengan persaingan yang begitu ketat. Tapi jika membayangkan mimpiku dan keyakinanku akan menjadi mahasiswi Arkeologi di UGM, rasanya kenyataan bahwa sulit sekali perjuangan menjadi mahasiswi UGM itu sirna sudah. Yang aku tau adalah bahwa peminat Arkeologi sedikit, padahal tenaga yang dibutuhkan banyak, selain itu persaingannya tidak terlalu ketat. Apalagi aku sudah mengantongi nilai yang bagus dan sertifikat olimpiade geografi juara tiga. Sepanjang pengetahuanku tidak ada teman atau orang lain di sekitarku yang berminat dengan jurusan itu. Hal itu membuatku semakin optimis. Optimis dalam artian ambisius.

Kemudian saat itu datang. Saat dimana Tuhan menyadarkanku. Seminggu kuhabiskan waktuku untuk berdoa. Aku bangun tengah malam untuk solat Tahajud, aku usahakan untuk solat tepat waktu, aku solat Hajat dan Dhuha' beberapa kali, aku zikir sampai ribuan kali di siang dan malam hari, aku membaca kitab suci dan yaasin, dan aku puasa sampe 10 hari. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain. Aku gugur dalam seleksi SNMPTN. Aku berhenti di tengah-tengah harapan besarku, aku terapung-apung hampir tenggelam di lautan mimpiku, mimpi jutaan tahun yang begitu besar. Aku merasa sesuatu menyambarku, mengambil usaha (kecil)ku selama ini. Mimpi jutaan tahunku lumer seperti mentega yang dipanaskan. Mimpi jutaan tahunku pecah seperti telur yang dilempar. Berhamburan ke mana-mana. Aku menangisi mimpiku seperti aku menangisi mayat seseorang yang kusayangi. Aku sempat merasa tidak terima dan tidak yakin. Aku merasa panitia SNMPTN melakukan kesalahan. Seharusnya kolom merah itu tidak ada di sana. Seharusnya hanya ada kolom hijau.

Aku menangis di pelukan ibu dan ayah. Mereka membelai kepalaku. Ayah memintaku untuk bersabar. Ibu menangis bersamaku. Lalu ayah memeriksa ulang keterangan di website. Sama tidak percayanya denganku. Tapi semuanya benar-benar jelas. Ada namaku, nomer pesertaku, asal sekolahku, dan kolom merah yang menyatakan bahwa aku tidak lolos seleksi SNMPTN.

Dengan sisa-sisa harapan yang kupunya, aku memutuskan untuk mengikuti tes tulis yang sebenarnya kuhindari. Lagi-lagi aku memilih arkeologi dan antropologi budaya UGM. Namun ada sebersit niat untuk memilih antropologi sosial UNAIR.

Tapi kemudian seseorang datang dan menyadarkanku bahwa masih banyak pilihan lain yang bisa kuambil. Aku tidak harus terjebak pada satu pilihan. Masa depanku masih panjang dan belum tentu jurusan apa yang kuambil saat kuliah adalah bidang yang sama dengan pekerjaanku. Akhirnya aku mulai tersadarkan bahwa aku harus mencoba pilihan lain. Pilihan yang masih sesuai dengan minat dan harapanku. Aku merasa bahwa Tuhan telah menyadarkanku. Aku bertanya-tanya bagaimana jika Tuhan telat menyadarkanku? Akankah masa depanku lebih baik? Mungkin Tuhan bisa mengabulkan keinginanku untuk lolos SNMPTN dan menjadi mahasiswi Arkeologi UGM. Tapi rencana Tuhan untuk masa depanku yang masih panjang tidak seindah yang kuharapkan. Memang benar kata seseorang yang menasehatiku bahwa lebih baik aku menerima apa yang Tuhan berikan padaku karena Tuhan tau mana yang baik buatku.

Akupun akhirnya menyadari bahwa aku harus lepas dari keegoisanku pada Tuhan. Aku harus menurunkan ambisiku. Aku harus berani mencoba hal yang lain. Hal yang mungkin disiapkan Tuhan untuk masa depanku yang lebih baik.

Keputusan finalnya adalah aku akan menata ulang mimpiku. Aku tidak akan terlalu ambisi melukis mimpi. Aku hanya akan melakukan sesuatu di bidang kucintai. Aku cinta sejarah, tapi mungkin menjadi Arkeolog bukanlah pilihan terbaik. Maka untuk sementara kusimpan dulu rapat-rapat mimpiku menjadi Arkeolog. Aku susun lagi mimpiku untuk kuliah di Ilmu Sejarah. Atau mungkin di Pendidikan Sejarah. Tapi tak pernah sedikitpun minatku pada Arkeologi luntur. Mungkin aku akan lebih berminat pada Ilmu Sejarah, tapi tidak menutup kemungkinan aku akan mempelajari Arkeologi juga. Bagiku yang penting sekarang adalah berusaha semampuku, berdoa terus, dan berharap Tuhan memberikan yang terbaik buatku.

Karena aku mulai percaya bahwa rencana Tuhan pasti lebih indah.

Akan ada waktu di mana aku akan mengenang hal ini kelak. Di saat aku sudah sukses nanti. Aamiin.


Minggu, 12 Juli 2020

Tulisan Baru Tanpa Arah

Halo,
Ini aku, yang telah lama menghabiskan sepanjang tahun sejak terakhir aku menulis di sini, dengan hal-hal lama dan hal-hal baru yang berkelebat ... datang dan pergi.

Sore yang cerah untuk memulai menulis lagi, dengan tubuh memunggungi matahari sore, dan tentu saja, memunggungi hal-hal yang tidak ingin kuingat lebih dari sekedar sejenak.

Baru saja kuhela napas karena menyadari bahwa rasanya memang sudah lama sekali tidak menulis. Catatan terakhirku adalah di malam tahun baru 2019. Itu artinya sudah berjalan hampir 2 tahun penuh aku tidak menulis di sini. Bagaimana? Rindu dengan tulisanku? Untuk siapapun di luar sana yang telah sudi mampir untuk membaca catatan-catatan kosong, yang sebenarnya lebih kutujukan pada diriku sendiri.

Ternyata rasanya masih begitu menyenangkan bisa mengetikkan jemariku, dengan mataku melihat ujung-ujungnya meloncat dari satu kotak huruf ke kotak huruf yang lain, dengan teligaku mendengar lagu-lagu baru demi membangkitkan suasana yang baik untuk menulis.

Tentu saja pertanyaan apa yang telah terjadi selama hampir 2 tahun kutinggalkan blog ini, adalah pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak sanggup mengingat-ingat jawabannya. Karena banyak sekali!

Kupikir-pikir, selama ini keinginan menulis itu masih selalu ada. Beberapa waktu yang lalu seorang kawan memintaku melanjutkan cerita di wattpad. Yap, cerita-cerita di wattpad-ku bahkan jauh lebih lama kuanggurkan. Maafkan kemalasan yang tidak tahu diri ini.

Oke, jadi apa yang akan kutulis di sini? Selain kenyataan bahwa suasana hati sedang tidak cukup baik. Seperti biasa the introvert thinker ini sedang berada di dalam pikirannya sendiri.

Mungkin akan kuawali dengan flashback ke sepanjang 2019. Apa yang terjadi di sepanjang 2019 kurasa telah membentukku menjadi sosok yang ... sedikit lebih baru. Sedikit lebih ter-upgrade dari the old me. Kurasa itu karena karirku sedang cukup baik. Jika menurut kalian menjadi seorang guru honorer dengan seabrek pekerjaan dan pengalaman baru sudah masuk kategori karir yang baik. Karir yang baik tidak semata-mata diukur dari seberapa besar gaji, bukan? Hehe.

Tapi serius. Bisa dikata, 2019 adalah tahun penuh pengalaman untukku. Aku belajar banyak hal baru yang membuat diriku sendiri bahkan sempat terheran-heran dengan apa yang telah kulakukan. Aku menikmati pengalaman-pengalaman menjadi seorang guru dengan berbagai pekerjaan tambahannya dan terlibat dalam beberapa kegiatan. Dimana dalam kegiatan itu aku bisa berkontribusi, bisa menyalurkan sedikit kemampuan dan pengetahuan yang kumiliki, dan hal yang paling bisa kusyukuri adalah ... aku menikmatinya. Bahkan mungkin sangat menikmatinya. Karena menurutku, jika aku tidak bisa menikmatinya, kurasa kesibukan itu tidak bisa dengan benar disebut sebuah pencapaian.

Apa yang telah membuatku terheran dengan diriku sendiri adalah, ketika aku melihat sudah sampai mana aku berjalan. Seorang diriku, yang cenderung tertutup dengan orang baru dan sangat menikmati berada di zona nyaman, telah berhasil setidaknya mengeluarkan selangkah kakiku dari ambang pintu yang selama ini membuatku nyaman berada di baliknya.

Mungkin memang tidak sehebat pencapaian orang lain yang tentu saja masih ada yang lebih di atasku. Tapi, aku berhak memuji pencapaianku sendiri bukan? Jika tidak diri sendiri yang bangga dengan apa yang diri ini miliki, lalu siapa yang bisa lebih tulus mengungkapkannya?

Salah satu hal yang bisa kusyukuri pencapaiannya adalah, ketika aku mendapat pengalaman baru sebagai penulis soal USBN 2019, bersama beberapa perwakilan lainnya dari Jawa Timur. Hal lain yang tidak kusangka aku bisa mencapainya. Padahal awalnya hanya berupa iseng-iseng berhadiah.

Beberapa hal yang kusyukuri juga masih banyak. Meski, yah, ada beberapa titik dimana aku merasa kenapa rasanya begini banget? Tahu, kan? Hal-hal yang masih bisa dikeluhkan oleh manusia: rasa lelah, kecewa, sedih, marah, apapun itu. Tapi kemudian kucoba untuk kuingat-ingat lagi bahwa tidak ada gunanya mengeluh terlalu lama.

Tahun 2020 juga kuawali dengan hal yang biasa-biasa saja, meski perjalanannya hingga setengah jalan ini tidak bisa disebut biasa juga. Kurasa dari awal tahun 2020, aku dan mungkin kita semua dihadapkan pada kejutan-kejutan baru. Kejutan yang tidak hanya membuat terkejut, tapi juga kekhawatiran baru. Kurasa, kondisi dunia ini sedang tidak baik-baik saja, Kawan.

Rasanya seperti sedang ditampar oleh Tuhan, bahwa apa yang telah kita lakukan selama ini adalah hal-hal yang sepatutnya kita tilik kembali. Sudah pantas kah? Sudah bijak kah? Sudah baik kah? Dan kurasa, kita telah diingatkan beberapa kali dengan cara yang lebih halus, tetapi kita cukup arogan untuk sekedar sadar dengan cara seperti itu. Untuk itu Tuhan menampar kita pada kenyataan baru, kenyataan bahwa kita dipaksa untuk berubah lebih baik lagi.

Bencana alam, wabah, tingkat kriminalitas, rasa sakit, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, kehilangan, dan segala hal yang sedang ditamparkan Tuhan ke muka kita berkali-kali kurasa bukan hanya sekedar pengingat. Tapi, barangkali Ia memang sedang marah.

Tuhan, jika kau membaca tulisanku yang sedang kacau ke mana arahnya ini, kurasa Kau pasti tahu apa yang sedang aku dan kami semua harapkan. Bantu kami untuk berbenah, untuk bangkit lagi setelah Kau hadapkan pada kenyataan yang menyulitkan kami. Beri kami, orang-orang kecil ini kekuatan dan kesabaran.

Dan untuk kalian yang sedang membaca ini, ujung tulisan yang arahnya berubah arah ini, kuharap kalian selalu berbahagia ...

Senin, 31 Desember 2018

Penghujung 2018 : Pencapaian dan Harapan Baru

Awalnya aku ingin menghabiskan malam tahun baru sama dengan malam-malam biasanya. Berkutat dengan buku bacaan sambil sesekali, maksudku lebih dari sesekali, menyentuhkan ujung ibu jariku dan menggeser-gesernya di layar ponsel. Kemudian keinginan untuk menuliskan sesuatu di ujung tahun ini muncul secara tiba-tiba. Maka di sinilah aku sekarang: di ruang tengah rumah, dengan suara kipas angina dan obrolan talkshow di televisi, sambil mengetikkan tulisan ini.

Keinginan untuk menulis kembali sebenarnya sudah lama muncul. Karena setelah setahun lebih berkutat dnegan tugas-tugas kuliah dan kewajiban menyusun tugas akhir membuat otak dan imajinasiku tersetel secara otomatis untuk menyusun dan mengetikkan kalimat-kalimat ilmiah secara baku. Sesekali aku rindu melanjutkan tulisan-tulisan fiksiku, terutama aku rindu sekali bisa mengisi blog lamaku.

Malam tahun baru 2018 kuhabiskan dengan biasa saja. Tanpa bunyi terompet dan petasan (Oh, belum. Mungkin kegaduhan itu dimulai menjelang tengah malam), tanpa aroma daging maupun jagung panggang, bahkan tanpa ditemani siapapun karena kenyataannya semua orang rumah menghidupkan mesin kendaraan dan berkendara ke tempat mereka menghabiskan malam tahun baru secara sewajarnya seperti yang biasanya dilakukan orang lain yang terbiasa dengan perayaan.

Aku? Aku tidak cukup terbiasa dengan kebisingan, keributan, dan kekacauan yang disuguhkan banyak orang menjelang perayaan. Jadi ya sudah. Aku di rumah saja.

Baiklah. Kurasa aku tahu apa yang ingin kutulis secara tiba-tiba di sini. Aku sedang memantau Instagram seperti biasa ketika ada seseorang yang mem-posting foto dengan caption “Achievment apa yang sudah berhasil kamu raih sepanjang 2018? Di situlah aku merasa bahwa ada beberapa hal yang selalu kuharapkan di tahun-tahun sebelumnya terjadi di tahun ini. Dan tentu saja aku sangat bersyukur karena Tuhan mendengar segala doaku.

Bagiku, 2018 adalah tahun yang penuh perjuangan dan harapan. Tahun ini adalah tahun dimana aku menguji ketahananku sebagai pribadi  yang harus mampu berjuang menyelesaikan tanggungjawab, dimana aku harus berhadapan dengan kesempatan-kesempatan yang sulit yang harus kulewati dengan baik agar bisa menyelesaikan semua tanggungjawabku dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya. Ketahananku berujung pada kemampuanku menyelesaikan pendidikan dengan tepat waktu dan cukup membanggakan. Setidaknya membanggakan kedua orang tuaku dan aku bersyukur sekali, bukan hanya karena pencapaian itu, tetapi lebih karena ada kesempatan bagiku untuk membuat bangga kedua orang tuaku. Alhamdulillah.

Tahun 2018, secara mengejutkan seseorang menawariku pekerjaan yang memang sudah kuharapkan. Aku menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang baru terbentuk di awal-awal aku kuliah yang dimana sebelum itu belum pernah terpikirkan sama sekali aku akan menjadi seorang guru. Tapi, Tuhan memang suka memberi kejutan bukan? Dan kejutannya selalu manis. Aku sangat menikmati hari-hariku sebagai seseorang yang bekerja mulai pagi hingga menjelang sore. Meski sesekali aku bosan dengan rutinitasnya (Aku mudah bosan dengan rutinitas. Hehe) tapi lingkungan tempatku bekerja, terutama ketika aku bertemu dengan anak-anak, membagi apapun yang aku tahu kepada mereka, adalah hal terbaik yang selalu bisa menyelamatkan hari-hariku.

Tentu saja, tidak ada yang lebih bisa aku syukuri ketika akhirnya aku bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Yes! Aku bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri adalah goal yang selalu aku teriakkan pada diriku sendiri ketika aku sedang berada di titik jenuh dengan rutinitas sebagai anak kos.

Di penghujung 2018 ini, aku juga beryukur masih dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Satu hal yang tidak pernah bisa berhenti ku syukuri. Diberi kesehatan pula. Ada orang tua dan saudara yang selalu memberiku semangat untuk terus berpacu menguji kemampuanku agar bisa memperoleh kesempatan lain yang lebih baik dan lebih baik lagi. Mereka mendorongku maju dan percaya aku bisa melakukannya. Ada teman-temanku yang selalu mendengarkan semua ceritaku, menampung tawa-tawa dan kebahagiaanku, dan bersedia menanggapi segala keluhanku. Dan tentu saja, ada dia yang selalu memberiku semangat-semangat baru dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang meletup-letup hanya karena hal yang sederhana.

Aku merasa, segala hal yang kucapai selalu tidak lepas dari doa ibuku, dari kebaikan yang terus ditanam ayahku pada orang lain. Kurasa memang begitulah cara Tuhan bekerja. Dengan melalui tangan kedua orang tuaku, yang disalurkan ke aku melalui kebaikan yang mereka salurkan kepada orang lain.

Tahun 2018 menuntunku untuk banyak belajar. Aku belajar untuk selalu percaya pada kekuatan doa, pada setiap hal-hal sederhana yang memberikan dampak luar biasa: keikhlasan terhadap hal-hal kecil yang dilakukan. Aku belajar bahwa percaya pada diri sendiri juga adalah salah satu kunci untuk mewujudkan harapan orang-orang terdekatmu. Aku sempat merasa takut tidak bisa memenuhi harapan kedua orang tuaku, aku ragu harapan mereka terhadapku terlampau tinggi, tetapi kemudian aku menyadari. Tidak ada harapan yang terlalu tinggi selama kita percaya dengan diri kita sendiri dan doa-doa yang kita panjatkan. Aku juga belajar, bahwa ketelatenan dan kesabaran selalu membuahkan hasil. Berada di lingkungan sosial selama tahun 2018 (meski bisa dikatakan aku introvert dan tidak cukup banyak berbaur) aku mengamati bahwa berhasahabat dengan diri sendiri terlebih dulu diperlukan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Maksudku, terima dan cintai dirimu sendiri apa adanya dengan perbanyak bersyukur.

Besok adalah awal tahun 2019. Masih banyak harapan yang ingin kucapai di hari esok dan sepanjang tahun 2019. Aku ingin lebih banyak berbagi, lebih baik dalam memenuhi tanggungjawab, lebih memperbaiki hubunganku dengan Tuhan, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Aku tahu tidak semuanya bisa kulewati sendiri tanpa dukungan dari orang-orang yang baik dan menyayangiku. Tetapi aku percaya, layaknya 2018, 2019-ku akan penuh kejutan dan satu per satu keinginanku akan terwujud.

Sebagai penutup, kuucapkan selamat menyambut 2019 dengan penuh suka cita dan perbaikan diri ke arah yang lebih baik. Semoga segala cita-cita kita selalu mendapat ridho-Nya. Baik-baik di 2019, ya. Bersiaplah! Karena mungkin Tuhan akan memberi kejutan-kejutan lainnya. Dia selalu suka bermain kejutan. Dan percayalah, kejutannya seringkali berakhir manis. Selamat malam :)

Minggu, 11 Maret 2018

Seorang Anak Kecil dan Dunia Ketakutannya

Tumbuh sebagai seorang anak yang penakut, ia kerap berdiri di sudut seorang diri. Lingkungan di sekitarnya terasa asing. Segala hal yang ia rasakan selalu menjadi bebannya sendiri.

Ia tidak tahu apakah ia berada di lingkungan yang salah. Yang ia tahu, ia hanya bisa menerima segala kesalahan.

Anak kecil itu meringkuk takut ketika ada yang sedang marah. Sekalipun ia tahu bahwa bukan ia yang sedang menjadi sumber permasalahan, ia takut untuk disalahkan. Ia hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdegup cepat. Ia takut disalahkan.

Bukan perkara ia dididik menjadi pengecut, tapi kenyataan yang entah bagaimana telah sering menjadikannya sebagai sumber permasalahan.

Anak kecil itu menyadari bahwa semua hal yang ia lakukan salah, dan orang lain akan memarahinya. Ia juga tahu bahwa tidak semua "temannya" adalah teman. Ia tahu betul, sebuah permainan yang begitu asyik dimainkan itu, nantinya akan berakhir. Dan ia akan duduk lagi di pojokan. Sendirian.

Kenyang dengan segala permasalahan di sekitarnya, teriakan kemarahan, larangan akan banyak hal, anak itu tumbuh sebagai seorang remaja yang terbiasa mengantongi perasaan-perasaan ketakutan akan disalahkan. Akhirnya, ia tidak bisa terbuka dengan suasana baru. Ia meringkuk dengan nyamannya di zonanya sendiri.

Ia kemudian berpikir bahwa, jika ia terlibat dalam sebuah masalah, ia harus segera melihat ke dalam dirinya. Ia harus tahu salahnya apa. Kemudian bersiap untuk disalahkan.

Atau ia memilih untuk menghindari masalah dengan diam. Berusaha menyaman-nyamankan diri.

Ia tumbuh menjadi seseorang yang penakut. Ia menutup diri dari orang yang tidak ia kenal sama sekali. Ia lebih nyaman dengan dunianya sendiri dimana tidak ada seorang pun yang akan mengkritiknya, memarahinya.

Ia tak memiliki sesosok teman yang benar-benar bisa ia sebut "teman". Bukannya ia tidak disukai, tetapi ia lebih disegani ... Tapi entah karena apa. Banyak yang tidak bisa menjadi teman baiknya karena ada sesuatu dari dalam dirinya yang membuat orang lain akan berpikir ulang tentang bagaimana harus berperilaku di hadapannya. Suatu hal yang mengganggu pikirannya.

Bukan. Bukannya ia dibenci. Ia hanya sedang dikelilingi sesuatu yang tak terlihat yang membuatnya tidak bisa berbaur begitu dekat dengan orang lain. Selalu ada sekat.

Mungkin karena sifatnya?

Hei, dia adalah seorang anak yang tumbuh dengan ketakutan akan  menciptakan masalah. Karena di masa lalunya, ia sudah terlalu sering menjadi sumber masalah. Ia cenderung pendiam dan pendengar. Tidak banyak tingkah. Ia berusaha sebaik mungkin untuk bisa diterima di lingkungan yang terkadang asing baginya.

Barangkali sekat itu muncul karena ia terlalu membatasi diri?

Awalnya ia berpikir demikian. Tetapi, seberapa kerasnya ia mencoba untuk menghilangkan sekat itu, tetap saja tidak ada perubahan. Kehadirannya memang diterima, tetapi ia merasa suasana tidak benar-benar terasa leluasa. Sekat itu masih ada.

Pada akhirnya, ia sempat menjadi sosok yang tidak ingin disalahkan. Ia sempat lelah disalahkan orang lain, sekalipun ia memang salah. Ia menjadi keras kepala dan terlalu perasa. Curiga akan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa permasalahan, rasa gelisah, kesal, kecewa mungkin berasal dari dalam dirinya sendiri. Tetapi ia juga tidak yakin apakah hal tersebut terjadi karena memang ia masih belum bisa lepas dari pengalaman masa kecilnya yang selalu terbebani rasa bersalah?

Terkadang ia sedih, begitu sedihnya sampai ia menangis, hanya karena dirinya sendiri. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Mengapa ia harus merasa kesal dengan suatu hal yang tidak semestinya ia kesalkan? Apakah ia masih menjadi sesosok anak kecil yang ketakutan akan rasa bersalah dan tidak percaya pada dirinya sendiri?

Lebih seringnya, ia merasa menjadi seseorang yang tidak berguna. Ketika ada beberapa hal yang bisa dibanggakan oleh orang lain, ia masih bingung mencari sesuatu dari dalam dirinya selain perasaan tertekan yang bisa ia banggakan.

Ia adalah seorang anak penakut yang tumbuh dalam mimpi-mimpinya sendiri. Ia kerap bermimpi bisa mencapai segala hal yang bisa ia banggakan, kemudian di lain waktu ia terbangun dari mimpinya dan mendapati dirinya sebagai seseorang yang tak lebih dari pemimpi tanpa apapun yang bisa dibanggakan.

Kemudian, diam-diam sebuah pertanyaan lain muncul dalam benaknya: Apakah selama ini kekesalannya, kerendahan dirinya, dan kegundahannya hanya karena ia kurang mensyukuri dirinya sendiri?

Barangkali iya.

Selasa, 21 November 2017

The Introvert Thinker: Si Unicorn dan Dunianya Sendiri

Pernah merasa seolah kau punya dunia sendiri? Dimana hanya ada kamu dan duniamu sendiri yang mampu mengerti kamu. Merasa terasing hanya ketika berada di suatu tempat dan bertemu orang-orang baru. Tidak pernah memahami apa yang sedang dibicarakan orang lain hanya karena kebetulan mereka tidak sedang membicarakan sesuatu yang mungkin tidak menarik bagimu atau tidak bisa kamu pahami.

Pernah merasa dirimu berbeda? Hanya karena mungkin kamu tidak bisa mengerti apa yang orang lain pikirkan, dan kamu tahu mereka pun juga tidak akan pernah bisa memahami apa yang kamu pikirkan. Perasaan yang seperti terasing hanya karena kamu tidak bisa menjadi seperti mereka atau setidaknya menjadi bagian dari mereka. Perasaan-perasaan semacam itu.

Kamu lebih banyak diam. Karena mungkin apa yang kamu ingin bicarakan tidak akan disambut orang lain dengan antusias, atau karena kamu tidak tahu apa yang harus kamu katakan hanya untuk bisa menjadi bagian dari mereka. Kamu senang untuk menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri karena kamu tidak perlu mencemaskan apa yang mungkin orang lain akan pikirkan tentangmu. Dan kamu bisa bebas menjadi apapun yang kamu inginkan. Menjadi unicorn misalnya? Alien? Atau apapun hal konyol tentang dirimu yang tak pernah kamu tunjukan pada orang lain karena mungkin mereka tidak mau menerima dirimu yang apa adanya itu. Atau kamu memilih diam karena cemas orang lain akan merasa terganggu dengan dirimu yang sesungguhnya. The originally you.

Sering merasa tidak dilibatkan dalam pembicaraan karena mereka tahu kamu mungkin tidak berada pada porsi atau posisi untuk tahu, sedangkan kamu di situ, di tengah-tengah pembicaraan itu. Well, kamu diam karena memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, kemudian kamu pun memilih untuk melipir pergi. Kembali lagi ke dunia mu sendiri.

Tidak pernah bercerita banyak pada orang lain, kecuali satu--hanya SATU--yang paling tahu semua rahasiamu, yang kamu anggap sebagai belahan dari dirimu sendiri. Entah itu teman atau orang tuamu sendiri, meski ironisnya, posisi sebagai belahan dari dirimu sendiri cenderung ada pada diri teman dibandingkan orang tuamu.

Kamu diam karena orang lain mungkin sering salah memahamimu. Orang lain mengira kamu diam karena marah, padahal sebenarnya you just want to observe and keep your voice untuk menghindari kesalahpahaman dari orang lain ketika mengungkapkan apa yang sedang kamu rasakan. Tetapi sekalipun kamu diam, orang lain pun tetap salah memahamimu.

Orang lain mencoba menebak-nebak tentangmu, dan ketika mereka menebak mereka bertindak seolah mereka TAHU kamu. Mereka MEMAHAMIMU. Padahal sejatinya tidak. Tebakan mereka salah dan mereka belum cukup memahami atau setidaknya MENGENALMU. Itulah kenapa kamu memilih diam. Sekali lagi, mungkin karena sekalipun kamu berbicara ataupun diam, itu tidak pernah cukup membuat orang lain memahamimu.

Jangankan berbicara. Melalui tulisan pun, mungkin mereka juga akan salah memahamimu.

Kemudian suatu hari, ada keinginan dari dalam dirimu untuk mencoba keluar dari sangkarmu sendiri. Mencoba membaur dengan mereka--meskipun cukup sulit bagimu--tapi pada akhirnya kamu menjadi bagian dari diri mereka (hooray!) meski tidak pernah terlibat dalam percakapan apapun.

Kamu mencoba membaur dengan memasangkan telinga, karena kamu tahu jika bicara tak pernah bisa membuatmu menjadi bagian dari diri mereka, setidaknya kamu bisa mendengarkan segala keluh kesah mereka dan membuat mereka merasa kamu akan selalu ada untuk mereka, and that's enough for you.

Aku mengalaminya di tahun-tahun terakhir. Dimana aku tidak pernah merasa dekat dengan teman sekelasku sendiri, aku selalu menarik diri dari mereka hanya karena aku dan mereka tidak pernah sepaham seiya sekata. Kemudian ketika aku menjadi mahasiswa, memiliki teman-teman baru, aku mencoba untuk membuka diriku. Awalnya hanya sedikit, kemudian kubuka semakin lebar. Hasilnya adalah, sekalipun aku tak pernah terlibat pembicaraan dengan mereka aku masih menjadi bagian dari mereka, dari guyonan mereka, hanya dengan memasang telinga.

Aku memutuskan untuk menguji sejauh mana aku bisa keluar dari sangkarku dengan memperluas my social circle. Aku bergabung dalam suatu komunitas yang sesuai dengan hobiku, dan sekalipun aku tak pernah paham apa yang mereka bicarakan (karena jujur saja aku baru pertama kali tergabung dalam suatu organisasi, sedangkan yang lain sudah lebih dulu memiliki banyak pengalaman dalam organisasi), setidaknya aku punya wadah untuk menyalurkan hobiku. And, once again, that's enough for me.

I know, sebagian dari kalian mungkin akan berpikiran bahwa aku tidak seharusnya seperti ini. Aku harus mengikuti lebih banyak organisasi untuk lebih memperluas lingkarang sosial, aku harus terlibat dalam lebih banyak kegiatan, aku harus banyak bergerak/jumpalitan/berlarian ke sana ke mari untuk bertemu banyak orang. But, let me tell you something, saran-saran semacam itu memang baik sekali untukku hanya saja aku memiliki caraku sendiri dan aku yang paling tahu seberapa keras aku perlu mencoba dan seberapa jauh aku akan berlari nantinya.

Well, mungkin tulisan ini cenderung menjadi semacam curhat. But for all of you readers, siapapun yang mungkin sedang membaca ini dan merasa ada di posisi yang sama, you know you are not alone. You have your own world? That's normal. Berusaha untuk membuka diri pada dunia baru pun tidak pernah mudah, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Tidak ada yang salah untuk hanya memiliki satu atau dua orang teman karena kamu selektif, dan karena memang tidak semua orang harus dan akan mengenal serta memahamimu sebaik temanmu itu :)

Minggu, 29 Oktober 2017

Malamku Kini Penuh

Menjadi seseorang yang menunggu malam hanya untuk menuliskan untaian kata terkadang amat membosankan. Seolah hidupku bergantung pada malam. Kemudian aku sadar bahwa, kata-kata yang selalu tersendat untuk kutuliskan bukan karena malamku yang tak kunjung datang. Malamku datang tiap hari. Tetapi rasa bosan untuk menyentuhkan jemariku disela-sela huruf ini terasa begitu berat.

Malamku sudah lama menjadi berbeda. Bagiku, malam selalu membawaku ke berbagai suasana yang berbeda. Setahun belakangan ini, malamku bergelora. Ia meliukkan rindu, membagi ruang dan waktuku hanya untuk merenungkan satu hal, meniupkan impian-impian baru akan masa depan. Ia tidak lagi menutup mataku untuk satu hal yang telah lama jauh tertinggal, tetapi aku menolak untuk menerima kenyataan itu. Ia telah lama tidak memakukan harapanku pada banyak hal yang telah lama luruh. Dan ia telah berhenti menahan siang agar lama hadir dan membuyarkan suasana-suasana yang sering menyelinap datang.

Malam selalu membuatku banyak berpikir dan membayangkan berbagai hal. Menatap masa depan rasanya lebih mantab jika kulakukan sambil berbaring mendengar suara-suara malam. Merindukan seseorang rasanya bisa lebih menyenangkan jika kurasakan ketika menatap kegelapan dan hening yang menyelimuti sekitar.

Rasa kehilangan juga sempat menemaniku berbincang dengan malam. Namun kini, malamku tak pernah lagi terasa kosong. Kehilangan itu berganti menjadi rasa yang terisi penuh. Sesekali ia begitu penuh hingga rasanya malam tidak sanggup menampung, dan harus berbagi dengan siang. Siangku pun akhirnya mulai terisi pula.

Terisi oleh kenyataan bahwa Tuhan menggantikan kehilanganku dan aku sangat menyadarinya.

Malamku kini penuh renungan bahwa Tuhan benar-benar tidak pernah mengambil apapun yang dari makhluk-Nya. Ia hanya akan menggantinya dengan hal lain yang lebih tepat dan lebih baik. Misalnya kehadiran orang lain. Aku menyadari beberapa hal yang membuatku sempat mengira bahwa kehadiran orang yang lama sudah tepat, tetapi Tuhan punya keyakinan lain. Aku bertanya pada diriku sendiri, dan bertanya dalam diam pada Tuhan ketika ia tiba-tiba menghilangkannya, kenapa ia cepat sekali menjauh? Kenapa sekarang rasanya berbeda? 

Kemudian Tuhan menjawab dengan memberiku kehadiran akan orang yang lain. Kehadiran yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Dan ketika ia hadir mengisi tempat yang kosong di malamku, aku menyadari kehadirannya ternyata telah mengembalikan harapan-harapan dan impian-impianku akan masa depan.

Malamku berubah. Ia kini liat menghadirkan impian-impian baruku yang lebih hidup. Aku kini menyadari bahwa harapan-harapanku di malam-malam yang lama, bersama seseorang yang lama, hanyalah harapan-harapan kosong. Namun kini, malam-malamku bermandikan harapan yang lebih nyata dan bersamanya kurasa aku akan bisa lebih kuat untuk berjuang meraih harapan itu.

Hal apa yang lebih patut disyukuri ketika Tuhan menghadirkan seseorang yang akan menemani dan membawamu menuju harapan yang lebih nyata?

Dan untukmu yang telah Tuhan hadirkan, a man with everything in his eyes, terima kasih karena sudah mau hadir dan singgah. Kali ini singgahlah lebih lama, dan selamanya :)

Sabtu, 01 Juli 2017

Unspoken Promises: A Man with Everything in His Eyes



Aku menyukai matanya.

Dua bola mata yang menyimpan segalanya. Begitu dalam seolah jika aku menatapnya lama aku akan tenggelam hingga ke dasar-dasarnya. Menemukan segala jawaban yang selama ini hanya berani kutanyakan pada diriku sendiri, dalam hati, tanpa berani kuutarakan. Menemukan semua hal yang selama ini disimpannya rapat tanpa ada orang lain yang tahu.

Pertama kali bertemu, kedua mata itu adalah hal pertama yang menarik perhatianku. Membuatku ingin menatapnya lama. Mengadukan pandanganku cukup dalam hingga menembus retinanya dan mengaduk segala hal yang ingin kutemukan di balik kedua kelopak matanya.

Terkadang kulihat kedua bola mata itu bersinar. Meletupkan semangat yang secara ajaib menular padaku. Ada sesuatu di balik mata itu yang menggelegak ingin keluar: semangat yang berapi-api.

Terkadang kedua bola mata itu berkerling jahil. Menyampaikan serangkaian lelucon yang menyegarkan. Mengundang tawaku yang selalu tanpa sempat kutahan meledak begitu saja. Mata yang begitu jenaka yang selalu saja membuatku merasa begitu baik hingga rasanya aku sanggup melupakan semua kesedihanku sendiri.

Sesekali aku sempat merasa takut. Kedua mata itu pernah kutangkap sedang mengukung kobaran api yang menyala-nyala. Ada kemarahan yang dipenjarakan di sana. Ada dendam akan masa lalu yang seolah ingin segera dilepaskan. Seolah ada kotak Pandora di balik kedua tatapannya yang menuntut untuk segera dibuka. Aku merasa menyusut menjadi begitu kecil dan seluruh dunia menjadi jauh lebih besar dari yang sanggup kuhadapi ketika melihat sorot matanya yang demikian.

Tetapi, dari sekian kesan yang kudapat dari sepasang kedua mata yang menarik itu adalah sebuah kesan yang seolah ingin menarikku ke dalamnya. Berdiam diri di dalam kedua bola matanya, meringkuk senyaman mungkin, dan menghabiskan hari-hariku di sana. Tatapan yang tidak mengintimidasi, yang tidak membuat siapapun ingin menarik diri, tetapi tatapan yang seolah menjanjikan segala kenyamanan.

Pernah suatu ketika aku melihat kedua bola matanya sedang menyalurkan segala janji yang tidak bisa diucapkan. Janji yang barangkali jika aku bisa menyelami tatapannya lebih jauh, adalah janji tentang kenyamanan. Kedua bola mata itu, anehnya, terasa bisa memelukku. Aku nyaman berada di sana. Aku merasa aman dan terlindungi.

Aku tak tahu bahwa hanya dengan kedua bola mata itu aku bisa merasa demikian.

Aku sangat menyukai matanya.

Barangkali memang tidak baik mengimpikan kenyaman yang sederhana hanya dengan melihat kedua matanya. Tetapi, jika aku boleh merindukan sesuatu tentangnya, aku merindukan matanya. Selalu kedua matanya.

Mata yang memiliki segalanya, yang tidak menjanjikan apapun selain kenyamanan yang sederhana, dan itu lebih dari yang kubutuhkan saat ini.

Kedua bola mata yang memberikan candu akan secangkir coklat di genggaman tangan di tengah musim dingin.

Sepasang mata yang membuat anak kecil tak takut akan gelap ketika lilin yang dinyalakannya terbakar habis.

Sepasang mata yang menyediakan tempat berteduh di sela-sela hujan.

Sepasang mata yang seperti bola dunia beserta segala rahasia yang ditanamkan Tuhan di dalamnya.

Sepasang mata yang tidak sanggup kuabaikan, barangkali, selamanya.

Sepasang mata itu, saat ini sedang kurindukan. Teramat sangat.

Jumat, 09 Juni 2017

What A Best Thing that You Should Do at Least Once in a Lifetime?

Good morning, Everyone! This is my first note that I wrote in English and I don't know is it better enough to be posted or not. But I think that by writing my notes in English will help my note to be read by everyone around the world (?) or maybe it could help me to improve my writing skill.

So, Guys, It's still early morning and I've sat down near the window with a laptop in front of me. Ready to write something that I wish for I could do at least once in my lifetime.

Some people talked about what's crazy thing that you should do in your teenage moments. Sometimes the things are some cliche things like have a crush, a first kiss, hit your Daddy's car into the tree, or lie to your Mom to get more pocket money. Well, that's not the best things that you should do at least once in a lifetime. That things maybe you HAVE DONE in many times in your life.

So, today I will make some lists about something that I should do at least once in a lifetime. Those best things are:

1. Have My Own Library
I love books. Well, not all the kind of books but I love to read to escape from my real world. If I read a fantasy book it bursts my imagination into the high level like I could really know what's the author tell into the story. I love to meet a dragon and a warrior and see him fighting for a Princess in the castle. I like to see a fantasy world inside my head with its fantasy creatures. My friend once told me that he really don't understand why I love fantasy books and said that I'm a genius person. So, I asked him back because I'm not sure the reason why he said that I'm genius? I don't read some kind of intelectual book like what he did (He loves philosophy books too much and I think he's the smartest guy in my college department). My friend answered my question by saying "Well, imagination is the highest intelectual like what Albert Einstein ever said." And then he said to me that it's hard for him to read a thick fantasy book. Well, all those opinions about a smart person based on the book that he read is a subjective point of view, I guess.

2. Step My Foot To a Place in Every Islands of Indonesia
I ever wonder how and when I could start to make a trip around Indonesia, my own country. It's the biggest archipelago state in the world and as its citizens is a big dream for me to visit Sumatra, Borneo, Sulawesi, Maluku, Papua, and all! The other reason to visit those Islands is to make a direct-contact with those different cultures, to meet the people, to learn new things, and to be more respect with the difference around me.

3. Enjoy the Sunrise in Merauke and the Sunset in Sabang
For me, sunrise is a magical moment in the morning. It shows me a new hope with a new journey that I should make. I like to spend so much time in the morning to enjoy sunshine everytime I opened my window. It's so warm and remind me about my dreams. I don't know how could a sunshine reminds me about my dreams but it does. Sunset for me is a sign to be thankful about what have I got in a whole day. I thank for healthiness, for laugh, and for surround by people who love me. To be thankful is a sign for me to always believe in God for every mercy that He gave to me.

4. Visit Village and Tulip Garden of Holland
If I have a chance to visit Europe I would choose Holland to be the country that I'll visit first. I don't know how my first chance come but I always tell myself to believe that the chance will come unpredictable. I ever asked myself, "Why Holland?". And as long as I could remember I want to visit Holland because we have a related history. I want to know the history behind a country which ever made a colonization in my own country many years ago. The places that I want to visit the most is Giethoorn and Keukenhof. Giethoorn is a village in Holland with no cars. People only allowed to use bicycle or boat or walking to visit another place. And Keukenhof is the the place where you can find tulips everywhere-So many tulips if you visit that place on April! I can imagine that those places must be the most beautiful place that I will visit oneday.

5. Find A Man who Makes My-Best-Things Come True
I think it won't fun if I do my best things in the best place alone. I need another person to accompany me and there's no special person but a man who will make my-best-things in mylife come true. And to find a man like that should be the once in my lifetime. No other. There's no amazing moment except visit new place, do crazy things, make some road trips with the one you love the most.

Well, there are five best things that I, or maybe you guys, should do at least once in a lifetime. Those lists are more like goals and that my goals which I should fighting for. If I reread my lists I guess the last list should be the first list. But it's okay if I'll do my four lists above by myself. The last one will follow, oneday. I hope so. Hahahaha.

Alright, Guys. This is the end of my note today. Sorry if I haven't writing well because it's my first time to write in English. I'll make another note in English again, someday. Thank you for reading my note and I hope your best things will come soon. See ya!

Sabtu, 06 Mei 2017

Bahasa Petjuk: Bahasa Belanda khas Masyarakat Pribumi Indonesia pada Masa Kolonial


PENDAHULUAN   
Belanda adalah salah satu negara di sebuah benua Eropa yang juga dikenal dengan sebutan Netherland atau Holland. Negara penghasil susu dan keju ini memiliki ibukota di Amsterdam dan uniknya merupakan sebuah negara yang memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut, sehingga Belanda perlu melakukan beberapa pengerukan untuk meninggikan tanahnya agar tidak sering terkena banjir. Negara yang juga menganut sistem pemerintahan Demokrasi Parlementer ini secara geografis berbatasan dengan Belgia di selatan, Laut Utara di utara dan barat, dan juga berbatasan laut dengan Jerman serta Inggris.

Dalam kaidah antropologi, bahasa merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal yang terdiri dari kesenian, religi, mata pencaharian, bahasa, teknologi, ilmu pengetahuan, dan organisasi sosial (Koentjaraningrat, 2009:164). Dikutip dari Republika.co.id (Puspaningtyas dan Nursalikah, 2016), diketahui bahwa di dunia ini terdapat kurang lebih 7.000 bahasa yang digunakan hampir oleh tujuh milyar orang yang berakar dari beberapa rumpun bahasa. Belum ada yang tahu pasti induk bahasa utama dari seluruh bahasa di dunia, namun terdapat beberapa rumpun bahasa yang menurunkan beberapa bahasa-bahasa yang hingga kini masih digunakan. Misalnya saja Austronesia, Indo-Eropa, Dravida, dan sebagainya.

Rumpun bahasa Indo-Eropa merupakan salah satu rumpun bahasa yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia khususnya di daratan Eropa. Rumpun bahasa ini kemudian menurunkan beberapa bahasa salah satunya adalah Bahasa Belanda. Kemudian dalam pelayaran-pelayaran yang dilakukan oleh para pedagang Belanda untuk memperoleh rempah-rempah, bahasa ini ikut terbawa hingga ke kepulauan Hindia Belanda.

Pada masa kolonialisme, penggunaan bahasa Belanda mulai meluas bahkan hingga ke kalangan pribumi. Adanya dominasi dari orang-orang Belanda dalam mendirikan kekuasaan di Hindia Belanda mendorong masyarakat pribumi mau tidak mau untuk turut memahami penggunaan Bahasa Belanda. Pada masyarakat pribumi, golongan pertama yang mampu memahami bahkan menggunakan bahasa Belanda adalah golongan para bangsawan. Hal ini dikarenakan golongan bangsawan merupakan golongan yang lebih sering berinteraksi dengan orang-orang Belanda dibandingkan dengan golongan dari kelas menengah ke bawah. Kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa Belanda juga turut didorong dengan adanya pendidikan formal (sekolah) yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Penggunaan bahasa Belanda pada masa kolonial di Indonesia kemudian turut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pribumi sekaligus dengan gaya hidup mereka. Dalam kehidupan sosial, bahasa Belanda juga turut digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahasa pengantar di sekolah, bahkan bahasa ini mulai dipahami oleh kalangan bawah.

Kini jumlah masyarakat Indonesia yang memahami bahasa Belanda dan menggunakannya secara fasih mulai berkurang. Tidak seperti pada masa kolonial atau pergerakan dimana hampir seluruh tokoh intelektual dan beberapa masyarakat pribumi mampu menguasai bahasa ini secara fasih untuk melakukan diplomasi atau berhubungan dengan orang-orang Belanda. 
PEMBAHASAN
Sejarah, Perkembangan, dan Struktur Bahasa Belanda
Telah disebutkan sebelumnya bahwa di dunia ini terdapat beberapa rumpun bahasa yang kemudian menurunkan beberapa cabang bahasa dan dialek yang digunakan oleh seluruh manusia di dunia. Beberapa di antaranya adalah rumpun bahasa terbesar, salah satunya yaitu rumpun bahasa Indo-Eropa yang digunakan di hampir seluruh pelosok dunia, khususnya di benua Eropa. 


Sumber: Wikipedia, 2016.
Gambar 2.1.1. Peta Persebaran Rumpun Bahasa Indo-Eropa (area yang berwarna hijau tosca)

Sama seperti sebuah pohon silsilah dalam suatu keluarga, rumpun bahasa Indo-Eropa kemudian menurunkan beberapa anak bahasa dan dialek, dimana salah satu di antaranya adalah bahasa Belanda (Lihat bagan 2.1.1). Rumpun bahasa Indo-Eropa sendiri menurunkan beberapa cabang bahasa. Berikut ini adalah cabang bahasa dari Indo-Eropa yang tersebar di beberapa wilayah berdasarkan penemuan teks-teks dalam bahasa tersebut menurut Beekes (2011:17-30), Indo-Iranian yang digunakan oleh mayoritas ras Arya; Tocharian (China); Armenian (Yunani); bahasa-bahasa Anatolian seperti Hitite, Palaic, dan Luwic; Greek (Yunani), Illyrian (Kosovo, Makedonia sebelah barat, Italia sebelah selatan); Venetic (Italia); Italic; Celtic (Eropa sebelah tengah); Lucitanian (Portugal dan Spanyol sebelah barat); Germanic (Norwegia dan Swedia sebelah selatan, Denmark, pesisir Jerman).


Bagan 2.1.1. Penurunan Bahasa Belanda dari Rumpun Bahasa Indo-Eropa
 
Berdasarkan bagan tersebut diketahui bahwa bahasa Belanda berkerabat dengan bahasa Jerman. Itulah sebabnya pengucapan dan struktur kedua bahasa ini memiliki kemiripan. Biasanya pengucapan kata dalam kedua bahasa ini bisa sama, tetapi penulisannya berbeda, misalnya ‘kursi’ dalam bahasa Belanda disebut stoel dan dalam bahasa Jerman disebut stool, ‘buku’ dalam bahasa Belanda disebut boek dan dalam bahasa Jerman disebut book, atau ‘minum’ dalam bahasa Belanda disebut drinken dan dalam bahasa Jerman disebut trinken. Pada perkembangannya di masa kini, bahasa Belanda kemudian digunakan sebagai kata serapan dalam bahasa Indonesia yang masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Ada banyak sekali kata serapan dalam bahasa Belanda. Menurut kamus praktis Belanda-Indonesia karya Albert van Honthorst dan Windy Novia beberapa kata serapan di antaranya adalah pilot, ambulance, antenne, kraan, kraag, boontjes, dansen, zadel, schakelaar, soup, doker, oom, strijken, saucijs, netjes, gang, stopfles, gordijn, zuster, tante, dan masih banyak lagi.

Menurut Chapman (1992:14), Indo-Eropa lebih umum disebut dengan Indo-Germanic dalam studi yang dilakukan di Jerman. Teori mengenai Indo-Eropa atau Indo-Germanic juga menyatakan bahwa rumpun bahasa ini adalah nenek moyang dari hampir seluruh bahasa modern saat ini. Hampir sama dengan pendapat Beekse, Champ kemudian membagi rumpun bahasa Indo-Germanic menjadi nenek moyang kelompok bahasa yang lebih modern seperti Common Germanic, Common Slavonic, Common Celtic, Common Italic, Common Hellenic, Common Indo-Iranian, dan sebagainya. Cabang bahasa-bahasa ini kemudian menurunkan bahasa-bahasa yang dikenal saat ini, misalnya cabang bahasa Common Germanic menghasilkan bahasa Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, dan Inggris. Berikut ini adalah bagan penurunan bahasa Belanda dari rumpun bahasa Indo-Eropa menurut Chapman:


Bagan 2.1.2. Cabang-cabang Rumpun Bahasa Indo-Eropa atau Indo-Germanic Menurut Chapman

Sedangkan Willems, Dkk. (2016:8), memiliki versi lain dari percabangan bahasa Proto-Germanic hingga ke bahasa Belanda. Salah satu hasil dalam jurnal penelitiannya disebutan bahwa cabang bahasa Proto-Germanic memiliki dua dialek yaitu West Germanic dan Old Norse. Pada dialek jenis West Germanic muncullah beberapa dialek bahasa salah satunya adalah dialek bahasa Belanda mengikuti dialek bahasa yang lain seperti dialek Inggris, Sranan (di wilayah Suriname), Penn Dutch (Pennsylvanian Deutsch), Jerman, Frisian (di wilayah Belanda, Jerman, Denmark), Flemish (di wilayah Belgia), dan Afrikaans (di wilayah Afrika Selatan, Namibia, Botswana, dan Zimbabwe).

Tentunya bahasa Belanda yang digunakan pada masa kini berbeda dengan masa lampau. Pada abad ke-5, perkembangan bahasa Belanda baru pada tahap Old Dutch (bahasa Belanda lama). Bahasa Belanda lama ini dituturkan oleh penduduk yang menempati daerah di Belanda bagian selatan, Belgia bagian utara, Prancis bagian utara, hulu Sungai Rhine, dan Westphalian di wilayah Jerman. Penduduk Belanda bagian timur seperti Achterhoek, Overijssel, dan Drenthe menggunakan bahasa Saxon Lama yang juga memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Belanda Lama (Wikipedia, 2016).
 
Pada perkembangannya, di abad ke-9 bahasa Belanda lama (Old Dutch) berubah menjadi bahasa Belanda pertengahan (Middle Dutch) sebelum kemudian menjadi bahasa Belanda yang digunakan hingga kini. Perbedaan tersebut terletak pada penggunaan huruf vokal yang berada di akhir suku kata (Lihat tabel 2.1.1.).

Tabel 2.1.1. Perbedaan Bahasa Belanda Lama dan Bahasa Belanda Pertengahan

Perbedaan lain yang menunjukkan adanya evolusi dalam bahasa Belanda diambil dari kitab Mazmur Wachtendonck 55:18. Dalam ayat ini bahasa Belanda Lama memiliki campuran dengan bahasa Latin (Lihat tabel 2.1.2.).
 

Tabel 2.1.2. Evolusi Bahasa Belanda
Dalam suatu bahasa, biasanya terdapat dialek. Namun perlu dipahami bahwa bahasa dan dialek adalah dua hal yang berbeda tetapi saling memengaruhi. Adanya suatu perbedaan dialek dalam sebuah bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu letak geografis dan wilayah kelompok penuturnya, sehingga ada dua jenis dialek yaitu dialek geografis dan dialek regional.

Tidak menutup kemungkinan bahwa percakapan dengan bahasa yang dituturkan oleh dua orang berdialek berbeda masih bisa saling dimengerti. Hal ini disebabkan karena dialek merupakan bagian dari bahasa kemudian muncul pemahaman bahwa pemakai suatu dialek dapat mengerti dialek lain. Misalnya, penggunaan bahasa yang hampir sama dengan dialek berbeda antara Belanda dan Jerman. Masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Belanda-Jerman terbiasa menjalin hubungan dengan masyarakat yang berbeda suku bangsa. Ketika seorang suku bangsa Jerman menggunakan bahasa Jerman dalam berkomunikasi dengan suku bangsa Belanda, suku bangsa Belanda tersebut dapat mengerti apa yang diucapkan dan membalasnya dengan bahasa ibu mereka. Begitupun sebaliknya (Sumarsono, 2014: 21 dan 23).

Heeringa dan Nerbonne dari Groningen University menggunakan dua puluh tujuh dialek atau perbedaan pengucapan suatu kata di dua puluh tujuh area berbeda di Belanda dalam risetnya. Data yang digunakan kedua tokoh ini untuk membandingkan dialek adalah Reeks Nederlands(ch)e Dialectatlasen (RND) oleh Blancquaert dan Peé (1925-1982). Jika dua puluh tujuh daerah di Belanda dengan dialek yang berbeda disebutkan dari ujung utara hingga ke selatan Belanda, maka dialek-dialek yang berbeda tersebut terletak di Scheema, Veendam, Eext, Beilen, Ruinen, Koekange, Staphorst, Hasselt, Zalk, Oldebroek, Nunspeet, Putten, Amersfoort, Driebergen, Vianen, Hardinxveld, Zevenbergen, Oudenbosch, Roosendaal, Ossendrecht, Clinge, Moerbeke, Lochristi, Nazareth, Waregem, Zwevegem, dan Bellegem (Heeringa dan Nerbonne, 2002:378). Berikut ini adalah peta persebaran dialek di dua puluh tujuh wilayah di Belanda,


Gambar 2.1.2. Titik Persebaran Dialek Bahasa Belanda di Belanda

Bahasa Petjuk sebagai Bahasa Belanda versi Masyarakat Pribumi Indonesia pada Masa Kolonial
Bahasa Belanda awalnya dibawa oleh para pedagang dari Belanda yang berlayar di kepulauan Indonesia untuk melakukan transaksi dengan penduduk pribumi. Para pedagang Belanda sudah mulai melakukan perdagangan sejak tahun 1595 di Banten dan Sunda Kelapa (Poesponegoro, Dkk., 2009:29), maka dapat dipastikan pula bahwa pada tahun tersebut para pedagang Belanda telah melakukan interaksi dengan penduduk pribumi khususnya tokoh masyarakatnya.

Penggunaan bahasa Belanda di kalangan pribumi meluas ketika dibukanya sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar dalam melakukan kegiatan belajar. Pendidikan di Indonesia sudah dibuka sejak abad ke-18 dimana pada abad tersebut kegiatan pendidikan baru bersifat individu atau perseorangan. Pada abad ke-19 sistem pendidikan diubah menjadi klasikal atau berkelompok. Namun, pendidikan menggunakan bahasa Belanda baru dimulai di abad ke-20 setelah ditetapkannya politik etis (Agung dan Suparman, 2012:22).

Politik etis adalah  salah satu upaya untuk menyejahterakan rakyat Indonesia sebagai salah satu bentuk kritik terhadap perlakuan pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia secara semena-mena dan merugikan rakyat Indonesia baik secara ekonomi maupun sosial. Politik ini bertujuan untuk mengadakan desentralisasi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat salah satunya melalui pendidikan (Poesponegoro, Dkk., 2009:22).

Pendidikan yang dikembangkan di Indonesia berjenjang. Namun, hanya anak-anak dari golongan bangsawan saja yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Anak-anak dari golongan bangsawan memiliki hak istimewa untuk bersekolah di Sekolah Belanda untuk kemudian dapat melanjutkannya ke Sekolah Dokter Java atau Sekolah Pamong Praja. Tentunya, dalam jenis sekolah semacam itu bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda.

Meluasnya penggunaan bahasa Belanda ke kalangan masyarakat yang lebih rendah muncul ketika masyarakat tersebut meminta untuk diberikan kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama. Oleh sebab itu, pemerintah kolonial menerapkan rencana untuk memasukkan bahasa Belanda dalam pembelajaran di Sekolah Kelas 1 untuk masyarakat dari golongan bawah pada tahun 1907. Pelajaran bahasa Belanda diberikan kepada siswa di kelas III hingga kelas VI oleh seorang guru dari bangsa Belanda (Agung dan Suparman, 2012:24).

Pada interaksi sosial antara kaum-kaum remaja yang mengenyam pendidikan Belanda, mereka lebih terbiasa terbuka dan menggunakan bahasa Belanda dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan bahasa daerah dianggap tidak relevan dalam kegiatan-kegiatan formal seperti dalam forum pembelajaran. Bahkan penggunaan bahasa Belanda pun juga dilakukan pada kegiatan-kegiatan informal sebagai lambang intelektualitas mereka (Soekiman, 2011:37).

Pendidikan penggunaan bahasa Belanda kemudian meluas pada kehidupan sosial masyarakat pribumi. Bahkan untuk golongan masyarakat yang bekerja sebagai seorang pelayan atau pesuruh dengan seorang Belanda sebagai majikan mereka, mereka pun pada akhirnya memahami penggunaan bahasa Belanda. Meski secara dialek atau pengucapan, bahasa Belanda yang dituturkan oleh mereka tidak sama persis dengan dialek atau pengucapan orang Belanda asli. Penggunaan bahasa Belanda di kalangan pribumi mencapai 5.000 orang dan 75% di antaranya merupakan orang Jawa. Suratno (2013:29 dan 102) mengatakan,
Orientasi pribumi terhadap bahasa Belanda dapat dibedakan dalam beberapa kategori. Pertama, dilihat dari wujud bahasa Belanda, pribumi (a) meniru dengan menggunakan kosa kata bahasa Belanda secara utuh, termasuk peniruan bahasa yang tidak sempurna, dan (b) melakukan penyesuaian dengan sistem bahasa Jawa. Kedua, dilihat dari corak pemakaian bahasa Belanda oleh pribumi, penggunaan bahasa Belanda pada orang Jawa dapat dibedakan atas (a) pemakaian kosa kata yang bersifat praktis (lazim) oleh pribumi pengajaran atau priyayi modern, (b) pemakaian kata sapaan Belanda, (c) pemakaian bahasa Belanda dalam komunikasi keseharian, dan (d) pemakaian bahasa Belanda dalam komunikasi tidak langsung.

Dalam melakukan percakapan sehari-hari antara masyarakat pribumi pun terkadang juga menggunakan bahasa Belanda yang sudah bercampur dengan bahasa lokal. Soekiman (2011:22-24) menyebutkan bahwa sejak akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 sudah ada pembauran antara bahasa Melayu dengan bahasa Belanda. Pembauran bahasa ini dimulai dari bahasa yang digunakan oleh keluarga dari golongan pegawai-pegawai pemerintah Belanda dalam komunikasi sehari-hari kemudian turut digunakan pula oleh golongan masyarakat Indo-Belanda. Awalnya, bahasa ini berkembang di Batavia kemudian menyebar hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Proses pembauran ini kemudian memunculkan istilah bahasa Pijin atau bahasa campuran yang biasanya digunakan oleh orang-orang Belanda yang memiliki ibu dari suku Jawa, atau orang-orang turunan China, dan Timur Asing.

Percampuran bahasa di  Jawa disebut dengan bahasa Pecuk (Petjoek) yang umum digunakan di daerah Semarang dan sekitarnya sebelum masa Perang Dunia II. Namun, terdapat perbedaan penggunaan bahasa Pecuk di daerah-daerah di pulau Jawa. Misalnya, di Batavia penggunaan bahasa Pecuk mengandung unsur bahasa Melayu dan Cina, di Bandung mengandung unsur bahasa Sunda, di Surabaya mengandung unsur bahasa Jawa dan Madura.

Bahasa Pecuk umumnya digunakan oleh golongan dari kelas bawah atau golongan masyarakat berdarah campuran Indo-Belanda atau bahkan oleh masyarakat Belanda yang terbuang dari golongannya. Meski bahasa ini terkenal sebagai bahasa untuk kaum kelas bawah, bahasa ini juga populer di kalangan kaum kelas atas. Namun, ada larangan keras bagi golongan kelas atas untuk menggunakan bahasa Pecuk dalam komunikasi di dalam rumah karena dianggap tidak sopan atau hina. Ketidaksesuaian penggunaan bahasa Pecuk di lingkungan keluarga golongan atas didasarkan pada sebuah anggapan bahwa bahasa Pecuk adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat dari kulit berwarna dimana masyarakat tersebut dalam stratifikasi sosialnya berada di kalangan lebih rendah dari golongan masyarakat kulit putih (Eropa). Berikut ini adalah contoh percakapan dalam bahasa Pecuk yang dikutip dari Het Javindo, De Verboden Taal karya De Gruiter (dalam Soekiman, 2011:25).


KESIMPULAN
            Bahasa Belanda adalah salah satu anak bahasa yang berasal dari salah satu induk bahasa yang terbesar di dunia yaitu Indo-Eropa yang tersebar di hampir seluruh benua Eropa. Sebagai anak bahasa yang serumpun dengan bahasa yang lain seperti bahasa Jerman dan bahasa Inggris, bahasa Belanda memiliki kemiripan karakter dengan keduanya khususnya bahasa Jerman. Di beberapa daerah di Belanda, bahasa Belanda pun memiliki dialek-dialek yang berbeda. Tidak hanya itu, dalam sejarahnya bahasa Belanda mengalami beberapa perkembangan antara lain Old Dutch, Middle Dutch, dan Dutch yang digunakan pada masa kini. Perkembangan selanjutnya di Indonesia adalah penggunaan kata serapan bahasa Belanda yang begitu banyak dan masih digunakan dalam percakapan sehari-hari di Indonesia. Pada masa penjelajahan samudera untuk mendapatkan rempah-rempah, bangsa-bangsa Belanda kemudian berlayar hingga ke kepulauan Nusantara. Mereka membawa serta pengaruh bahasa mereka yang kemudian diajarkan secara luas kepada golongan bangsawan di bangku pendidika. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kaum pribumi dari kalangan bawah pun dapat berbahasa Belanda, hanya saja diucapkan sesuai pelafalan bahasa daerah. Percampuran bahasa Belanda dan bahasa daerah, khususnya Jawa, kemudian disebut sebagai Bahasa Petjuk. Pengaruh bahasa Belanda dalam kehidupan sosial masyarakat pribumi pada masa kolonial pun cukup besar.

DAFTAR RUJUKAN
Agung, Leo. Suparman. 2012. Sejarah Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Beekes, Robert, S. P. 2011. Comparative Indo-European Lingusitic An Introduction. Amsterdam: John Benjamin Publishing Company.
Chapman, Malcolm. 1992. The Celts: The Construction of a Myth. Great Brittain: The Macmillan Press LTD. Dari LinkSpringer, (Online) http://link.springer.com/chapter/10.1057/9780230378650_2#page-1, diakses pada 20 September 2016.
Heeringa, Wilbert. Nerbonne, John. 2002. Dialect Areas and Dialect Continua. Cambridge University Press, (Online), 13(2001): 375-400 (http://search.proquest.com/results/588F53A04BD74ADFPQ/1?accountid=38628) diakses pada 25 September 2016.
Honthorst, Albert van. Novia, Windy. 2010. Kamus Praktis Belanda-Indonesia Indonesia-Belanda. Surabaya: Kashiko Publisher.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Poesponegoro, Marwati Djoened. Dkk., 2009. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.
___________. 2009. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
Puspaningtyas, Lida. Nursalikah, Ani. 2015. Terpetakan! Jumlah Populasi Bahasa di Seluruh Dunia, Dimana Posisi Indonesia? (Online) http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/12/29/o02mbk366-terpetakan-jumlah-bahasa-di-seluruh-dunia-dimana-posisi-indonesia diakses pada 20 September 2016.
Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis. Jakarta: Komunitas Bambu.
Sumarsono. 2014. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Suratno, Pardi. 2013. Masyarakat Jawa & Budaya Barat: Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial. Yogyakarta: Penerbit Adi Wacana.
Wikipedia. 2016. Rumpun Bahasa, (Online) https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:IndoEuropeanTree.svg diakses pada 20 September 2016.
_________. 2016. Old Dutch, (Online) https://en.wikipedia.org/wiki/Old_Dutch#Relation_to_Middle_Dutch diakses pada 20 September 2016.
Willems, Matthieu., Dkk., 2016. Using Hybridization Networks to Refrace the Evolution of Indo-European Languages. BMC Evolutionary Biology. Dari Bookmetrix, (Online) http://www.bookmetrix.com/detail/chapter/3e5226bc-686e-4b0e-81c9-1ff165e49ada#citations, diakses pada 20 September 2016.